Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Sejarah Manusia Pertama di Bumi | Cerpen: Nanda Winar Sagita
Ilustrasi: @collage_malage

Sejarah Manusia Pertama di Bumi | Cerpen: Nanda Winar Sagita

“Adam,” kata Hasan, “dia manusia pertama. Tidak mungkin ada yang lain.”

“Kau selalu memalingkan muka saat aku baca buku ini,” kata Husin seraya menunjukkan buku Sapiens karangan Yuval Noah Harari dengan tangan kanan mereka, “padahal di sini sudah dijelaskan asal-usul manusia dengan cara yang masuk akal.”

“Kau selalu mendewakan akal,” kata Hasan, “padahal aku juga punya kepala.”

“Itu karena hati di tubuh kita ini punyamu,” kata Husin, “jadi hati yang cuma seonggok itu telah menguasai otakmu.”

Hasan dan Husin adalah dua kepala di dalam satu tubuh. Mereka pernah menjadi berita utama di seluruh dunia, ihwal kembar siam pertama di era kiwari yang berhasil hidup hingga usia dua puluhan dan masuk perguruan tinggi dengan rekor yang tidak mungkin bisa dipecahkan lagi selama beberapa abad ke depan: kembar siam yang meraih dua gelar sarjana yang berbeda. Tapi seperti banyak berita viral belakangan ini, keberadaan dan prestasi mereka begitu cepat dilupakan. Husin adalah kepala di bagian kiri, tapi kaki dan tangan yang bisa dia kendalikan ada di bagian sebelah kanan. Di samping itu, Hasan adalah kebalikannya.

Meskipun lahir di detik yang bersamaan, mereka tidak pernah sepakat dalam satu pendapat. Fatimah, ibu mereka, meninggal di saat melahirkan mereka. Hasan yang terbiasa salat terkadang kesulitan karena Husin menolak untuk merenggangkan jari telunjuk mereka di saat tahyat. Selain itu, Hasan juga sering protes soal kenapa dia selalu bertugas untuk membersihkan anus mereka setelah berak, sedangkan Husin selalu menyuapi mulut mereka di saat makan atau bersalaman dengan orang lain. Dan soal perkara remeh seperti itu pun mereka kerap bertengkar.

Setelah mendengar sawala antara dua kepala itu ihwal siapa manusia pertama di bumi, Ali, ayah mereka, memberi tugas kepada keduanya untuk menuntaskan masing-masing satu cerita mini dengan narasi paling meyakinkan. Siapa pun di antara mereka yang mampu membuat tulisan bagus dan mengesankan, maka akan diakui oleh Ali sebagai pemenang—karena sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Kedua kepala itu tentu saling beradu dalam satu waktu. Hasan yang kidal menulis cerita itu di atas selembar kertas dengan tangan kiri mereka; sedangkan Husin mengetik cerita karangannya di laptop dengan tangan kanan mereka. Ketika keduanya usai menuntaskan cerita, mereka masih sempat berdebat soal siapa yang benar sebelum Ali datang untuk melerai perdebatan kedua kepala itu.

Agar kita, sebagai pengamat murni dalam cerita ini, bisa menilai mana cerita terbaik antara keduanya, maka ada baiknya kita membaca kedua cerita yang mereka tulis tanpa harus membenani diri dengan memberi penilaian. Saya, sebagai narator, akan memampang kedua cerita mini tentang sejarah manusia pertama di bumi versi Hasan dan Husin itu tanpa mengubah sepatah kata pun. Beginilah isinya:

Adam karya Hasan

Kita tidak pernah benar-benar tahu kebenaran yang terjadi di Surga, tapi segalanya bermula dari hari keenam: saat Tuhan menciptakan sesosok manusia pertama yang diberi nama Adam. Lantaran tidak baik manusia seorang diri saja, maka Tuhan juga menciptakan Hawa dari sepotong tulang iga Adam. Meski berasal dari gumpalan lempung, tapi Tuhan memberkahi Adam dengan nikmat pengetahuan.

Namun bagaimanapun juga pangkal dari pengetahuan adalah rasa penasaran―andai Hawa tidak meruntuhkan benteng batin Adam untuk melahap buah terlarang, tentu kita tidak akan sepenasaran ini untuk mengetahui kebenaran yang terjadi di Surga―sehingga mereka terjebak dosa asal dan mengenal sisi berlawanan dari segala hal. Lagi pula, bukankah tujuan awal penciptaan manusia adalah untuk menjadi khalifah di Bumi? Dengan demikian segalanya berjalan wajar, karena cara takdir bekerja telah menjelma menjadi kutukan abadi bagi kita: Tuhan menciptakan makhluk, manusia membuat robot; Tuhan menciptakan matahari, manusia membuat lampu; Tuhan menciptakan laut, manusia membuat kolam; Tuhan menciptakan mukjizat, manusia membuat sulap; Tuhan menciptakan itu, manusia membuat ini.

Lucy karya Husin

Pada mulanya adalah sesosok Australopithecus betina yang terobsesi untuk meruntuhkan tradisi patriarki dengan memanjat pohon palma tertinggi di rimba purba lembah Awash. Lazimnya situasi kala itu: akal adalah anugerah terlangka dari hasil kerja otak para leluhur paling awal umat manusia, tapi sudah menjadi naluri kolektif bahwa pimpinan kelompok hanya pantas disandang oleh sosok jantan terkuat dan paling berani. Dengan mengandalkan sisi kebinatangan yang masih mendominasi dalam dirinya, si betina itu berhasil berdiri tegak di pelepah puncak pohon tersebut. Namun selain dari dua anak perempuannya, tak ada yang peduli pada perjuangannya; atau bahkan sebatas mendongak untuk melihat aksinya pun tidak. Dia baru menjadi pusat perhatian setelah terpeleset dan jatuh terjun dari ketinggian hingga pergelangan kaki, lutut, pinggul, dan bahunya patah lantaran dia mendarat tepat di atas batu cadas di tepi sungai, dan mati.

***

Setelah usai membaca kedua cerita mini itu, Ali berdecak kagum. Dia tahu kedua kepala itu memang jenius, tapi dia memang punya selera bagus lantaran lebih memilih cerita karangan Husin ketimbang Hasan.

“Kalian sudah melakukan yang terbaik,” kata Ali, “tapi bagaimanapun juga tetap harus ada pemenang di setiap perlombaan. Dan cerita Husin memang sangat layak untuk dimenangkan.”

Tentu saja Husin berteriak girang, sedangkan Hasan hanya bisa tertunduk lesu. Dia tidak percaya cerita yang bertumpu pada omong kosong para ilmuwan bisa mengalahkan cerita yang berlandaskan pada hikayat agung dalam kitab suci. Lantas dia menentang Ali, dan itu adalah momen pembangkangan pertama dalam hidup mereka:

“Ayah,” kata Hasan, “yang menang belum tentu benar, kan? Hanya karena ayah lebih percaya pada sains ketimbang agama, bukan berarti penilaian ayah bisa memutuskan siapa yang benar di antara kami.”

Ali tahu betul tabiat kedua kepala anaknya itu, terlebih lagi Hasan yang begitu religius. Pernah suatu siang yang panas di bulan Ramadan, kedua kepala itu pernah bertengkar karena Husin yang tidak tahan lapar diam-diam makan di saat Hasan sedang tidur. Tentu rasa makanan itu hanya dicecap oleh lidah Husin dan melewati kerongkongannya, tapi mereka punya perut yang sama. Hal itu membuat Hasan marah dan protes pada Ali. Dengan berbagai dalih yang berlandaskan pada fatwa ulama yang sempat dia baca entah di buku apa, Ali berhasil menenangkan Hasan. Oleh karena itu, dia merasa heran karena Hasan si kepala yang religius itu mengajukan protes yang  membuat Ali begitu murka.

“Jangan pernah menyinggung soal keyakinanku, Nak,” kata Ali, “atau kau akan menyesal. Lagi pula, apa pentingnya bagi kalian soal siapa manusia pertama di bumi, sedangkan kalian sendiri sama sekali tidak tampak seperti manusia.”

Tentu Hasan sangat paham yang dimaksudkan oleh ayahnya. Alkisah, pada suatu hari, Ali pernah bercerita soal rencananya untuk memotong salah satu kepala itu melalui operasi pemisahan saat mereka masih bayi. Hal itu karena sesaat setelah mereka lahir, dokter bilang semua organ tubuh dan saraf mereka normal, kecuali bagian kepala yang bercabang itu. Saat Ali menceritakan perihal rencana mengerikan itu mereka masih SD, dan Ali memberitahu kedua kepala itu agar bersikap baik atau akan diamputasi. Setelah mendengar kemarahan ayahnya, Hasan tahu posisinya sudah tidak aman. Lama dia hanya bergeming dan menerima kekalahan yang sama sekali tidak memuaskan batinnya. Sementara mulutnya bungkam, hatinya-yang dikatakan Husin sebagai milik Hasan―begitu penuh gejolak untuk melampiaskan benci.

Setelah Ali pergi untuk meredam amarah dan penyesalannya sendiri karena mengucapkan sesuatu yang tidak semestinya mereka dengar, kedua kepala itu pun duduk terhenyak untuk sejenak tanpa saling bicara. Saat itulah muncul ide laknat dalam pikiran Hasan. Dia mengajak Husin untuk pergi ke halaman belakang. Husin yang sama sekali tidak mengerti maksud Hasan, menurut begitu saja meskipun ada semacam firasat tak terjelaskan yang terlintas di benaknya. Mereka berjalan sebagaimana biasa dengan saling melangkahkan kaki satu dengan lain hingga keduanya tiba di bawah sebatang pohon kelapa.

“Aku ingin minum air kelapa muda,” kata Hasan.

“Tapi kau tahu aku tidak suka,” kata Husin.

“Kau hanya perlu membantuku untuk memetiknya,” kata Hasan. “Jadi tolong aku dengan tangan kananmu itu.”

Husin menurutinya. Setelah sebutir kelapa berhasil mereka petik dengan sebatang galah, Hasan memungutnya begitu saja. Tapi tanpa ada niat untuk membelahnya dan menenggak airnya yang agak sepat, Hasan langsung menghantam kepala Husin berkali-kali dengan butir kelapa itu. Husin menjerit-jerit sampai memohon ampunan yang memang sama sekali tidak diperlukan. Tulang tengkoraknya pecah, dan darah bercucuran dari sana. Ali yang mendengar jeritan Husin langsung menyusul ke halaman belakang. Tentu saja sudah terlambat, sebab tubuh mereka sudah terkapar menjelang sakaratul maut seperti ikan yang menggelepar di daratan. Meskipun niat Hasan murni untuk menyingkirkan Husin sebelum Ali menyingkirkannya terlebih dahulu, tapi dia lupa mereka berada dalam tubuh yang sama. Oleh sebab itu, meninggalnya Husin pada hari itu turut juga membuat Hasan kehilangan nyawa.

Ali hanya menangis tersedu-sedu menyaksikan kematian tragis anak-anaknya seraya memukuli kepalanya sendiri dengan sebutir kelapa yang masih berlumuran dengan darah dari kepala Husin. Dia menyesal telah menyebut kedua anaknya itu tidak mirip manusia. Jadi dia sadar telah melakukan kesalahan yang tidak bijaksana; layaknya Adam yang tidak bisa menghentikan Qabil menghantam kepala Habil dengan sebongkah batu.


Sejarah Manusia Pertama di Bumi | Cerpen: Nanda Winar Sagita

Nanda Winar Sagita, lahir di Takengon, 24 Agustus 1994. Aktif menulis cerpen dan esai. Sekarang tinggal di Aceh Tengah.