Sejarawan Gresik Soroti Rencana Revitalisasi GNI dan Gardu Suling: Asal Tidak Menghilangkan Esensi Bangunan

    Berita Baru, Gresik – Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik merevitalisasi dua bangunan bersejarah yakni Gedung Nasional Indonesia (GNI) dan Gardu Suling mendapat respon dari sejarawan asal Gresik, Kris Adji AW.

    Kris begitu sapaan akrabnya, memberikan beberapa catatan terkait rencana revitalisasi bangunan bersejarah bahkan yang telah memiliki sertifikasi cagar budaya. Menurutnya, dalam proses pembangunan atau revitalisasi tidak boleh menghilangkan esensi bangunan itu, hanya diperbolehkan mempercantik atau memperbaiki kerusakan saja.

    “Boleh direvitalisasi asal tidak merubah esensi dan fungsi bangunan, maka yang diperbolehkan hanya memperbaiki yang rusak dan mempercantik bangunan,” ujarnya.

    Terkait rencana revitalisasi bangunan Gedung Nasional Indonesia (GNI) dan Gardu Suling, Kris mengaku telah melakukan koordinasi dengan dinas PU bersama sejumlah tokoh sejarawan di Gresik. Hasilnya, kedua belah pihak bersepakat agar selain merevitalisasi secara adaptif, fungsi bangunan juga dikembalikan seperti semula.

    “Adaptif maksudnya membangun dan menggunakan bangunan bersejarah sebagaimana fungsi awalnya,” tegasnya.

    “Sesuai sejarah, bahwa gedung GNI dulu pernah digunakan sebagai pusat kesenian, juga digunakan diskusi pemuda-pemuda, bahkan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) belum punya gedung saat itu, DPRD rapatnya di gedung GNI,” imbuhnya menjelaskan.

    Sebagaimana diketahui, Pemkab Gresik berencana merevitalisasi Gedung Nasional Indonesia (GNI) menjadi media center. Kemudian Gardu Suling rencananya akan direvitalisasi menjadi wisata kota lama.

    Facebook Comments
    - Advertisement -

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini