Sang Penari | Cerpen S. Prasetyo Utomo

Hampir bertabrakan dengan Kodrat di lantai dua mal yang berjejal, sang penari segera memekik. Memeluk  Kodrat. Girang? Mungkin. Kaget? Mungkin. Terkesan sang penari  menerkam tubuh Kodrat. Masih seperti dulu ia. Lebih  menyerang. Lebih bergairah. Tapi perempuan itu segera tersadar. Orang-orang memandanginya.  Ia tak ingin menjadi tontonan pengunjung mal.  

“Kau lebih ganteng dan gagah!” seru sang penari, riang, kagum dan bernada sayang. “Kini kulitmu kuning, licin, bersih.”

“Kita berpisah sudah cukup lama. Seseorang pasti berubah.”

Terbelalak sepasang mata sang penari. Begini memang caranya menggoda Kodrat semasa dia kuliah mendalami seni tari. Dulu pertemuan mereka berlangsung di rumah ibu kandung Kodrat. Mereka bertetangga, duduk berdua dalam senyap pelataran dan wingit naungan pohon sawo.

Kini Kodrat merasa disindir dan ditertawakan sang penari. Sepertinya Kodrat memasuki belantara kehidupan ibu kota yang membuatnya asing dengan orang-orang daerah – seperti sang penari – yang berasal dari kenangan masa silam.  

“Penampilanmu memang berubah! Tapi, aku yakin, hatimu masih seperti sediakala, dendam pada ibu kandungmu di daerah. Sampai sekarang kau tak mau menengoknya?”

“Sudahlah!” hardik Kodrat.

“Untuk apa tersinggung? Ibumu selalu mengharap kehadiranmu.”

“Ibu sudah menyingkirkanku!”

“Mengapa kau tak mau memaafkannya sampai kini?”

“Ini  perkara hati. Bukan soal memaafkan!”

Tertawa  terbahak, sang penari semakin usil menggoda Kodrat. “Kamu sudah dikaruniai anak?”

Tak bersemangat, sambil menuruni eskalator, Kodrat menukas, “Belum. Jangan lagi kauolok-olok istriku.”

“Kamu tak mau menikmati banyak kemungkinan!”

“Aku sudah senang hidup begini. Menuntaskan seluruh waktu memburu berita untuk koranku.”

“Kau butuh orang macam aku, yang bisa memahami jiwamu.”

Sang penari terus merayu Kodrat, agar mereka bisa bersama lebih lama. Masih siang, sang penari punya waktu luang sampai pentas di gedung kesenian malam nanti.   Dia mencegat taksi. Kodrat mengikutinya. Mereka menuju  hotel tempat sang penari menginap.  

“Malam nanti kau pentas?”

“Ya. Kau perlu menulis berita pentas tariku,” tukas sang penari. Kerling matanya menikam. Kerling mata seorang penari yang sangat dipuja di panggung. Kodrat teringat bila sang penari sudah memiliki dua orang anak. Tapi tubuhnya masih tampak segar, seperti gadis matang menanti pinangan. Yang menandai kehadirannya sebagai penari, terutama kelenturan tubuhnya. Gerakan-gerakannya gemulai. Begitu pula lekuk senyumnya, memendam daya pikat.

Di dalam taksi masih saja sang penari bercerita saat-saat mereka duduk merapat di bawah pohon sawo sampai menjelang tengah malam. Sesekali dia mengingatkan Kodrat pada Ibu – perempuan yang menjanda, tinggal di perkampungan pinggir kota pesisisir utara pulau. Tiap kali berbicara mengenai Ibu, mata sang penari senantiasa meredup.

***

MALAM hari menjelang pentas, sang penari tampak luwes dan memikat. Tampil dalam puncak kecantikannya. Kian matang, kian memikat.  Orang tak bakal menyangka, dia sudah memiliki dua orang anak. Tampak begitu agung. Harum tubuhnya terhirup lembut, mengembangkan dada bidang Kodrat. Sang penari cukup sadar akan hal ini. Dia  berhasrat menggoda Kodrat. Alangkah sulit Kodrat mengindari perangkap kelembutan daya pesona sang penari.

“Kupikir suamimu bakal bangga melihatmu dalam dandanan macam ini!” kata Kodrat mengembalikan kesadaran sang penari pada suami.

“Oh, dia tak akan peduli. Terlalu sibuk dengan bisnisnya.”

“Kedua anak lelakimu mungkin bakal terpukau mengagumimu!”

Hampir cemberut, sang penari menukas, “Mereka masih terlalu kecil. Belum lagi bisa merasai kekaguman macam ini.”

“Barangkali karena kau tak dekat dengan anak-anak?”

“Rupanya kau mau mengadiliku,” terka sang penari. “Tak seorang pun bisa mengadiliku. Mestinya kamu bisa memahami suamiku yang tak mungkin mewariskan keturunan. Harus kuakui, dua anakku lahir dari lelaki lain. Dan kini aku merindukan kelahiran anak ketiga.”

“Siapa lagi lelaki yang bakal kamu pikat?”

“Lelaki itu bakal datang sendiri menyertaiku. Tak perlu kupikat.”

Sang penari tertawa nakal. Dia begitu kuat pada keyakinannya. Kodrat mulai berpikir: akukah yang dimaksudkannya? Gila. Terlalu berani dia. Dua anak lelakinya lahir dari dua orang lelaki yang bukan suami sang penari. Kini sang penari menghendaki anak ketiga. Dalam hati Kodrat berharap, semoga bukan dirinya yang menjadi sasaran sang penari. Ia tak ingin terlibat dalam perangkap pesona sang penari.  Dadanya merasakan getaran saat sang penari menjauh,  memendam senyum samar dan mengerling, lalu naik panggung.

Decak kagum penonton mengiringi kegairahan sang penari di atas panggung. Sang penari memerankan Dewi Kunti yang menerima karunia tiga dewa untuk melahirkan tiga ksatria. Lama Kodrat tak bersua sang penari, sekali ini menyaksikan kecekatannya menari klasik. Tekesima. Ia menari seperti tertiup roh Dewi Kunti dalam raganya. Lelaki-lelaki yang menonton tampak mabuk kepayang, dengan cahaya mata yang memburu setiap gerak sang penari di atas  panggung. Lagi, dalam hati Kodrat bertanya: akankah aku terhisap kekaguman padanya?

Malam seperti menghembuskan beribu jarum menusuki dada Kodrat saat diam-diam meninggalkan panggung. Menyelinap keluar gedung pertunjukan. Mendapati suasana lengang jalan ibu kota. Langkah-langkah kakinya memberat. Tertahan suara gamelan. Terdengar suara riuh tepukan. Sesekali keinginan berbalik langkah menguasainya. Tetapi ia memaksa menyeret kaki. Tiba di tepi jalan, taksi mengantarkannya ke hotel.

Tengah malam, saat Kodrat menulis berita pementasan tari klasik yang tak selesai ditonton, sang penari mengetuk pintu kamar. Tubuhnya lunglai, masih menyisakan dandanan panggung, merebahkan diri di ranjang. Tenang, penuh hasrat tersembunyi. Matanya bergetar dan menampakkan senyum samar.

“Sepulangku dari sini besok, ibumu bakal kurawat. Tak tega aku membiarkannya hidup seorang diri. Kau memberi hukuman padanya,” kata sang penari sungguh-sungguh.

“Aku tak memintamu merawatnya.”

“Hatiku sendiri yang memintanya,” tukas sang penari manis. Kekuatannya berkiprah di panggung terus terbawa sampai kamar hotel. Dada Kodrat bergemuruh. Sang penari menggeraikan rambutnya. Berbaring. Menggeliat. Ruang kamar terserap dalam pengaruh daya pesonanya. Sang penari sadar benar, esok pagi mereka mesti berpisah. Kodrat kembali dalam kesibukannya memburu berita, dan ia mesti pulang ke kota pesisir utara pulau dalam penerbangan pertama.

***

EMPAT bulan setelah sang penari meninggalkan Kodrat di kamar hotel, menjelang pagi berdering telepon. Tangan  Kodrat bergetar menerima telepon dari sang penari. Apa yang terjadi? Kodrat diminta pulang, Ibu meninggal dunia. Ia bergegas ke bandara. Haruskah aku meratap? Sejak lahir Kodrat dicampakkan Ibu. Lahir dan besar dari seorang Ibu yang meninggalkan suaminya. Kodrat hidup dalam kegersangan. Ia dilindungi ibu tiri dan mencari masa depannya sendiri.

Kodrat sudah tak lagi gampang tersentuh rasa duka. Yang dipikirkannya cuma kesibukan sang penari. Dialah yang senantiasa menyempatkan diri melindungi Ibu. Bagi Kodrat, Ibu cuma bagian dari masa lalu yang menyeretnya ke lorong-lorong gelap.

Menjelang siang Kodrat memasuki kota kelahirannya. Taksi bandara berhenti di bawah pohon sawo. Di luar dugaannya, rumah Ibu sudah dipugar. Bagian pendapa menjadi sanggar tari dengan seperangkat gamelan. Sang penari menyambut Kodrat dengan wajah kepucatan kurang tidur, letih dan bekas lelehan air mata.

“Jangan keburu marah dulu,” kata sang penari, setengah membisik. “Rumah ini kupugar dan kupakai sanggar tari. Ibumu telah menjualnya padaku.”

“Kau merampasnya?”

“Sekasar itu kau menuduhku?”

“Tabiatmu sudah kupahami. Kau akan menggunakan segala kekuatanmu untuk menaklukkan siapa pun.”

 Di depan jasad Ibu yang terbujur, Kodrat masih menyembunyikan kekesalan hatinya. Sang penari terdiam. Tertunduk. Sesekali tangannya mengelus perut yang sedikit menyembul dari gaun. Ya, Allah! Sang penari mengenakan gaun hamil. Dia tampak lembut. Tak lagi memasang perangkap.

“Ibumu merasa kautelantarkan. Dia kehilangan kamu,” kata sang penari hati-hati. “Tahukah kau, dia merasa sia-sia melahirkanmu. Segalanya telah  diceritakan padaku. Ibumu menjalani hidup sebagai istri kedua, tak bisa mempertahankan perkawinan, memilih meninggalkan suami dan kau yang masih bayi. Kau dendam karena dibesarkan ayah dan ibu tirimu, tanpa pernah menerima kasih sayang ibu kandung.”

Kodrat meninggalkan sang penari dan jasad Ibu. Ia mengamati gamelan di pendapa. Duduk di pelataran, dalam naungan pohon sawo, di antar para pelayat. Di sini dulu, semasa kuliah, saat Kodrat mencari ibu kandungnya, sempat merenung lama. Ia merasa terasing dengan perempuan yang melahirkannya. Di sini pula Kodrat mengenal sang penari yang menemani berbincang-bincang dan menggodanya. Ia memutuskan untuk tidak tinggal bersama ibu kandungnya. Ia tak pernah mengenal ibu kandung semenjak bayi. Ia asing dengan ibu yang melahirkannya. Ia  memilih tetap tinggal bersama ibu tiri di kota kecil, meski Ayah sudah meninggal. Ibu tiri inilah yang menghidupinya dengan kecintaan dan penerimaan sampai ia lulus kuliah.

Sang penari menyusul Kodrat ke bawah pohon sawo. Masih dengan wajah pucat, rambut teracak-acak dihembus angin.

“Kubeli rumah ini dan kudirikan sanggar tari, biar ibumu menemukan gairah hidupnya,” kata sang penari. “Dia seorang penari di masa lalu. Aku ingin mengembalikan kebahagiaan hidup di hari tuanya.”

Kodrat tak mau percaya omongan sang penari. Telah terbiasa sang penari dalam sikap dan pembicaraan yang manis. Kodrat mesti mempertajam  kecurigaannya pada sang penari. Rupanya perempuan itu cukup sadar bila Kodrat mencurigainya.

“Ibumu rindu menggendong cucu,” suara sang penari mulai terisak. “Dia rindu melindungi bayi dari benihmu, untuk menebus kesalahan di masa lalu. Ketika mengetahui perkawinanmu tak mungkin dikaruniai anak, karena rahim istrimu diangkat pada saat operasi tumor kandungan, ibumu selalu mengutuki dirinya sendiri.”

Kegersangan hati Kodrat seperti dirembesi kehangatan sang penari.

“Lihat, perutku! Tengah kukandung darah dagingmu. Kupenuhi permintaan ibumu untuk memberinya cucu.”

Terkesiap darah Kodrat, memuncak ke ubun-ubun. Terasa terbakar kepalanya. Lekat dan tajam ia memandangi sang penari. Dari mata sang penari yang berair memantulkan perangai di atas panggung saat memikat penonton.

***

                                                                   Pandana Merdeka, Februari 2021


             

S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  

Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa seperti Horison, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia,  Suara Karya,  Majalah Noor, Majalah Esquire, Basabaasi.

Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novelnya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Kumpulan cerpen yang terbaru adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini