Robikin: 2019 Indonesia Telah Lolos Dari Banyak Peristiwa Penting

Berita Baru, Jakarta – Ketua Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengungkapkan, di tahun 2019 Indonesia telah lolos dari banyak peristiwa penting. Salah satunya adalah Pilpres dan Pileg yang berlangsung dengan segala dinamika dan ketegangannya. Sehingga layak dipetik sebagai pelajaran untuk memperkuat pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dengan segala riuh-rendah dan ancaman segregasi sosial bernuansa SARA. Bangsa Indonesia—Alhamdulillah—lolos dari prahara perpecahan,” tulis Robikin dalam akun Instagramnya @robikinemhas pada Kamis (02/01/2020).

Dalam acara yang bertema ‘Refleksi Akhir Tahun 2019 dan Tausiyah Kebangsaan 2020’ di Gedung PBNU, Jakarta, Robikin menerangkan bahwa rekonsiliasi perlu didorong terus-menerus.

“Melalui semen-semen perekat sosial sehingga mengembalikan semangat gotong royong, tepo seliro, rukun dan guyub yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dan ber-bhinneka tunggal ika,” ujarnya.

Menurut Robikin, Nahdlatul Ulama merasa perlu mengingatkan kembali seluruh elemen bangsa tentang khittah NKRI.

“NKRI didirikan oleh para founding fathers dengan semangat kebersamaan. Pancasila adalah konsensus yang menengahi seluruh perbedaan, tenda besar yang menaungi seluruh komponen bangsa tanpa membedakan asal-usul suku, agama, ras, dan antar-golongan,” jelas Robikin.

Terkait hal tersebut, Robikin mengungkapkan, proses integrasi dipupuk untuk mengatasi segregasi horizontal dan vertikal dalam rangka menghapuskan diskriminasi sosial dan ekonomi.

“Seluruh warga negara sama kedudukannya di muka hukum. Tidak ada mayoritas dan minoritas. Tidak ada ras dan etnis tertentu yang lebih unggul dibanding yang lain. NKRI yang diikat oleh Pancasila dan UUD 1945 serta berdiri di atas prinsip Bhinneka Tunggal Ika merupakan prinsip-prinsip final yang harus dipertahankan sampai kapan pun,” tuturnya.

Dia juga mengingatkan, di tengah gelombang pasang kembali ke agama, para politisi hendaknya berhenti mengeksploitasi agama sebagai basis preferensi elektoral.

“Nahdlatul Ulama perlu mengingatkan tentang trilogi ukhuwwah sebagai fundamen membangun persaudaran. Yaitu persaudaran keislaman (ukhuwwah Islamiyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyah), dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah basyariyah/insaniyah),” terangnya.

Di akhir postinganga Robikin menafsirkan sebuah ayat yang mengatakan, dia yang bukan saudaramu seagama adalah saudaramu sebangsa. Dia yang bukan saudaramu seagama dan sebangsa adalah saudaramu sesama anak manusia. Kebangkitan kembali ke agama hendaknya tidak melahirkan sektarianisme yang menimbulkan segregasi dan skisma sosial.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini