Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Suhu
Terlihat dari grafis suhu bumi melonjak tajam menjadi lebih hangat setelah masa revolusi industri, Sumber : Dailymail.co.uk

Sekarang, Suhu Bumi Jauh Lebih Hangat Dibanding 10.000 Tahun Lalu

Berita Baru, Amerika Serikat – Menurut sebuah studi iklim, suhu global tahunan pada saat ini adalah yang terhangat dalam 10.000 tahun terakhir.

Dilansir dari Dailymail.co.uk, Para peneliti dari Universitas Rutgers mengumpulkan sedimen laut di dekat muara Sungai Sepik di lepas utara Papua Nugini untuk membuat model penelitian suhu baru Bumi di sepanjang Holosen, yaitu sebuah era yang membentang dari 12.000 tahun lalu hingga saat ini.

Mereka menemukan bahwa suhu saat ini adalah yang terhangat selama 10.000 tahun lalu, dan laju pemanasan dunia telah meningkat tajam sejak periode industri.

Penulis utama studi Dr Samantha Bova mengatakan rekonstruksi iklim baru mereka pada periode tersebut menunjukkan bahwa paruh pertama di masa Holosen lebih dingin daripada di masa industri.

Hal ini disebabkan oleh efek pendinginan dari sisa lapisan es dari periode glasial sebelumnya, dimana bertentangan dengan rekonstruksi suhu global sebelumnya.

Penemuan ini memecahkan misteri utama perubahan iklim, atau teka-teki suhu Holosen. Sebagai ketidaksepakatan antara pemanasan yang diharapkan dan model iklim.

“Pemanasan global di masa Holosen akhir-akhir ini memang disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca, seperti yang diprediksi oleh model iklim, dan itu menghilangkan keraguan tentang peran kunci karbon dioksida dalam pemanasan global,” kata Bova, Pada Rabu (27/01).

Para ilmuwan menggunakan fosil dari organisme bersel tunggal yang hidup di permukaan laut, untuk dapat merekonstruksi sejarah suhu dari dua interval yang hangat ini secara terbaru.

Ini termasuk periode Interglasial Terakhir dari 128.000 hingga 115.000 tahun yang lalu dan masa Holosen yang dimulai 12.000 tahun yang lalu.

Untuk mendapatkan fosil, tim mengumpulkan inti sedimen dasar di dekat muara Sungai Sepik di lepas utara Papua Nugini dan menggunakannya untuk menciptakan kembali masa sejarah suhu kolam hangat Pasifik barat waktu itu.

Ini adalah lokasi yang ideal untuk dibandingkan dengan suhu modern karena memantau perubahan suhu global selama periode tersebut.

Bova dan rekan menjelaskan, Bagaimana suhu berevolusi selama era Interglasial Terakhir dan Holosen masih kontroversial.

Data menunjukkan suhu global tahunan rata-rata selama zaman modern lebih rendah daripada selama periode hangat awal Holosen, yang diikuti oleh pendinginan secara global.

Sementara itu, model iklim menunjukkan dengan kuat bahwa suhu global telah meningkat selama 10.000 tahun terakhir.

Profesor Yair Rosenthal, juga dari Universitas Rutgers, mengatakan: “Perbedaan yang jelas antara model iklim dan data telah menimbulkan keraguan di antara para skeptis tentang peran gas rumah kaca dalam perubahan iklim selama masa Holosen dan mungkin di masa depan.”

“Kami menemukan bahwa pemanasan pasca-industri memang telah mempercepat tren pemanasan yang panjang dan stabil selama 10.000 tahun terakhir.”

“Studi kami juga menggarisbawahi pentingnya perubahan musim, khususnya musim panas di belahan bumi utara, dalam mendorong banyak sistem iklim.”

“Metode kami dapat, untuk pertama kalinya, menggunakan suhu musiman untuk menghasilkan rata-rata tahunan.”