Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Simetri | Puisi-Puisi Faris Al Faisal
Ilustrasi: Irfan Hasra

Simetri | Puisi-Puisi Faris Al Faisal

Simetri         

kita akan menyebutnya simetri
belahan jiwa
dalam lipatan sederhana
menyembunyikan rahasia — kerinduan besar
waktu yang miring ke sisi, bersandar
pada bahu kekasih
tangannya memainkan tuts piano
merambat seluruh perhatian
menjaga tangga nada
bagaimana menghangatkan pertemuan
menciptakan keserasian
dari bisik, dari senandung, dari ucapan, dari rancangan
seperti matahari lemon membuka pagi
memetik tangkai hari
air perasan, manis gula, dan gelas kaca
bayangan berdiri
di atas daun-daun teh
melemparkan wangi yang menusuk
di sana karakter hidup
seterusnya menjadi anasir
dan pikiran lainnya
apakah masih terus bertahan?
memeluk bukit
mencium gurun
mendekap laut
semua bagian meminta bukti
keluhuran budi
demi nalar
tanggung jawab
memikul kepercayaan
dari jaring yang dilemparkan mata
pada setiap kali memandang
inilah cinta

Indramayu, 2021

Pengabdian  

memutuskan untuk hidup bersama
itu kutahu—
tidak mudah, sejak awalnya demikian
: riuh, gemuruh, seluruh
pikiran menempuh perjalanan jauh
bayangan pohon di sungai berbalik menjadi mirat
sebuah kebimbangan besar
muncul di atas permukaan bergelombang
ditambahkan arus yang datang tiba-tiba
menginginkan batang tubuhku
bergoyang ditiup angin
begitu intens
menyerbu bercampur debu
hanya malam panjang
memutar film drama
berlarut-larut
mendengarkan keheningan
sampai ke puncaknya
ini katamu: pengabdian
mediummu, menyukariakan jiwa
respons kecintaan
menghendaki kebersamaan
sekaligus intisari
bagaimana aku pun menginginkanmu
bukan bumi yang kering
dari (k)asih
dari benih
dan tak berbuah

Indramayu, 2021

Kekacauan  

semua menjadi kekacauan/musnah sudah
setelah matahari pagi lewat
menempuh angka 8
alarm menepuk-nepuk pantatku
kupotong irama dengkur—mengukur panjang ranjang
intimidasi kurasakan
bagaimana mungkin aku salah mengaturnya?
berkali-kali aku gagal memahaminya
mandi, salat, ngopi, sarapan 
entah mana dulu
belum lagi menjelaskan pada bosku
jam kerja yang terlambat
yang ternyata, bagiku
tentu bukan soal mudah
mungkin kasusku akan bertambah
menghadap ke suatu lembah
menjadi hitam:
subjekku dan klausaku
tergantung di dinding pabrik
dan tatap muka yang kuprediksi
seperti kawat diputar
menarik udara yang berat
atau absenku
menjadi lebih baik
melupakan hal terburuk
meski tak seluruhnya
saat ini aku telah rapi
peristiwa tadi mengantarku ke persimpangan
berjalan dalam kebodohan
bukankah mengatakan hal sebenarnya
itu jauh lebih baik?
aku telah bicara
aku merasa tenang sekarang  

Indramayu, 2021

Mediumku 

di dalam mimpi-mimpiku yang menjadi mediumku
aku melihatmu:
memasuki dunia yang baru, surga baru
itu hal yang sangat luar biasa
roh yang melayang dan terbang
jiwa bersekutu dengan waktu
mengajakku bicara
seperti burung hendak merangkai sarang
selesai musim kawin tiba
membalas dendamku untuk memelukmu
aku tahu
pekuburan telah sunyi
bebunga keriput
hilang bau tanah merah
keinginan untuk menggali kenangan
mengingat suatu masa
membawamu serta
peristiwa meluncur ke arah cermin
bayangan itu seakan nyata
raut wajahmu
garis yang tampak lembut
tenang dan abadi
di sekitaran bebatu biru tua
air telaga yang biru muda
saat itu tengah berlangsung perjumpaan
sekali
dan pernah berulang kali
namun aku lebih menyukai realitas
keadaan, kesunyian, kegelapan
dengan takdirku
dengan keharusanku

Indramayu, 2021

Kegelapan    

agar kegelapan ini berakhir
harus ada upaya untuk menemukan korek api
membakar sumbu dan sebatang lilin
di luar kengerian masih berlangsung
jalan-jalan meriah
sorot lampu mobil dan motor
bunyi klakson
jembatan yang dingin
terjuntai kaki merasakan gurun
haruskah kecemasan mengubah warna malam
perlu bulan kedua
di langit yang hidup dari tangan-tangan
menerobos kabut, asap, nebula
bumi pada pandangan yang lebih terang
banjir cahaya
pernak-pernik yang wajar
pemenuhan kebutuhan
bersemangat
meski instalasi padam
apapun bentuknya
keadaan yang menghendaki inovasi
di muka
menemukan komposisi hidup
yang tak boleh redup
sebelum menutup katup

Indramayu, 2021


Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021). Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika dan mendapat Piala bergilir Anugerah RD. Dewi Sartika, Bandung (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018). Email [email protected], Facebook www.facebook.com/faris.alfaisal.3, Twitter @lfaisal_faris,  IG @ffarisalffaisal.