Ruhollah Zam, Jurnalis Iran yang Dihukum Gantung

-

Berita Baru, Internasional – Ruhollah Zam, seorang jurnalis pemberontak diieksekusi oleh otoritas Iran, setahun setelah ia ditangkap oleh Pengawal Revolusi elit Iran di Irak dan dipulangkan secara paksa untuk diadili.

Zam (47), dihukum gantung pada Sabtu pagi (11/12) waktu setempat, media pemerintah Iran melaporkan. Sehari sebelumnya, saat kelurga Zam berkunjung pihak penjara dan otoritas kehakiman tidak memberi tahu tentang eksekusi yang dijadwalkan kepada Zam, kata Amnesty International.

“Pihak berwenang bergegas untuk mengeksekusi Ruhollah Zam dalam apa yang kami yakini sebagai upaya tercela untuk menghindari kampanye internasional untuk menyelamatkan hidupnya,” kata Diana Eltahawy, wakil direktur kelompok hak asasi Timur Tengah.

Eksekusi Zam, sebagaimana dilansir dari The Guardian, menandai kebebasan berekspresi di Iran dan menunjukkan sejauh mana taktik brutal otoritas Iran untuk menanamkan rasa takut.

Eksekusi Zam menuai banyak kecaman, termasuk oleh kelompok kebebasan pers Reporters without Borders dan Committee to Protect Journalists.

Putra seorang ulama Syiah pro-reformasi, Zam telah melarikan diri dari Iran setelah protes anti-pemerintah pada 2009, dengan mengatakan bahwa dia telah dituduh bekerjasama dengan badan intelijen asing.

Zam tinggal di sebuah pengasingan di Paris dan menjalankan situs web populer, AmadNews, dan memiliki saluran media sosial di aplikasi perpesanan Telegram dengan lebih dari satu juta pengikut.

Selama protes 2017, dia membagikan waktu dan detail demonstrasi lainnya, serta informasi yang mencerabut reputasi para pejabat serta tantangan langsung terhadap teokrasi Syiah Iran.

Demonstrasi, yang dipicu oleh lonjakan harga pangan yang tiba-tiba, adalah tantangan terbesar bagi pemerintah Iran sejak protes Gerakan Hijau tahun 2009 dan memicu kerusuhan massal serupa pada November 2019.

Jaringan Telegram menutup salurannya karena pelaporan oleh pemerintah Iran yang menyebarkan informasi tentang cara membuat bom bensin. Saluran tersebut kemudian dilanjutkan dengan nama yang berbeda. Zam membantah menghasut kekerasan di Telegram.

Pada Oktober 2019, Pengawal Revolusi Iran mengatakan telah menjebak Zam dalam “operasi kompleks yang menggunakan tipuan intelijen”. Tidak disebutkan di mana operasi itu dilakukan, tetapi kelompok hak asasi mengatakan dia berada di Irak saat itu.

Segera setelah penangkapannya diumumkan, TV pemerintah Iran menayangkan video Zam yang ditutup matanya di dalam mobil, kemudian dia meminta maaf atas tindakannya, kata CPJ.

Dimulai pada Februari tahun ini, pihak pengadilan menyatakan Zam tidak bersalah dalam kasus ini, namun pada Juni pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Zam, menyebutnya telah “korupsi di Bumi”, tuduhan yang sering digunakan dalam kasus-kasus yang melibatkan spionase atau upaya untuk menggulingkan pemerintah Iran.

Pada 8 Desember, mahkamah agung menguatkan hukuman mati. Prancis mengutuk keputusan itu sebagai “serangan serius terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan pers di Iran” dan meminta negara itu untuk menghormati kewajiban hak asasi manusia internasionalnya.

Dalam sebuah wawancara di bulan Juli, Zam mengalami penurunan berat badan hingga 30kg sejak penangkapannya. Dalam sebuah surat, ayahnya mengatakan kepada kepala pengadilan Iran bahwa jurnalis Zam ditahan tanpa kontak dengan keluarga atau pengacaranya selama sembilan bulan, kata Amnesty International.

Ayahnya mengatakan Zam hanya diizinkan untuk bertemu dengan pengacaranya yang ditunjuk pengadilan di hadapan petugas keamanan.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments