Berita

 Network

 Partner

Singapura Bersiap Memulai Hidup ‘Normal’, Pandemi Selesai?
Area tempat duduk di tempat makan ditutup untuk membatasi aktivitas warga Singapura pada 23 Juli 2021. Foto: Reuters/Caroline Chia.

Singapura Bersiap Memulai Hidup ‘Normal’, Pandemi Selesai?

Berita Baru, Singapura – Singapura bersiap memulai kembali kehidupan bisnisnya dan meletakkan sendi-sendi untuk hidup ‘bergandengan’ dengan COVID-19 seperti halnya penyakit umum lainnya sebagaimana penyakit flu.

Selama pandemi, Singapura hanya mencatat beberapa lusin kematian dan merupakan negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi dunia.

Pakar medis Singapura mengatakan penduduknya mungkin melihat ratusan kematian setiap tahun akibat pandemi COVID-19 endemik, mirip dengan flu.

Pendekatan pragmatis itu dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain yang ingin keluar dari aturan karantina wilayah saat mereka meningkatkan program inokulasi mereka sendiri.

“Satu-satunya cara agar tidak ada kematian akibat penyakit di mana pun di dunia adalah dengan menghilangkan penyakit itu sama sekali dan itu hanya dilakukan untuk cacar,” kata Paul Tambyah, presiden Asia Pacific Society of Clinical Microbiology and Infection, dilansir dari Reuters.

Secara total sejak pandemi dimulai pada awal Januari 2020, Singapura hanya mencatat 44 kematian dari populasi sekitar 5,7 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan flu, sekitar 800 kematian akibat flu pada tahun biasa, menurut Paul Tambyah.

Berita Terkait :  Twitter Hapus Ribuan Akun Terkait Operasi Informasi Negara Asing

“Walaupun gagasan tentang ratusan kematian akibat COVID tampaknya lebih mengejutkan dibandingkan dengan julah kematian sejauh ini dan layak dilakukan upaya pencegahan, itu setara dengan influenza, yang hampir tidak lagi dipedulikan masyarakat,” kata Alex Cook, pakar pemodelan penyakit menular di National Universitas Singapura (NUS).

Alex Cook juga menyebutkan sebanyak 1.000 mungkin meninggal dalam satu atau dua tahun ke depan di Singapura jika vaksinasi di kalangan orang tua tidak membaik.

Para ahli memperkirakan bahwa sebagian besar kematian akan terjadi di antara mereka yang berada dalam kelompok usia tua, yang tetap enggan divaksinasi meskipun memenuhi syarat.

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengatakan bulan ini bahwa ketika ekonomi terbuka, warga Singapura harus “siap secara psikologis bahwa jumlah kematian akibat COVID-19 kemungkinan juga akan naik.”

Berita Terkait :  Presiden Maduro: Enyahlah, Uni Eropa! Jangan Campuri Urusan Dalam Negeri Kami!

Tiga perempat populasi Singapura sepenuhnya diinokulasi terhadap COVID-19, dan akan melonggarkan lebih banyak pembatasan pada bulan September ketika tingkat vaksinasi mencapai 80%.

Pada 16 Agustus, 80% dari mereka yang berusia 70 tahun ke atas telah divaksinasi lengkap, dan yang berusia 60-69 tahun mencapai 88%.

Dalam 2 minggu terakhir, Singapura melaporkan enam kematian COVID-19 dan mereka tercata tidak ada yang divaksinasi.

Hasil awal dari model matematika menunjukkan bahwa perkiraan jumlah kematian dari manula berusia 60 tahun ke atas akan menjadi sekitar 480 pada tahun 2022, kata Teo Yik Ying, dekan Saw Swee Hock School of Public Health di NUS.

Negara-negara lain yang memiliki keberhasilan awal dengan virus, seperti Australia, juga mengubah strategi mereka untuk bersiap menghadapi lebih banyak kematian akibat COVID-19 di era di mana penyakit ini tetap ada.

Berita Terkait :  Pemerintah Pastikan PON XX Digelar di Zona Aman COVID-19

Tetapi sebagai salah satu negara yang paling banyak divaksinasi di dunia, Singapura mungkin yang pertama menunjukkan apa artinya itu.

“Jika negara-negara mulai bergerak ke arah strategi endemik COVID-19, harapannya adalah akan ada lebih banyak kematian terkait, meskipun masih belum jelas berapa banyak dari ini akan menjadi kematian berlebih dan berapa banyak yang akan terjadi terlepas dari COVID-19,” ucap Teo.