Sampaikan Kritik Lewat Komedi, Sakdiyah Ma’ruf: Menyentuh Alam Bawah Sadar

-


Berita Baru, Jakarta – Stand Up Comedian atau Komika Sakdiyah Ma’ruf menceritakan perjalanan karirnya yang dikenal kerap mengkritisi isu-isu sensitif seperti konservatisme agama dan ketimpangan gender. Hal itu diungkap Sakdiyah dalam BERCERITA #18 dengan tema ‘Komedi Sebagai Seni Kritik’ yang dipandu Davida Ruston Khusen, Selasa (20/10) malam.

Berangkat dari kegelisahan hati atas situasi sosial, perempuan yang akrab disapa Mbak Diyah ini mengemas kritikannya dalam balutan komedi tunggal atau yang lebih kita kenal dengan Stand Up Comedy.

“Komedi itu seperti menemukan jalan pulang bagi saya,” ungkap Mbak Diyah.

“Saya pernah bergabung di organisasi mahasiswa, pers kampus, BEM, pegang toa dengan baju pink, penerbitan (menulis buku, red) untuk menyampaikan kritik. Tapi, ternyata rezekinya emang di sini (komedi),” sambung Wanita pemilik gigi kelinci itu.

Berita Terkait :  Inaya Wahid: Covid-19 adalah Mental Gaming

Bagi Mbak Diyah, menjadi komika adalah pilihan hidup. Bahkan lewat jalur komedi dirinya beranggapan dialog, pesan maupun kritik dapat tersampaikan tanpa menimbulkan ketersinggungan secara individu maupun kelompok.

Berita Terkait :  Refleksi Akhir Tahun, Ini Kata Buya Husein Soal Cinta, Terorisme, dan Covid-19

“Komedi lebih efektif dalam menyampaikan dialog untuk menyampaikan pesan. Kita menyampaikan pemikiran tanpa menggurui, tanpa bersikap agresfi ya. Komedi menyentuh alam bawah sadar, sebagai bentuk dari kesenian juga. Jadi kita diingatkan, disinggung dengan cara yang tidak membuat kita mudah tersinggung,” jelasnya.

Mengawali karir sejak tahun 2009 silam, tidak menyulutkan semangat Mbak Diyah dalam memperjuangkan hal yang telah menjadi kegelisahan hatinya sejak kecil.

“Saya tumbuh dan dibesarkan dari keturunan Arab Hadrami di Pekalongan. Di lingkungan itu saya mengalami dan menyaksikan sendiri berbagai hal, misalnya normalisasi pernikahan anak,” terang Sakdiyah.

Berita Terkait :  Azri; Penderita Penyakit Jantung, Katarak, & Gangguan Pendengaran

“Dan di tahun 2020 pernikahan anak (di bawah 18 tahun_red) masih saja terjadi. Kalau kita lihat diberbagai tempat di Indonesia, pernikahan anak itu sering berbicara kemiskinan, kondisi sosial dan ketidak-mampuan orang tua dalam mendukung pendidikan anak,” lanjut Mbak Diyah.

Berita Terkait :  FWI Sebut Hutan Indonesia Hilang Setara 75 Kali Yogyakarta

Terkait isu itu, Mba Diyah kerap menyindir berbagai pihak lewat panggung komedinya, Ibu anak satu tersebut mengisahkan, sahabatnya yang pernah diberikan pesan dari sang ayah agar rela dimarahi suami asalkan tak terkena kekerasan fisik.

“Salah seorang sahabat saya dari komunitas yang sama mengatakan, ayahnya bilang gapapa deh kalo laki-laki itu naikin suara gitu ya (marah) yang penting jangan mukul. Jadi seorang bapak kepada anak perempuannya merelakan anak perempuannya dimarahin suaminya,” kenang Mbak Diyah.

Berita Terkait :  18 Tim Lolos Tembus Babak Final Medical Online Championship

Bahkan, konsistensi wanita yang pernah berdiri di panggung Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) dalam membawakan isu konservatif agama dan ketimpangan terhadap perempuan tersebut mampu mengantarkannya sebagai 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia versi BBC. [Gerard]

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments