Berita

 Network

 Partner

Sikap Orang Tua Terhadap Anak Yang Mengalami Bullying di Sekolah
Ilustrasi bullying di sekolah (Foto: Ist)

Sikap Orang Tua Terhadap Anak Yang Mengalami Bullying di Sekolah

Berita Baru, Tips – Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya mengalami bullying di sekolah. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan, seyogyanya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk mendapatkan pembinaan pengetahuan dan mental terbaik selain di rumah. Namun, nyatanya bullying di sekolah terus meningkat dari tahun ke tahun.

Bagaimana kita menangani perilaku bullying ini? Salah satunya adalah listening, yaitu mendengarkan setiap siswa/orang tua yang mengalami kejadian bullying di sekolah. Perhatikan baik-baik bila siswa tersebut mendapatkan perlakuan serangan dari temannya. Libatkan orang tua untuk mengupdate informasi seputar dinamika anak-anak sekolah dan libatkan pula school counselor, teacher, parents, and psychologist.

Kedua, Celebrate different yaitu, Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Setiap orang itu unik, maka sesamanya harus saling menghargai. Prinsip equal perlu ditanamkan bahwa setiap orang sama.

Berita Terkait :  Kiat Mengenal Calon Pemimpin

Ketiga, Include all yaitu adanya perasaan diterima, adanya kondisi menjadi bagian dari kelompok, aktiv terlibat dalam aktivitas kelompok, teman-teman mengharapkannya, mendapatkan pertolongan ketika membutuhkan.

Keempat, Report bullying atau kemampuan untuk melaporkan kejadian bullying menjadi penting. Sebab para penonton bullying seringkali ketakutan atau belum mengetahui betapa pentingnya melaporkan kejadian bullying kepada guru dan orangtua. Hal itu membuat anak menjadi tak peduli jika guru dan orangtua tidak mendengarkannya.

Selanjutnya, Believe atau percaya adalah kunci untuk membangun ekosistem sadar bullying. Ketika siswa bercerita kepada gurunya bahwa ia sedang mendapatkan perlakuan bullying dari temannya, dengarkan dan percayalah bahwa hal itu terjadi, Jangan memberi label bahwa ia berbohong. Percaya. Meskipun ada kebohongan tetapi percaya dulu, nanti akan mendapatkan kepercayaan dari siswa tersebut.

Berita Terkait :  Saatnya Pemuda Jadi Lokomotif Perubahan Bagi Desanya

Keenam, take action yaitu jika kamu melihat bullying atau kemungkinan terjadi bullying, jangan diam, take action! Bullying tetaplah bullying dimana pun berada, tidak hanya untuk di sekolah saja. Jangan menyampaikan bahwa kamu bisa menghadapi bullying ini, tapi berikan lah langkah yang pastinya. Pahamkan kepada para siswa bahwa perilaku bullying itu berbahaya.

Ketujuh, understand yaitu setiap siswa, guru, dan orang tua harus mengerti definisi bullying dan menganggap bahwa bullying adalah issu yang serius. Satukan persepsi bahwa bullying tidak bisa dianggap wajar.

Kedelapan, challenge atau menjaga lisan/kata-kata adalah tantangan terbesar dalam menangani dan mencegah bullying di sekolah. Tantangan terbesar adalah bagaimana guru mampu mendidik siswa dalam tata cara berkomunikasi.

Berita Terkait :  Sering Merasakan Toxic Parenting? Apa yang Bisa Dilakukan Sebagai Anak?

Kesembilan, respect adalah setiap stakeholder sekolah harus saling menghargai. Guru dan staff adalah role model bagi para siswanya. Memberikan rasa saling hormat akan menguatkan ekosistem sekolah yang kuat dalam menangani bullying.

Terakhir, budaya dan kebijakan yaitu kebijakan sekolah mengenai pencegahan dan penanganan bullying perlu diadakan untuk memberikan kesadaran dan keamanan sekolah pada ancaman bullying. Buat anak mau mengungkapkan pendapatnya jika berada pada posisi orang yang mengalami kesulitan.

Misalnya, dalam kasus bullying. Buat anak berpikir jika mereka ada di posisi korban bullying dan tanyakan apa yang mungkin mereka rasakan jika ada di posisi korban. Rasa empati terbangun tidak dalam waktu singkat. Empati perlu ditanamkan secara terus menerus dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.