Ramadan kedelapan: dari #TanggaRuhani Ketulusan hingga Keteguhan

-

Berita Baru, Ramadan – Oman Fathurahman hadir kembali di hari kedelapan ramadan dengan utas sufinya. Kali ini, #TanggaRuhani Oman sampai di urutan ke-24, yaitu al-Ikhlas (ketulusan).

Oman menyampaikan, al-Ikhlas di benak al-Sinkili berkelindan dengan dua hal: amal dan kebenaran. Betapa pun, sebagai manusia kita penting untuk melandasi setiap amal kita dengan keikhlasan atau ketulusan dan kebenaran.

“Jika tulus saja tapi tidak benar atau sebaliknya, maka amal kita tertolak,” kata Oman melalui pernyataan tertulis pada Selasa (20/4).

Ini penting, lanjut Oman, agar amal kita bersih dari niat yang tidak efektif, seperti keinginan dipuji atau sekadar dianggap baik. Saat kita melakukan sesuatu dan terbesit keinginan untuk dipuji dalam benak, maka itu artinya kita belum memiliki al-Ikhlas.

#TanggaRuhani selanjutnya ke-25 adalah al-Tahdzib (penyucian), yaitu bagaimana kita penting untuk tidak melakukan apa pun selain dengan ilmu.

Al-Sinkili memahami al-Tahdzib, kata Oman, sebagai “kebaikan” (al-Shalah) dan pada sisi lain sebagai “latihan” (al-Riyadlah). Jika digabung berarti latihan menjadi baik dan tidak ada latihan yang baik kecuali dengan melakukan apa saja melalui ilmu, bahkan saat berniat pun.

Di hari yang sama, Oman juga mengulas #TanggaRuhani ke-26 al-Istiqamah (teguh). Oman memahaminya sebagai ketegasan seseorang dalam perkataan dan perbuatan serta tidak adanya keraguan dalam menjalani kebenaran.

Orang yang terbiasa dengan al-Istiqamah berkemungkinan lebih bisa memaknai hidup sebab setiap tindakan yang ia pilih tidak akan suwung, dalam arti memiliki roh. Al-Istiqamah pada dasarnya adalah roh dari setiap perilaku seseorang. Pekerjaan tanpa istikamah ibarat tubuh tanpa nyawa, hambar.

“Dan di titik yang lebih nyata, al-Istiqamah membangun reputasi, tidak hanya prestasi,” ungkap Oman.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments