Roket China, Long March 5B (CZ-5B), Jatuh di Samudera Atlantik

Berita Baru, Roket China, Long March 5B (CZ-5B)
(Foto: Spacenews)

Berita Baru, Internasional — Sebuah potongan roket buatan China, Long March 5B (CZ-5B), jatuh tidak di Samudera Atlantik dekat pantai Mauritania, Senin (11/5).

Dikabarkan bahwa roket tersebut merupakan bagian dari eksperimen untuk mengirim manusia ke bulan di masa depan.

Roket itu diluncurkan ke angkasa pada 5 Mei 2020 sebelum akhirnya bagian inti yang berbobot 18 ton jatuh tak terkendali, tepatnya di daerah perairan pantai barat Mauritania.

Dilansir dari laporan MEMO roket China itu diluncurkan dengan misi kapsul kargo dan pesawat antariksa generasi baru ke antariksa yang nantinya bakal digunakan untuk mengirim astronot ke Bulan dari stasiun antariksa China.

Bahkan, roket itu juga akan digunakan dalam pendaratan di Bulan yang ingin dilakukan China dalam agendanya di masa depan.

“Jatuhnya pecahan roket berbobot 17,8 ton itu dideteksi dan dilacak oleh unit Angkatan Udara Amerika Serikat, Skuadron Kontrol Antariksa ke-18, yang melacak serpihan antariksa di dalam orbit Bumi,” terang laporan MEMO.

Sebuah dugaan mengatakan, bahwa pecahan roket itu jatuh di sekitar Afrika, AS, atau Australia, di mana sebagian besar diduga di perairan, dengan kecil kemungkinan jatuh di darat.

Berita Terkait :  Rencana Insinerator Memicu Kerusuhan Massa di Wuhan

Jatuhnya serpihan benda antariksa dan sisa roket itu hampir selalu direncanakan oleh para operator, tapi kadang dikontrol ketika kembali ke Bumi, hingga pendaratan tidak bisa terkontrol seperti ini.

Biasanya, rata-rata pendaratan tidak terkontrol dialami oleh roket Rusia, Salyut 7 pada 1991, yang berbobot 39 ton.

China telah mengalami kemajuan dalam program antariksa selama beberapa tahun terkahir, terutama dalam rangka menyaingi Amerika Serikat.

Bahkan, Beijing juga melakukan kerja sama dengan negara-negara Timur Tengah ketika Iran dan Arab Saudi juga turut dalam perlombaan antariksa.

Suatu hari, Iran meluncurkan satelit pertama ke orbit bulan, dan AS mencurigai ambisi antariksa Iran itu sebagai bagian dari pengembangan teknologi rudal jarak jauh.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan