Selain ‘Sexy Killers’, Berikut 4 Film Dokumenter Terbaik dalam F4T ala GIJN

Film Dokumenter Terbaik
Sumber: globbal investigative journalism network

Berita Baru, FilmGlobal Investigative Journalism Network (GIJN) merilis 5 film dokumenter anti-korupsi terbaik dari rangkaian festival Films For Transparency (F4T) yang diadakan berkat kerja sama Transparency International dan International Anti-Corruption Conference Series.

Film dokumenter besutan filmmaker Indonesia, Sexy Killers, juga masuk dalam daftar, lho. Selain Sexy Killers, ada 4 film lain yang dipilih GIJN sebagai film laporan dokumenter terbaik selama festival F4T. Apa saja?

Radio Silence (Meksiko)

Film arahan Juliana Fangul ini merupakan film dokumenter yang menceritakan tentang jurnalis palling dipercaya di Mexiso, Carmen Aristegui. Suatu ketika, Aristegui menuntut stasiun radio swasta tempatnya bekerja untuk mempekerjakan kebali dua reporter investigasi yang sudah dipecat. Itu malah membuat Aristegui dikeluarkan, dan hal itu menyulut dirinya untuk terus melawan korupsi. Dia pun mendirikan platform independen sendiri dan meraih ribuan pendengar.

Film ini menggambarkan perjuangan Aristegui demi kebebasan pers di Meksiko. Bukan hanya ia yang rentan, jurnalis lain pun bernasib sama. Seperti dikutip dari GIJN, Mexico telah menjadi salah stu tempat berbahaya bagi jurnalis, yang harus menghadapi resiko setiap menyinggung kelompok politisi atau kejahatan terorganisir yang kuat.

Collective (Rumania)

Film karya sutradara Alexander Nanau ini mengisahkan sekelompok jurnalis investigasi dan pengalaman mereka mengungkap kasus korupsi dan penipuan dalam fasilitas kesehatan publik, menyusul sebuah tragedi kebakaran fatal sebuah klub malam di Bukares, ibukota Rumania.

Peristiwa itu menyebabkan Perdana Menteri Victor Ponta undur diri, sementara wartawan menemukan ‘kejutan-kejutan’ lain di sekitar Rumania. Film ini tentu menjadi relevan sekarang, terutama ketika Covid-19 turut menjadi ‘ujian; bagi integritas sistem kesehatan publik di dunia.

The New Amazon, a New Minamata? (Brazil)

Film dokumneter arahan sutradara Jorge Bodanzky ini mencoba membandingkan kasus keracunan merkuri yang parah di wilayah Minamata, Jepang, denga napa yang terjadi saat ini di Amazon, Brazil. Sebab di sana, logam berat seperti merkuri yang digunakan dalam proses penambangan emas telah mengkontaminasi darah masyarakat adat yang tinggal di sana.

Di Amazon Brazil, penambangan emas di tanah adat sangat terlarang. Namun operasi penambangan ilegal terus ada, dan berpengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi, termasuk munculnya ketidaksetaraan dan eksploitasi, serta mengakibatkan masalah kesehatan terhadap kelompok rentan di Brazil.

Sexy Killers (Indonesia)

Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta merilis karya dokumenter berjudul Sexy Killers, yang mengangkat kisah tentang industri tambang batu bara dan kaitannya dengan kerusakan lingkungan serta elit politik di Indonesia. Di Kalimantan, deforestasi dan penambangan dalam skala besar mengakibatkan tingginya risiko banjir dan tanah longsor.

Namun urusannya pelik karena industri tersebut berkaitan erat dengan tokoh dan iklim politik di seluruh kepulauan. Film ini telah diputar oleh kelompok masyarakat sipil hingga pelajar sebelum akhirnya diunggah di Youtube dan ditonton lebih dari 35 juta orang.

Wood (Amerika Serikat, Rumania, Peru)

Film arahan sutradara Monica Lazurean-Gorgan, Michaela Krist, dan Ebba Sinzinger ini mengangkat kisah mengenai Alexander von Bismarck, seorang direktur eksekutif di Environmental Investigation Agency, yang berbasis di Washington DC. Menggunakan kamera tersembunyi, para pembuat film ini mendokumentasikan upaya menyusup ke industri kayu dan mengungkap korupsi antara pemerintah dan perusahaan terkait, selama 7 tahun lamanya.

Film ini dianggap unik karena mengombinasikan jurnalisme investigasi dan spionase international. Kondisi di Washington DC juga turut mewakili apa yang terjadi dalam industri pembalakan liar di Rusia, Rumania, serta Peru. Penonton diajak memikirkan kembali harga sebenarnya dari kayu yang murah.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini