Shaamela Cassiem, Advokasi Perempuan, dan Kebijakan Anggaran yang Politis

-

Berita Baru, Tokoh – Kita adalah apa yang kita suka, apa yang kita resahkan, dan segenap hati kita lakukan. Beginilah kiranya kalimat yang tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup seorang Shaamela Cassiem.

Seperti diakuinya sendiri dalam #Bercerita Beritabaru.co ke-51, perempuan yang pakar di bidang penganggaran tersebut memutuskan untuk terjun di bidang advokasi terhadap perempuan dan anak di Afrika Selatan—dalam bingkai kebijakan anggaran—karena ketertarikannya pada isu Hak Asasi Manusia (HAM).

Berpijak pada kedalaman serta keresahannya seputar HAM, Shaamela berhasil menemukan beberapa hal menarik di Afrika Selatan untuk diperjuangkan, yaitu pemerintah yang miskin perspektif gender di satu sisi dan para perempuan dengan potensi yang luar di sisi lainnya.

Pertama berkelindan dengan tantangan yang dihadapi dalam mengawal kebijakan anggaran. Menurut Shaamela, tantangan terbesar dari kerja-kerja advokasi terhadap perempuan dan anak agar anggaran berpihak pada mereka adalah pemerintah.

Untuk kasus budget policy, tegas Shaamela, pemerintah sangat ketat dalam hal keterbukaan. Mereka tidak memberikan akses informasi bujet pada siapa pun kecuali hanya sedikit. Ini pun dengan sajian bahasa yang susah dipahami.

Berita Terkait :  Sempat Jadi Vegetarian, Ras Muhamad Berhenti Gara-gara Domba Mesir
Berita Terkait :  Menjaga Kemurnian Desain lewat Empati

“Keterbukaan informasi semacam ini kan penting, bahkan mendasar untuk mengetahui sejauh mana para pihak yang rentan seperti perempuan dan anak sudah mendapatkan jatahnya. Akan tetapi, pemerintah malah tidak memberikan kemudahan. Jika ada akses, itu pun susah dipahami,” kata perempuan yang sudah 24 tahun berkecimpung di bidang budget policy ini.

Selain keterbukaan informasi, tantangan yang dihadapi Shaamela adalah partisipasi. Tidak kalah meresahkan dari yang pertama, kendala ini datang dari dua arah: pemerintah dan masyarakat sendiri.

Dari aras pemerintah, dalam setiap penganggaran, mereka jarang sekali melibatkan masyarakat atau pihak yang disasar, sehingga dalam budgeting apa yang dikerjakan pemerintah sama dengan membeli kucing di dalam karung.

Adapun dari aras masyarakat, masih sedikit dari mereka yang memiliki keberanian untuk mempertanyakan dan mencoba terlibat. “Dan pada titik inilah, kami berupaya untuk berdiskusi dengan teman-teman perempuan, termasuk anak-anak di bawah umur 18 tahun, agar mereka memiliki keberanian,” ungkap Shaamela dalam acara yang dipandu oleh Lukman Hakim dari The Reform Initiatives ini.

Berita Terkait :  Antara Ketegangan dan Kebetulan: Lekuk Hidup Jadul Maula

Keterlibatan perempuan dan anak dalam kebijakan anggaran di Afrika Selatan

Jika kegelisahan pertama berkaitan dengan tantangan, maka kegelisahan kedua dengan potensi. Berdasarkan penelitian sekaligus pengalaman Shaamela berdampingan dengan beberapa lingkaran perempuan, banyak perempuan di Afrika Selatan sudah memiliki kesadaran tentang posisi dirinya berhadapan dengan kebijakan anggaran.

Berita Terkait :  Wahyu Susilo, Pahlawan Pekerja Migran

Namun, lanjut Shaamela, mereka kerap bingung untuk memetakan kekuatan apa saja yang ada dalam dirinya, termasuk bagaimana cara menggunakannya. Akhirnya, di sini dibutuhkan semacam penyelaras sebagai teman diskusi mereka.

“Ya, di sinilah tugas kami, tugas beberapa LSM yang fokus di bidang kebijakan anggaran dan HAM, yaitu sebagai teman diskusi mereka dan menjembatani agar mereka bisa terlibat langsung dalam penganggaran pemerintah,” jelas perempuan yang suka berenang ini.

Adanya kolaborasi sedemikian itu penting. Pasalnya, hanya dengan begitu komitmen para perempuan di Afrika Selatan bisa tersalurkan di jalan yang tepat, yakni adanya partisipasi dari masyarakat sipil dalam penentuan anggaran.

Berita Terkait :  Melalui Ilustrasi dan Literasi, Lintang Pandu Pratiwi Mewarnai Indonesia

Hal serupa Shaamela melakukannya juga pada kalangan anak-anak di bawah umur 18 tahun. Pendekatan yang digunakan tentu beda, kata Shaamela. Untuk anak-anak, Shaamela lebih menekankan pada bagaimana agar mereka bisa berani untuk mengungkapkan apa yang dirasakan—untuk tidak menyebut diresahkan.

“Kerapnya, kami menggunakan metode begini, anak-anak diberi kesempatan untuk meresapi apa yang dirasakan dan dipelajari dan kemudian digiring untuk mengungkapnya. Dan itu kami lakukan setiap Jumat dengan durasi 3 jam secara daring,” ungkap Shaamela.

Berita Terkait :  Tarekat Suara ala Mustafa al-Daood

“Harapannya, baik perempuan atau pun anak-anak di Afrika Selatan mampu mengenali kekuatan yang ada dalam dirinya dan kemudian berani untuk mengungkapknya. Gol besarnya adalah supaya mereka bisa terlibat dalam kebijakan penganggaran pemerintah. Kenapa harus terlibat? Sebab kebijakan anggaran itu sangat politis. Jadi, kita semua harus bersama untuk mengawalnya,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU