Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

RCCC UI Gelar Diskusi Bertema "Basic Income for Nature and Climate : Setuju atau Tidak?"

RCCC UI Gelar Diskusi Bertema “Basic Income for Nature and Climate : Setuju atau Tidak?”



Berita Baru, Jakarta – Research Centre for Climate Change Universitas Indonesia atau (RCCC) Universitas Indonesia (UI) menggelar diskusi virtual bertema “Basic Income for Nature and Climate : Setuju atau Tidak?” pada Kamis, (29/04/21). Diskusi tersebut merupakan serangkaian acara Peluncuran Laporan Basic Income for Nature and Climate.

Diskusi yang diikuti oleh sekitar 70 peserta tersebut menghadirkan dua narasumber yang sama-sama berlatar belakang millenial.Keduanya adalah Manik Marganamahendra (Ketua BEM UI 2019) dan Ikrom Mustofa (Generasi Cerdas Iklim). Proses jalannya diskusi dipimpin oleh Sonny Mumbunan dari RCCC UI.

Mengawali proses jalannya diskusi, Sonny memberikan selayang pandang tentang definisi Basic Income secara global, serta rencana pengaplikasiannya di Indonesia. “Basic Income secara global diartikan sebagai pembayaran tunai terhadap individu yang diberikan secara berkala tanpa adanya syarat-syarat, baik syarat kerja atau syarat batasan pendapatan, sedangkan dalam konteks ini kita akan membahas secara spesifik Basic Income untuk alam dan iklim sebagai bentuk respon atas terancamnya dua hal fundamental tersebut” tuturnya.

Sonny menambahkan, “Di negara kita kita ambil contoh Papua yang kaya raya tapi miskin, artinya ia kaya dalam ketersediaan alam serta kekuatan produksi oksigen tapi miskin karena tidak banyak yang memberinya atensi selaku pulau yang banyak berkontribusi pada ketersediaan oksigen dunia, hal ini miris dimana Papua yang miskin diminta untuk menyelamatkan kehidupan dunia tanpa dukungan materil, atas dasar itulah Basic Income for Nature and Climate ini hadir,” pungkasnya.

Menanggapi pantikan materi tersebut, Manik memberikan tanggapan bahwa dia seruju dengan wacana tersebut apalagi sampai hari ini masyarakat kelas bawah masih banyak terkena dampak pandemi Covid-19.

“Saya rasa ini adalah momen yang pas, wacana Basic Income hadir ditengah situasi perekonomian masyarakat (terutama kelas menengah kebawah, red) yang kurang stabil akibat terpaan pandemi ini,. Saya berpandangan jika ini terealisasi akan menjadi modal bagi masyarakat untuk level up dalam kegiatan ekonominya,” tuturnya.

Manik berharap wacana  Basic Income ini benar-benar serius, baik dari penggagas atau elemen terkait yang akan ikut andil dalam ranah eksekusinya. “Saya rasa wacana ini tidak bisa direalisasikan tanpa kolaborasi, baik itu relasi vertikal maupun horizontal. Oleh karenanya perlu kita lebih serius dalam menyuarakan wacana ini dengan kerja berbasis kolaborasi,” tegasnya.

Sementara menurut Ikrom, wacana Basic Income adalah suatu gagasan dengan targetan yang terukur baik keberpihakan atau dasar pewacanaannya yang sangat progresif.

“Saya melihat Basic Income ini adalah wacana yang jelas dan berkesinambungan, salah satu yang jelas-elas saya lihat adalah wacana ini akan mendukung Sustainable Development Goals atau SDG’s,” tuturnya.

“Basic Income dalam konteks sekarang saya rasa sangat penting untuk segera dilaksanakan, tapi tentu sebelum terjun harus dipersiapkan bahan tempurnya. Untuk mencairkan dana barangkali urusan yang tidak terlalu rumit ya, tapi mengedukasi masyarakat tentang penggunaan dana itulah pekerjaan beratnya, kalau kita ngasih dana kemudian digunakan untuk hal-hal yang non-produktif sama aja kita blunder besar dong,” imbuhnya.

Lebih jauh dari itu, Ikrom optimis bahwa apabila Basic Income benar-benar terealisasi maka dampaknya akan sangat signifikan. Menurutnya salah satu dampak Basic Income adalah Indeks Kebahagiaan masyarakat yang akan meningkat karena akan punya modal dan akan lebih banyak menghadirkan alternatif pembelian. Selain itu, GDP diyakininya akan mengalami peningkatan seiring daya beli masyatakat yang meningkat.

Selain membahas sisi positif, diskusi tersebut juga menguliti sisi negatif Basic Income. Manik berpendapat tentang kehawatiran dana yang dicairkan ke masyarakat digunakan untuk hal-hal yang kurang produkti, ia memisalkan digunakan untuk membeli rokok yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat.

Manik juga memberi catatan kemungkinan terburuk, menurutnya salah satu kecenderungan masyarakat jika diberi hal-hal yang instan adalah bermalas-malasan, ia berpendapat masyarakat ada kemungkinan berpikir karena sudah memiliki penghasilan yang jelas kemudian menjadi pemalas.

Sedangkan menurut Ikrom, Basic Income tersebut tidak boleh menjadi boomerang, “Saya malah hawatir kita yang mewacanakan ini kemudian larut dalam diskusi berkepanjangan sampai hajatan mulia ini tidak sampai terlaksana, oleh karenanya marilah lakukan cara-cara terbaik agar wacana ini benar-benar hadir di masyarakat kita dalam praktik nyata,” pungkasnya.