Sejarah Emas Sepakbola Tuban

Sepakbola Tuban
Bupati Tuban, KH. Fathul Huda menyerahkan medali emas (Foto: Zaki, L Kamim M)

Beritabaru.co, Tuban. – Tim Cabang Olahraga (Cabor) Sepakbola Kabupaten Tuban menorehkan sejarah, setelah berhasil memboyong medali emas pada laga final di stadion Bumi Wali, Sabtu (13/7) kemarin. Final sepakbola tersebut menjadi gelaran penutup Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur tahun 2019.

Tim sepakbola daerah berjuluk Bumi Wali tersebut memang telah dipersiapkan secara serius dan matang oleh manajer, officials, dan pelatih di bawah naungan Komite Olahraga Nasional (KONI) Kabupaten Tuban.

Secara bertahap pihak manajemen telah melakukan tahapan seleksi dan training center (pemusatan latihan) sebelum akhirnya mendaftarkan pemain secara resmi untuk mengikuti Porprov 2019. Redaksi beritabaru.co mencatat bahwa penetapan 34 pemain muda telah diumumkan pada pertengahan bulan Maret 2019. Mereka yang lolos kemudian disaring lagi dalam training center tahap awal sejak 18-31 Maret sampai terpilih 30 pemain.

Pemusatan latihan tim Sepakbola Tuban yang berlaga di kejuaraan Porprov VI Jatim (KONI Tuban)

Mulai 1 April, 30 pemain terpilih akan mengikuti training center lanjutan dan diwajibkan tinggal di mess (baca: asrama pemain). Metode training center bertingkat tersebut ditujukan untuk tetap menjaga iklim kompetisi dalam masa persiapan, sampai akhirnya dipilih 24 pemain inti yang akan didaftarkan pada panitia Porprov 2019.

Pada sebuah kesempatan, Manajer tim, Budy Sulistiono pernah menjelaskan bahwa seleksi untuk tim itu dilakukan secara profesional dan sangat serius, pasalnya KONI Tuban menargetkan tim sepak meraih medali emas di Porprov. Ia mengaku, meskipun menantang, target tersebut sangat realistis, mengingat Tuban menjadi tuan rumah cabor sepak bola.

Gigit Jari Di 5 Porprov Sebelumnya

Porprov Jatim awal mulanya merupakan gelaran even olahraga regional dua tahunan. Ajang paling paling bergengsi bagi insan olahraga Jawa Timur tersebut pertama kali dihelat pada tahun 2007 di Kota Surabaya, kemudian dilaksanakan secara berturut-turut di Kota Malang 2009, Kota Kediri 2011, Kota Madiun 2013, dan Kabupaten Banyuwangi 2015.

Porprov ke-5 di Banyuwangi adalah titik balik, dimana Gubernur Jawa Timur pada saat itu, Soekarwo, menetapkan even olahraga ini akan diselenggarakan empat tahunan, tidak lagi dua tahunan. Walhasil rencana Porprov Jatim ke-6 yang akan digelar di Lamongan dan Gresik pada tahun 2017 pun akhirnya ditunda sampai tahun 2019.

Dalam lima gelaran sebelumnya, capaian tim sepakbola Tuban belum mampu memuaskan Ronggomania, julukan suporter sepakbola di daerah yang memiliki panjang garis pantai lebih dari 68 kilometer tersebut.

Di setiap puncak laga final cabang olahraga paling dikenal dan diminati penduduk bumi tersebut, laskar Bumi Wali hanya mampu jadi penonton sambil gigit jari.

Emas Tutup Cerita Buruk

Setelah berhasil melalui pertandingan penyisihan group, babak delapan besar, dan semi-final, tim sepakbola Kabupaten Tuban kembali berhadapan dengan tim dari Kabupaten Sidoarjo di babak final. Perjuangan berat dimulai pada laga semi-final, dimana tim hijau-putih harus menantang tim dari yang terkenal produktif mencetak pemain bola hebat, Kota Malang. Tantangan berat itu akhirnya dapat dilewati dengan kemenangan meyakinkan 2-0 pada laga di Stadion Lokajaya, Kamis (11/7).

Babak final merupakan laga ulangan kedua tim yang sebelumnya berada di satu group yang sama. Pada saat itu keduanya harus puas berbagi angka sama kuat, sehingga menempatkan tim Sidoarjo sebagai pemuncak klasemen, dan tim Tuban sebagai runner-up.

Pertandingan final cabang olahraga sepakbola pada Sabtu (13/7) di Stadion Bumi Wali adalah puncak dari seluruh perhelatan akbar Porprov Jatim 2019. Tensi tinggi sejak awal babak pertama memaksa wasit untuk bekerja ekstra keras dalam memimpin jalannya pertandingan.

Jual beli serangan dengan kombinasi permainan cepat dan keras dari kedua tim, hanya berakhir dengan skor sama kuat sampai jeda turun minum menandai berakhirnya babak pertama. Dua puluh sembilan menit setelah babak kedua berlangsung, Nur Avida berhasil membuka keunggulan bagi tim Tuban, skor pun berubah menjadi 1-0.

Tim Sidoarjo pun bereaksi positif, di mana para pemain muda mereka berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke 87. Pertandingan semakin memanas, apalagi setelah asisten wasit menunjukkan tanda tambahan waktu. Pertandingan yang diduga akan berakhir dengan adu pinalti tersebut, akhirnya dapat diakhiri dengan lesakan gol dari Ahmad Irham di injury time menit 93.

Tim Sepakbola Tuban, yang selama lima kali perhelatan Porprov Jatim tidak bisa berbuat banyak, akhirnya menorehkan sejarah emas, untuk seluruh masyarakat dan pecinta bola di Bumi Wali tersebut. Tim juara itu berada dibawah arahan Ketua KONI H. Mirza Ali Mansur, Ketua Umum Bumi Wali H. Mohbib, Ketua Umum Persatu H. Nashruddin Aly, dan PSSI Tuban Tulus Widodo.

Budi dan Edy, Dua Sosok Kunci Juara

Rabu (13/3/2019) adalah hari paling bersejarah dalam dunia persepakbolaan Bumi Wali Tuban. Keputusan rapat gabungan antara KONI Tuban, Askab PSSI Tuban, Manajemen Persatu, dan Manajemen Bumi Wali FC adalah spekulasi yang brilian.

Penanggungjawab, manajer, pelatih dan official Tim Sepakbola Tuban (KONI Tuban)

Dari situ diputuskan Manajer tim sepakbola Tuban untuk mengikuti Porprov 2019 adalah Budi Sulistyono, dengan didampingi didampingi asisten manager Kartono, Sugiarto, dan Asep Nur Hidayatullah.

Selain manajer, rapat juga menetapkan sosok lama dalam jagat sepakbola Tuban, Edy Sutrisno sebagai pelatih. Ia bekerja dengan didampingi asisten pelatih Ainur Rofiq dan Sulkan Arif.

BS, sapaan Budi Sulistyono dikenal sebagai promotor sepakbola dari daerah asalnya, yaitu Semanding. Pengusaha itu dikenal peduli olahraga, khususnya sepakbola. Penunjukan dirinya tidak lepas dari jabatan yang ia emban saat ini, yaitu sebagai Exco PSSI Tuban. Rumahnya pribadinya adalah markas kedua tim sepakbola Kabupaten Tuban.

Coach ES, panggilan para pemain untuk Edy Sutrisno, adalah pahlawan sepakbola di Kota Tuban. Pria berpenampilan sederhana itu pernah berhasil membawa Persatu menjuarai Liga Nusantara 2014, sehingga naik kelas ke Liga 2. Makanya ia sangat dikenal oleh publik sepakbola daerah tersebut.

Tak heran bila Bupati Tuban, KH. Fathul Huda tak dapat melepas senyum bahagia penuh kebanggaan sepanjang prosesi penyerahan medali emas. Dia lah satu-satunya Bupati di Bumi Wali yang turut serta mencetak sejarah emas sepakbola untuk Kabupaten Tuban.

Kita tentu mudah teringat dengan pesan dalam hadits qudsiy yang sering beliau kutip: “man lam yasykurin-naas, lam yaskurillah”, yang pengertian bebasnya berarti, barangsiapa tidak menunjukkan rasa syukur dengan memberikan kepedulian kepada sesama manusia, maka belum masuk kategori bersyukur kepada Allah.

Semoga tim sepakbola yang telah berhasil menorehkan sejarah emas, serta tim cabang olahraga lain yang juga mendapatkan medali, akan diganjar dengan imbalan bonus sebagai motivasi.

Penulis: Ahmad Dafit
Editor: Priyo Atmojo
Sumber: KONI Tuban, News Review, Wawancara
Fokus Berita: Porprov Jatim
Daftar Perolehan Medali Terkini

Tinggalkan Balasan