Berita

 Network

 Partner

Seruan Pemberontakan Nasional: 20 Warga Sipil Tewas Melawan Militer Myanmar
(Foto: Stringer ./Reuters)

Seruan Pemberontakan Nasional: 20 Warga Sipil Tewas Melawan Militer Myanmar

Berita Baru, Internasional – 20 warga sipil Myanmar tewas dalam seruan pemberontakan nasional oleh Pemerintah Persatuan Nasional, sebuah organisasi oposisi yang mengoordinasikan perlawanan terhadap kekuasaan melawan militer.

Dilansir dari The Guardian, pertempuran memuncak pada Kamis (9/9), di dekat kotapraja Gangaw, di wilayah Magway barat laut,  dua hari setelah seruan pemberontakan.

Lebih dari 100 tentara tiba dengan empat kendaraan militer untuk mengamankan daerah Myin Thar dan lima desa terdekat lainnya, kata seorang penduduk kepada Associated Press melalui telepon.

Anggota milisi bela diri desa yang dilengkapi senjata ringan melepaskan tembakan peringatan, tetapi tidak dapat menghentikan tentara memasuki daerah itu dan bentrokan berlanjut setelahnya, kata seorang penduduk anonim.

Gerakan oposisi yang bangkit melawan militer sejak perebutan kekuasaan pada Februari pada awalnya damai, tetapi lambat laun memanas setelah pasukan keamanan menggunakan kekuatan mematikan untuk membubarkan protes.

Berita Terkait :  Tidak Memuaskan: Aktivis Pro Demokrasi Myanmar Kritik Hasil KTT ASEAN

Seruan Pemerintah Persatuan Nasional pada hari Selasa (7/9) untuk “perang defensif rakyat” mendapat antusias di media sosial, meski dampak sebenarnya di lapangan sulit diukur.

Media yang bersimpati kepada oposisi melaporkan adanya ledakan penembakan skala kecil dan sabotase oleh perlawanan, khususnya penggulingan menara transmisi ponsel.

Seruan perlawanan sebenarnya telah terjadi selama beberapa bulan, namun detailnya sulit diverifikasi secara independen. Sebanyak 15 hingga 20 warga sipil dilaporkan tewas sejak Juli.

Penduduk desa yang menceritakan pertempuran terbaru mengatakan setidaknya 11 anggota kelompok bela diri tewas. Foto-foto yang diidentifikasi sebagai mayat penduduk sipil beredar luas pada hari Jumat di internet.

“Kami hanya memiliki senjata buatan tangan dan senjata kunci perkusi,” kata penduduk desa. “Saat hujan, senjata menjadi tidak berguna. Ada banyak korban karena ketidakseimbangan senjata.” Pasukan pemerintah Myanmar dilengkapi dengan berbagai senjata modern dan memiliki akses dukungan udara dan artileri.

Berita Terkait :  Jenderal Min Aung Hlaing Hadiri ASEAN Leaders' Meeting di Jakarta.

Penduduk desa lain mengatakan bahwa sebagian besar anggota pasukan pertahanan desa adalah pemuda dan lima dari mereka yang tewas adalah siswa kelas 9 dan 10. Seorang guru sekolah menengah juga dikatakan telah terbunuh, kata penduduk desa.

Situasi tersebut membuat lebih dari 2.000 anggota keluarga melarikan diri ke hutan, tambahnya, sementara tentara berkemah di rumah-rumah yang ditinggalkan dan di biara Buddha setempat. Empat orang lagi dipastikan tewas setelah pertempuran pecah lagi pada Jumat pagi, katanya, dan sejumlah rumah dibakar.

Laporan oleh media independen menyebutkan jumlah korban tewas di antara penduduk desa mencapai 20 orang, bahkan lebih. Khit Thit Media, sebuah layanan berita online, mengatakan diberitahu oleh penduduk desa bahwa korban tewas termasuk tujuh non-pejuang selain militan.

Berita Terkait :  Soal Genosida Rohingya, Gambia Gugat Myanmar

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sebuah organisasi independen yang menyimpan penghitungan rinci korban terbunuh atau ditahan oleh pemerintah militer, ada 1.058 aktivis dan pengamat yang meninggal sejak pengambilalihan militer Februari.

Pemerintah minggu ini mengklaim pasukan perlawanan bertanggung jawab atas 933 kematian, lapor Popular News, mengutip wakil menteri dalam negeri Jenderal Soe Tint Naing.

Dalam briefing hari Kamis untuk diplomat asing yang juga dihadiri oleh kantor berita, Soe Tint Naing mengatakan mereka yang tewas termasuk personel keamanan, pegawai negeri dan orang-orang yang diyakini oleh perlawanan sebagai informan pemerintah.