Savanajaya | Puisi: Raudal Tanjung Banua

-

Di Ampenan, Masih Ada yang Kucari

Di Ampenan, Kiki
Masih ada yang kucari.

Cidomo mendesing lewat
Di depan bangunan tua
berwarna coklat dan biru muda.
Toko kelontong Ban Sin Liong
berganti tempat tambal ban sepeda
Tanpa modal yang cukup
Tak ada jualan di kota. Tapi seorang Arab
Masih setia membuka pintu toko buku & kitab
Setelah lebih dulu mengajak kemocengnya
Membaca debu dan jelaga
Di halaman buku dan kaca jendela.

Penjual kopi dan nasi puyung bertenda biru
Nempel di dinding belakang toko buku itu
Menghadap jalan Saleh Sungkar,
pahlawan yang kepalanya hilang terpancung
(senasib halaman buku yang hilang
di bab-bab belakang)

Lampu merah nyala
Di simpang lima. Seorang bule menjepit papan selancar
dibonceng motor seseorang yang mungkin bernama Lalu
Sebab ia terus berlalu ketika lampu masih berwarna merah.

Di seberang, bioskop Ramayana sudah jadi bank
dan yang masuk kehilangan tontonan
Tapi petugas bank bisa pura-pura menghibur semua orang
dengan surat-surat hutang. Seperti Rama dihibur para paria
untuk melupakan Shinta—sebut saja: gadis bank kasir kita
yang berangsur melupakannya di antara bara api angka-angka.

Dan bangunan coklat-biru muda di bait kedua, melengkung
persis geladak kapal, di atapnya parabola menadah
Langit Ampenan dan memberitakannya kepada dunia
Tapi tidak, dunialah yang memberitakan apa saja
Kepada Ampenan yang tua dan menolak dilupakan.

Di Ampenan, Kiki, aku terus mencari
Justru karena belum mendapatkan yang kucari
Jalan ke pantai lurus searah matahari,
entah terbit entah terbenam
datang dan pergi tak lagi kubilang.

Di sungai Jangkang segar daunan kangkung
Sesegar bunga mekar di tepi jalan
Sebuah jembatan menyeberangkan impian Mataram
Dari Selaparang ke Senggigi ke Gili Trawangan,
tak peduli siang atau pun malam
Sepanjang mimpi.

Jalan bersimpang membelah alun-alun kecil
seperti selangkang kasih seorang rabi
yang melahirkan dan mengalirkan
bocah-bocah mungil—diri kita yang tengil ini—
dan besar bertualang.

Jalan ke pelabuhan masih terbuka, lapang dan sepi
Gudang, rumah-rumah dan bangunan indisch
yang retak dan miring
disanggah kayu dan tongkat bambu,
karena tersintak ditepuk gempa
seperti tepukan telapak tangan kawan lama di bahu.

Berita Terkait :  Yang Pergi Adalah Waktu

Masih ada penyewaan vcd
di sebuah toko tanpa papan nama
Setia menanti orang macam kita yang selalu gagap
Mengganti gaya dan selera. Biarlah,
toh tangki-tangki pertamina dan vihara
Tak juga berganti warna. Gang-gang kampung
bernama suku dan negeri asal
memanjang: Bugis, Melayu, Jawa
menyatu tanpa membedakan warna tanah
Meski perahu-perahu mulai tersedu
kehilangan muara
dan sumbu api pelabuhan lama
sempurna sudah dipadamkan waktu.

Berita Terkait :  Sebab Pandemi

Tapi api akan nyala senantiasa
Di dalam tobong rumah duka Bintaro
arah utara. Di situlah kita pahami
Bahwa tanah, api dan udara adalah roh
bagi kota tua, persis tubuh kita
yang kelak akan sampai ke laut
batas muara.

Semuanya akan baik-baik saja
Semuanya akan tetap hidup
dalam wujud makam keramat
Loang Baloq dan Dende Seleh,
Dalam sijingkat ziarah,
Khusuk salawat dan keriuhan Lebaran Topat.

Maka aku terus mencari sejatinya Ampenan
di jejak-jejak kencing kuda, di aspal jalan yang tak rata
Seperti musfair lata mencari
ampunan. Kuraba ke dalam tasku, dan kudapat bukan kitab
pungkasan doa. Tapi buku puisi
bergambar bangunan lengkung bundar itu.
Di halamannya yang terbuka
kudengar sekali lagi kauberkata,
”Di Ampenan, apalagi yang kau cari,
Apalagi yang kaucari, diriku!”

Ikutlah denganku, Kiki
Kita mencari masa lalu dan masa depan Ampenan
yang sama lari menjauh ke Cakranegara dan Mataram
Bahkan menyeberang selat dan lautan
ke Bima, ke Taliwang, ke Makassar, Gianyar atau Denpasar
Tapi aku punya tak hanya satu bahan; seluas ampunan, sebuah kota tua
ibarat tikar pandan, anyaman tangan nenekku yang sabar,
yang kau tahu, belasan tahun lalu, pernah kutuliskan—dengan tanda seru,
dan katamu, tanpa sentakan itu: anyaman demi anyaman bagai persimpangan
yang bersilangan, tempatku duduk dan sembahyang!

Masih tanpa sentakan:
di situlah aku, dengan Ampenanku, dengan ampunanku,
menunggumu sepenuh salam!

“Assalamualaikum, selamat kembali
ke Ampenan, ya, sang Rawi Bakarti!”

2018-2021

Savanajaya

-mengunjungi Pak Yadiono

Kalau kau ingin tahu arti saudara,
Datanglah ke Savanajaya, unit khusus untuk tapol
yang sudah berkeluarga dan menolak pulang ke Jawa
atau kampung halaman di mana-mana
Mereka memilih tetap hidup di Buru, bukan karena malu
Tapi cinta pada tanah telah mengikat mereka
untuk tidak ke mana-mana.

Berita Terkait :  Puisi-Puisi Setia Naka Andrian: Sebuah Papan Nama

Mereka hidup berdampingan dengan orang-orang trans
yang didatangkan atas nama pembangunan
Dan seperti orang-orang trans,
mereka mendapat jatah yang sama: rumah,
pekarangan, kebun dan sawah
yang tanahnya dulu mereka buka,
babat alas dalam tahun-tahun cemas
ketika budi-emas dibalas tuba.

Berita Terkait :  Menunggu Subuh | Puisi-Puisi Mohammad Cholis

Kalau kau ingin tahu arti keluarga, Saudara
Savanajaya tepat buat menghayatinya
Tempat di mana seorang ayah diambil paksa
Dari pos jaga palang kereta
Lalu diseret ke kantor tentara
Setelah keningnya dicoret di depan anak-anaknya
Dengan pecahan kaca. Ini tanda si pendosa, kata mereka,
Maka kalian lupakanlah dia!

Tapi seorang istri sekaligus ibu tiga anak
Tak pernah melupakannya
Ketika kepala stasiun datang menyudu ketiaknya
Hidung panjang itu disingkirkan dengan sikunya,
lalu ia mengungsi ke los pasar
memilih menjadi kucing liar.

Bersama tiga anak kecilnya, ia mencicil upah harian
Mengumpulkan ongkos kapal. Bertahun kemudian,
ia ke pelabuhan, menyusul ayah anak-anaknya
ke timur Tanah Air, ke sini, ke Savanajaya
Dan tiga anak kecil menghapus coretan di kening itu
dengan kecupan matahari pada savana Buru.

Kalau ingin tahu makna keluarga, Jakarta
Berkacalah ke Savanajaya
Seorang kanak-kanak nyaris ikut dibogem mentah
Dengan sol sepatu sekeras ladam kuda
ketika ia menghambur di jendela
Mendekap bapaknya yang tersungkur di dingin ubin

Dan dengan sisa tenaga, demi keselamatannya,
si bapak melempar kembali si anak
ke luar dari jendela, dan syukur, ia balik tersungkur
di pelukan si emak. Lalu keduanya bergegas
menjauh naik becak. Si abang becak mengantarnya pulang,
menenangkan mereka, menolak ongkos dan menyelipkan satu perak
Ke tangan si bocah kanak yang terus menangis memanggil bapak.

Setelah dewasa, si anak terima surat pertama dari bapaknya
Bahwa ia akan bebas, ia akan bebas!
tapi ia tak minta ditunggu, tak minta dielu
Merekalah yang ditunggu, di sebuah rumah sederhana,
Merekalah yang dipuja, karena setia
seperti lahan yang dulu ia buka di Savanajaya.

Berita Terkait :  Perang dan Kesedihan

Ibu dan anak itu,
Dari sudut Jakarta yang kumuh berlayar ke cerlang laut Banda
Dan mendapatkan waktu begitu indah
Cinta mereka apalagi. Seperti aroma cengkih, pala dan fuli,
Selalu punya musim seminya sendiri.

Tak ada yang lebih indah dan jenaka daripada Savanajaya, Jakarta
Ketika orang-orang buangan selesai membuka lahan
Orang-orang trans tiba berbagi jatah lahan
Tapi mereka hidup bertetangga
Dalam ketenangan wajah Savanajaya.

Sebuah lapangan luas terbuka, sebuah gedung kesenian
Tegak di tepinya, selesai dipugar dalam suka cita
Sambil mengenang lakon-lakon wayang wong
yang dipertunjukan di antara lelah kerja
dan tokoh-tokoh yang gugur di Kurusetra
tak tertera. Dokumen dan monumen hanya memuat
nama-nama jendral dan perwira
Tak ada seorang pun nama warga Savanajaya
Dan untuk itu mereka tak pernah meminta.

Berita Terkait :  Khazanah Rindu | Puisi Faiqatul Jamilah

Begitu pula di halaman sekolah dasar
Sebuah patung burung garuda begitu besar
Tegak kokoh. Di Sanleko atau Mako, dan di mana-mana
ada banyak tugu dan monumen serupa. Tapi tak satu pun
untuk tapol yang dulu bekerja siang-malam
mengurak tenaga melepas nyawa

Maka kalau kalian ingin belajar kata ikhlas, Kawan
Di Savanajaya keikhlasan menyebar di udara terbuka
tanpa ruang kelas, tanpa coretan prasasti batu pualam
bahkan tak ada yang kelihatan di mata

Kecuali malam hari, bila kau hayati, yang bercahaya
bukan hanya bulan dan bintang di langit tinggi
Tapi di tepi-tepi tanah lapang Savanajaya
Ada sehimpun kunang-kunang merah, menyala
menerangi rumah-rumah dan jalan-jalan kecil di bumi
yang belum sepenuhnya kau kenali.

Savanajaya, 2018/ Bantul, 2020


Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Bukunya antara lain, Api Bawah Tanah (puisi), Kota-Kota yang Kuangan dan Kujumpai (cerpen) dan yang terbaru Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan (cerpen).

 

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments