Review Buku “Growing Up Bin Laden”: Bagaimana Osama Menjadi Seorang “Osama”?

    Berita Baru, Buku – Tak ada orang yang terlahir menjadi teroris. Lalu kenapa seseorang bisa menjadi ekstrimis, teroris? Saya kira wawancara Jean Sasson dengan istri pertama Osama, Najwa Ghanem, dan putra keempat Najwa, Omar bin Laden, di buku Growing up bin Laden (2010) terbitan Literati bakal memberi jawaban itu.

    Tapi nggak, ding. Isi buku ini lebih dari itu.

    Sejak awal, perkenalan saya dengan Najwa Ghanem, istri pertama Osama, sudah sangat berkesan. Najwa bukan perempuan Suriah biasa. Ia seorang pembaca buku yang suka melukis dan berolahraga, serta benci berpakaian konservatif –ya ampun, seorang pemberontak! Tapi lelaki yang dicintainya adalah Osama bin Laden, sepupunya sendiri, seorang keturunan hartawan yang karib dengan kerajaan Saudi. Osama terpikat oleh Najwa. Dan risikonya adalah, Najwa menjadi istri Osama, sekaligus “seniman tanpa lukisan.”

    Pemberontak belia itu terpaut hati pada karisma Osama: lelaki misterius, serius, dan pemberani. Sayangnya, rumah tangga yang ia bayangkan tak pernah jadi kenyataan. Invasi Uni Soviet atas Afghanistan pada 1979 menguras perhatian suaminya. Setelah menikah, Osama makin sibuk membela Muslim Afghan. Aktivitas ini rupanya tak berhenti, sementara Najwa terus-terusan hamil, dan Osama terus-terusan menikah lagi (ya, tentu saja dengan rayuan “kamu akan memperoleh surga” sebagai pamungkas –duh, Bang!) sekaligus harus membagi waktu antara keluarga, perang, mengurus perusahaan almarhum ayahnya.

    Berita Terkait :  CSIS Ungkap Pembangunan Kapal Induk Ketiga China

    Tak terbayangkan pula repotnya memboyong empat istri (nantinya bertambah jadi enam) dan anak yang terus dilahirkan, dari Jeddah, ke Pakistan, ke Madinah, Sudan, Afghanistan, sebagai cara Osama melindungi keluarganya. Tapi, uang jelas perkara gampang bagi bin Laden. Apartemen selalu ada, bagai sulap saja.

    Sejak anak-anaknya mulai beranjak remaja, Osama mendidik mereka agar hidup tahan banting. Tak ada gelak tawa. Osama pria yang gigih, seorang perfeksionis yang penuh perhitungan. Najwa mengimbangi karakter Osama dengan berkasih sayang pada anak-anak dan membelokkan beberapa aturan rumah agar mereka tak merasa seperti hidup di penjara.

    Tapi, mimpi buruk tetap terjadi. Ketegangan antara Osama dengan kerajaan Saudi dimulai ketika Amerika berhasil merayu Saudi agar memberi mereka akses militer untuk melawan Saddam Husein. Kerajaan tak keberatan, tapi Osama iya. Dia berang karena harusnya kerajaan Saudi tahu bahwa Osama telah memiliki cukup pasukan untuk menjaga tanah mereka sendiri. “Kita tidak butuh Amerika!” katanya.

    Tertanggal 11 September 2001, Amerika dihantam serangan serius. Setelah Osama menyatakan diri sebagai pelaku, Omar yakin serangan balik bakal terjadi. Benar, bom Amerika jatuh di Afghanistan pada bulan berikutnya. Osama tewas di Pakistan pada 2011 oleh militer Amerika, setahun setelah buku ini terbit.

    Berita Terkait :  Pemberian Antibiotik pada Anak di Bawah 2 Tahun Meningkatakan Resiko Penyakit Kronis

    Kamu bakal lihat Osama sebagai suami yang romantis, pandai menyenangkan istri, meski tegas dan keras.

    Osama memilih “berjihad” ketika sebagai seorang agamis dia sadar muslim telah digencet habis-habisan oleh musuh yang ingin mengusir dan menguasai tanah orang Islam. Membajak kekayaan negeri mereka. Osama yakin itulah tugasnya di dunia; mengusir balik para penjajah. Sebuah ide yang berakhir kebablasan.

    - Advertisement -

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini