Selat Singapura Penuh Sesak oleh Puluhan Kapal Tanker Minyak

Selat Singapura
Puluhan kapal tanker pengangkut minyak terlihat menumpuk di Selat SIngapura, (Foto: @MattEganCNN)

Berita Baru, Internasional – Pada hari Selasa 28 April, kantor berita Bloomberg melaporkan bahwa selat Singapura kini dipenuhi oleh puluhan kapal tanker minyak di tengah kelebihan pasokan minyak dan penurunan permintaan minyak mentah yang dipicu oleh pandemi virus korona.

Menurut Kepala Analisis Komoditas dan penelirian IHS Markit, Rahul Kapoor, setidaknya ada sekitar 60-an kapal tanker minyak di jalur sempit di lepas pantai Singapura yang biasanya hanya kisaran 30-40-an kapal.

Sejumlah kapal tanker tersebut diyakini digunakan sebagai penyimpanan bahan bakar minyak, dan sebagian yang lain menunggu arahan untuk dikirim ke pembeli karena pandemi COVID-19  yang sedang berlangsung telah melumpuhkan dan membuat negara-negara menerapkan prosedur karantina wilayah atau lockdown.

Selain memuat bahan bakar dan minyak mentah, kapal-kapal tanker tersebut juga diyakini memuat bensin dan bahan bakar jet. Kapal-kapal itu terus berdatangan ke selat Singapura dari pusat-pusat kilang minyak utama seperti Korea Selatan dan Cina di tengah anjloknya permintaan domestik dan mulai penuhnya tangki-tangki penyimpanan minyak di darat.

Berita Terkait :  4 Jurnalis Guardian Boyong Penghargaan British Journalism Awards

Menurut Bloomberg, kapal-kapal itu memang berusaha menunda bongkar muat hingga hampir 2 minggu, padahal biasanya kapal-kapal akan mengeluarkan kargo sekitar 5-4 hari.

Ruang Penyimpanan Berkurang Cepat

Pedagang, penyuling, dan beragam perusahaan infrastruktur telah berebut jaringan pipa dan kapal untuk menyimpan bahan bakar sebagai pengganti penyimpanan tangki darat di tengah kelebihan pasokan.

Sebelumnya, menurut Bloomberg, mereka yang ingin menyimpan minyak di darat di Singapura dikenakan tarif selangit. Dan juga, ruang penyimpanan tidak lagi disewakan kepada pelanggan baru.

“Negara-negara pengekspor bahan bakar utama menghadapi kesulitan menemukan rumah untuk kelebihan barel mereka,” ujar Sri Paravaikkarasu, kepala minyak Asia di konsultan industri FGE.

Lebih lanjut, Paravaikkarasu menambahkan bahwa tingkat pemrosesan di kilang di Singapura juga anjlok, dan juga sekitar 60 persen dari kapasitas diperkirakan turun lebih rendah, menjadi sekitar 50 persen selama kuartal kedua.

Tangki penyimpanan minyak mentah Cushing terlihat dari atas. Oklahoma, 24 Maret 2016.

Di tempat lain, di India, tangki penyimpanan 95 persen telah penuh pada pekan lalu, di mana para penyuling minyak menyimpan bahan bakar berlebih di stasiun pompa dan depo.

Berita Terkait :  Ribuan Warga Irak Tentang Tindakan Represif Aparat

Opsi Terbaik berikutnya

Menurut perusahaan analitik Vortexa, menggunakan kapal tanker untuk menyimpan bahan bakar berlebih merupakan opsi terbaik berikutnya.

Bersumber dari data Vortexa, pihaknya menunjukkan bahwa penyimpanan minyak mentah yang mengambang di lautan Asia saat ini berada di level tertinggi selama empat tahun.

Lalu menurut perusahaan intelijen data Kpler, pada tanggal 23 April, telah terjadi peningkatan sebesar 45% dari bulan ke bulan terkait volume bahan bakar bersih seperti nafta, bensin, bahan bakar jet dan bahan bakar diesel yang disimpan di kapal tanker.

Sebuah kapal tanker minyak berlabuh di pusat minyak Fos-Lavera dekat Marseille, Prancis.

Lebih lanjut menurut data, jumlah minyak yang ada di lautan termasuk di perairan lepas Singapura dan Malaysia, ada sekitar 6,64 juta barel.

Tingginya permintaan untuk menyewa atau menggunakan kapal tanker minyak, baik untuk mengirimkan produk minyak bumi jadi ataupun menyimpan produk minyak mentah, telah membuat harga sewa kapal melangit.

Dengan demikian, opsi ini juga mempunyai resiko yang cukup tinggi. Opsi lain yang bisa digunakan saat krisis seperti sekarang adalah pengukusan yang lambat, di mana pengirim atau produsen minyak secara sengaja mengurangi kecepatan tanker untuk meningkatkan waktu transit pengiriman.

Berita Terkait :  Saudi Aramco Kembali Menunda Rilis Harga Jual Minyak

Dengan memilih opsi ini, memungkinkan produsen untuk membeli waktu dan menghemat bahan bakar sambil menunggu pembeli.

Kekenyangan minyak

Pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung yang menyebabkan aktivitas ekonomi dan perjalanan terhenti telah melumpuhkan permintaan minyak mentah dan menyebabkan kelebihan minyak.

Karena kelebihan pasokan telah menciptakan pengisian unit penyimpanan yang berlebihan, beberapa ahli khawatir bahwa dunia bisa kehabisan penyimpanan pada bulan Mei.

Seorang pengemudi truk tangki bahan bakar setelah mengirimkan bensin di Costco di Beltsville, Maryland

Sebelumnya, dalam bursa perdagangan minyak pada 20 April, harga kontrak minyak mentah pada Mei terjun bebas di bawah nol. Dan ini membuatnya mencatatkan sejarah sebagai harga terendah sejak 1946.

Dalam upaya untuk mengatasi kelebihan pasokan dan mengurangi dampak pasar, pada 12 April Arab Saudi, Rusia dan negara-negara pengekspor minyak lainnya dalam OPEC+ sepakat untuk memangkas produksi minyak mereka sebesar 9,7 juta barel per hari hingga Juni dalam pengurangan produksi terbesar dalam sejarah.


SUmberSputnik News
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan