Saudi Aramco Kembali Menunda Rilis Harga Jual Minyak

Saudi Aramco
(Foto: Sputnik News)

Berita Baru, Internasional – Saudi Aramco atau Saudi Arabian Oil Co merupakan perusahaan minyak nasional Arab Saudi yang berkantor pusat di Dhahran, Arab Saudi. Sebagai perusahaan dengan nilai tertinggi di dunia, nilai Saudi Aramco diperkirakan mencapai USD10 triliun.

Pada hari ini, Ahad (5/4), Saudi Aramco seharusnya mengumumkan harga jual minyak resmi mereka untuk bulan Mei. Namun, menurut kantor berita Bloomberg – mengutip sumber yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa Saudi Aramco memutuskan untuk menunda pengumuman harga jual minyaknya hingga akhir pekan ini.

Sumber tersebut juga mengatakan bahwa perkiraan Saudi Aramco akan merilis harga minyaknya pada hari Selasa atau Kamis pekan depan, sembari menunggu hasil dan keputusan dari pertemuan OPEC+ mendatang.

Sebelumnya, pada awal Maret, harga minyak global terjun bebas setelah anggota OPEC+ gagal untuk mencapai kesepakatan tentang pengurangan produksi di tengah krisis COVID-19. Dan kemudian ini mengakibatkan krisis ekonomi global.

Lebih lanjut, Bloomberg juga melaporkan bahwa penundaan tersebut merupakan penundaan yang dilakukan oleh Saudi Aramco selama 2 kali berturut-turut di luar jadwal pengumuman normal. Biasanya (normalnya), pengumuman harga minyak tersebut dilakukan setiap tanggal 5 awal bulan.

Berita Terkait :  Google Beri Peringatan Pengguna Huawei

Penundaan pengumuman harga minyak itu diperkirakan akan memengaruhi jumlah ekspor minyak regional sekitar 14 juta barel per hari ekspor minyak regional. Dan ini terjadi setelah Rusia juga mengatakan ingin menunda pertemuan OPEC+ yang rencananya akan dilakukan hari Senin (56/4) besok. Rusia kemudian mengatakan akan melakukan pertemuan OPEC+ pada tanggal 9 April.

Penundaan ini juga berhubungan harapan Presiden AS Donald Trump akan membaiknya hubungan Rusia-Saudi. Presiden Trump berharap selama pertemuan itu, Rusia dan Arab Saudi akan berhasil menyepakati perjanjian untuk mengakhiri perang harga minyak yang sudah terjadi sejak bulan lalu.

Terkait dengan Putera Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dalam pertemuannya dengan para eksekutif minyak AS pada hari Jumat (3/4), Trump mengatakan bahwa ia berpikir “Presiden Putin dan putra mahkota menginginkan sesuatu terjadi dengan buruk.”

Pernyataan Trump tersebut muncul setelah harga minyak AS naik sekitar 25 persen pada hari Kamis (2/4) setelah Trump mencuit di Twitter bahwa dirinya mengharapkan agar Arab Saudi dan Rusia setuju untuk memangkas produksi minyak di angka sekitar 10 juta dan 15 juta barel per hari.

Berita Terkait :  Badan Energi Internasional: Kesepakatan OPEC+ Tidak Akan Menstabilkan Pasar Minyak dalam Waktu Dekat

Rusia menyerukan untuk meninggalkan pengurangan produksi pada tingkat yang sebelumnya disepakati. Sementara Arab Saudi dan sekutunya menyarankan agar pemotongan tambahan dilakukan. Karena itu, Kementerian Energi Arab Saudi mulai menaikkan kapasitas produksi minyaknya dari 12 juta barel per barel menjadi 13 juta barel per hari.

Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin mengatakan pada saat itu bahwa runtuhnya perjanjian OPEC+ tidak terjadi atas inisiatif dari Moskow, mengingat bahwa “[…] kami menawarkan untuk memperpanjang perjanjian mengenai kondisi saat ini, minimal  hingga akhir kuartal kedua atau akhir tahun.”


SumberSputnik News
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini