Sebab Ingatan Terlalu Sering Mengkhianati Kita

-

KUTULIS KAU, KENANG

Di hari-hari yang telah lewat, kau bercerita padaku tentang rembulan tak mencapai permukaan. Lalu kau mengiringku keluar, perlahan-lahan mengamati piringan jauh itu.
“Tulislah,” katamu, “sebab ingatan terlalu sering mengkhianati kita.”

Kutuliskan.
Kau serupa rembulan, kekasih, sebab kau tak pernah mengkhianati keberadaanku. Tapi kau maya, kekasih. Tak pernah kau menulisku sebagai kata yang bisa kau kenang. Tak pernah kau membacaku sebagai bahasa yang akan terngiang-ngiang. Kau hanya melintas sekejap, kekasih, tak meninggalkan jejak apa pun.

Kini, kau kenangku, kekasih.
Pergilah, jauh adalah tempat terbaik untuk pulang.
Pergilah jadi rembulan, agar aku bisa memotretmu dari datar permukaan.

(Pontianak, 2017)

Berita Terkait :  Setelah Lima Puluh Lima Juta Tahun
Berita Terkait :  Bupati Kubu Raya Dukung Setiap Desa Bentuk Bank Sampah

CUACA BERWARNA KITA

Gerimis menjelang senja, kekasih, adalah perasaan yang lumrah kita rasa
Seperti warna, ada saja bagian dari cuaca yang tak kita suka
Cuaca kala senja
Cuaca kala kita
Sama-sama cuaca yang asing
Cuaca yang tak bisa diterka

Seperti warna, kekasih, ada saja varian-varian baru yang tak bisa kita duga
Warna senja, warna kita, tak selalu berujung jingga

(Pontianak, 2017)

AKU MEMBACAMU, KAU MENYIMPULKANKU

Aku membacamu.
Kau menyimpulkanku.
Aku membacamu, berkali-kali.
Kau menyimpulkanku lagi dan lagi.
Kukatakan: aku membacamu hingga lembar terakhir, menuliskan garis-garis besar, kemudian menyimpulkanmu.
Simpulanmu tak berarti.

Ketika bayangmu menua Sepia, kau akan tahu bahwa kebebasan adalah penjara.
Segala yang kau genggam erat di udara akan lenyap dalam hampa.

Aku membacamu.
Kau menyimpulkanku.
Simpulanku usai.
Kau menuai badai.

Berita Terkait :  Bupati Kubu Raya Dukung Setiap Desa Bentuk Bank Sampah
Berita Terkait :  Puisi-Puisi Sengat Ibrahim: Ketika Jatuh Ke Dalam Cinta

Sepia, simpulan ditakdirkan berada di akhir segala.
Belajarlah membaca tanda-tanda.

(Pontianak, 2017)

Shella Rimang adalah seorang nomaden di Kota Khatulistiwa. Senang berpikir dan merenung. Karya-karyanya yang sudah diterbitkan antara lain: antologi puisi Perempuan Puisi (2016) dan Dialog 00.45 (2017).

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Berita Terkait :  Puisi Persembahan untuk Mbayong

TERBARU

Facebook Comments