Serangan Udara di Suriah Tewaskan 100 Lebih Warga Sipil

-

Beritabaru.co, Internasional. – Lebih dari 100 warga sipil terbunuh akibat serangan udara yang dilakukan oleh pemerintah Suriah dan sekutu. Laporan PBB menyebut, serangan itu terjadi di daerah kantong pemberontak dalam 10 hari belakangan.

Menurut PBB, konflik sejak tiga bulan terakhir ini juga telah menggusur lebih dari 400 ribu orang. Dilansir dari Aljazirah, PBB melaporkan sebanyak 103 orang meninggal dunia—termasuk 26 anak-anak–akibat serangan udara di sekolah, rumah sakit, pasar, dan toko roti.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Michelle Bachelet, mengatakan jumlah korban meninggal ini tidak mendapat perhatian serius dari dunia internasional. 

“Sasaran serangan adalah objek sipil, dan sangat tidak mungkin–mengingat pola serangan seperti itu–bahwa mereka semua terkena kecelakaan. Mereka terserang,” katanya dalam sebuah pernyataan. Bachelet juga menyebutkan jumlah warga sipil yang terbunuh sejak awal serangan sedikitnya 450 orang.  

Berita Terkait :  Donald Trump Benarkan Putra Osama bin Laden Sudah Tewas

Didukung oleh sekutu utamanya, Rusia, pemerintah Suriah memulai langkah ofensif terhadap kantong pemberontak di barat laut Suriah. Daerah tersebut merupakan daerah terakhir dari oposisi aktif Presiden Bashar al-Assad. 

Berita Terkait :  Presiden Jokowi Diapandang Layak Jadi Sekjen PBB?

Rusia mengakui langkahnya sebagai tanggapan dari pelanggaran gencatan senjata. Wilayah yang diserang adalah rumah bagi sekitar tiga juta orang, hampir setengah dari mereka sudah mengungsi dari bagian lain negara yang dilanda perang.  Wilayah ini mencakup hampir semua provinsi Idlib dan sebagian Provinsi Aleppo, Hama, dan Latakia.  

Idlib dan daerah sekitarnya di barat laut masuk dalam kesepakatan de-eskalasi pada September tahun lalu antara Rusia dan Turki. Kesepakatan itu mendukung beberapa kelompok pemberontak untuk mengurangi perang dan pengeboman. 

Berita Terkait :  Trump Ingin Arab Saudi dan Rusia Segera Menemukan Solusi Terkait Perang Minyak

Namun, perjanjian itu tidak pernah dilaksanakan setelah para pejuang menolak  mundur dari zona penyangga. Sebaliknya, intensitas pengeboman meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Wilayah ini sebagian besar dikendalikan dan dipimpin oleh Hay’et Tahrir al-Sham.

Berita Terkait :  Pangeran Charles Sebut Pelajaran Holocaust ‘Masih Relevan’

Dikutip dari BBC, Jumat (26/7), Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) menyebut insiden pada Senin (22/7) kemarin  sebagai salah satu hari paling mematikan di wilayah tersebut sejak dimulainya serangan. Dalam satu hari, 60 orang meninggal di Provinsi Idlib, Hama, dan Aleppo, termasuk 39 orang dalam serangan udara saat kesibukan pasar di Maarat al-Numan.  

“Sebagian besar dari mereka yang melarikan diri telah mengungsi, sementara jumlah yang lebih kecil telah pindah ke wilayah Aleppo utara. Sekitar dua pertiga orang terlantar tinggal di luar kamp,” kata OCHA.

Berita Terkait :  Taiwan Ternyata Punya Rudal Jelajah yang Mampu Menjangkau China

OCHA mengatakan telah mencatat sebanyak 39 serangan terhadap fasilitas kesehatan atau tenaga medis di wilayah itu sejak akhir April. Setidaknya 50 sekolah telah rusak oleh serangan udara dan penembakan.

Pemantau perang yang berbasis di Inggris, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan lebih dari 730 warga sipil telah meninggal dunia dalam pengeboman udara dan penembakan oleh pemerintah Suriah dan sekutunya sejak akhir April. Kendati demikian, baik pemerintah Suriah dan sekutu Rusia-nya menyangkal menargetkan warga sipil atau infrastruktur sipil.

Penulis : Nafisa Fiana
Sumber  : BBC
Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments