Ratusan Pengunjuk Rasa di Spanyol Alami Luka-luka

(Foto : Dunia Tempo.co)

Berita Baru, Internasional – Lebih dari 130 orang terluka selama protes yang meledak di seluruh Spanyol, setelah Mahkamah Agung menghukum beberapa pemimpin kemerdekaan Catalan dengan hukuman penjara mulai dari sembilan hingga 13 tahun.

“Pada 14 Oktober, SEM (Sistem Keadaan Darurat Medis) mewujudkan 131 tindakan bantuan medis”, kata badan kesehatan masyarakat Departemen Kesehatan Catalan.

Dilansir dari Sputnik News, Selasa (15/10), Leembaga tersebut mengatakan bahwa mayoritas orang, 115, terluka di bandara El Prat Barcelona.

Ribuan orang di seluruh Spanyol turun ke jalan pada hari Senin setelah keputusan itu. Aksi kekerasan terjadi dengan polisi menggunakan pentungan dan peluru busa terhadap massa.

Media Spanyol telah melaporkan bahwa sekitar 8.000 orang berkumpul di El Prat pada hari Senin untuk menunjukkan dukungan kepada para pemimpin Catalan dan bahwa setidaknya tiga orang telah ditahan dalam protes tersebut.

Menurut operator penerbangan Aena Spanyol, seperti dikutip oleh outlet berita El Periodico, total 45 dari 986 penerbangan yang direncanakan dibatalkan pada 15 Oktober.

Berita Terkait :  Protes Kegagalan Pemerintah, Masa Aksi Bentrok dengan Polisi di Tel Aviv

Sebelumnya pada hari yang sama, mantan wakil presiden wilayah semi-otonom dan pemimpin Partai Republik Kiri Catalonia, Oriol Junqueras, dijatuhi hukuman penjara (terpanjang) 13 tahun.

Hakim Pablo Llanera, yang memimpin kasus investigasi, juga menerbitkan kembali surat perintah penangkapan internasional untuk Carles Puigdemont, mantan presiden Catalan yang sekarang tinggal di pengasingan di Belgia.

Catalonia telah berusaha untuk memisahkan diri dari Spanyol selama beberapa dekade. Pada tanggal 1 Oktober 2017, Catalonia mengadakan referendum di mana 90 persen dari mereka yang memilih mendukung kemerdekaan kawasan dari Spanyol.

Jumlah pemilih, bagaimanapun  kurang dari 50 persen. Madrid menyatakan referendum ilegal dan menangkap sejumlah pemimpin pro-kemerdekaan.

Sumber : Sputnik News

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan