Rumahku, Ruang untuk Pulang

Rumahku
(Foto: Istimewa)
Daruz Armedian

Daruz Armedian

Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Bergiat di Lesehan Sasta Kutub Yogyakarta.


Pintu

pintu rumahku, sebuah pintu bahasa
yang menyediakan makna-makna,
sekumpulan ensiklopedia, yang jika dibuka,
seluruh pengetahuan memancar dari sana.
pintu rumahku, sebuah jembatan
antara pergi dan pulang,
batas antara ada dan ketiadaan,
pembeda antara ingar-bingar
dan heningnya kesendirian.
pintu rumahku, sebuah jalan
lapang, yang siapa pun ia,
pembenci atau pecinta,
bebas melewatinya.

10/05/20

Jendela

jendela rumahku, kanvas luas
penuh lukisan: hutan hijau dan
biru air danau, burung-burung
dan bentangan halimun,
pegunungan dan sepasang
kekasih yang bertualang.
jendela rumahku, lorong panjang
untuk masa yang akan datang:
masa di mana tak ada peperangan,
intrik politik, penindasan dan
suara-suara tentang kebencian.
jendela rumahku, mata bumi permai
yang hening, diam, dan damai.

10/05/20

Ruang untuk Pulang

aku menata ruang
untuk pulang
bagi pikiranku
yang terlalu jauh menyusuri
jalan dendam, rasa benci,
dan kecewa yang berlebihan.

aku menata ruang itu
sejak kutahu hidup
(suka atau tidak/mau atau tidak)
hanya soal menyadari:
kelahiran dan kematian adalah
kesia-siaan yang dirayakan
secara berlebihan.

Berita Terkait :  Teologi Ekologi

ruang itu sedang-sedang saja.
tidak lebih luas dari jagat raya.
tidak lebih sempit dari
cara pandang manusia.
tapi setidaknya pikiranku
bisa tertampung di sana:
istirahat yang cukup.
berhenti menghakimi.
menghindar dari apa pun
yang terlalu bergantung
pada orang lain.
tidak membenci siapa pun
termasuk pada yang asing.

2019



- Advertisement -

Tinggalkan Balasan