Ramadan ke-26: Perpisahan adalah Perjumpaan

-

Berita Baru, Ramadan – Pernah tidak kita kepikiran bahwa keterhubungan yang sejati adalah justru keterpisahan.

Oman Fathurahman melalui #TanggaRuhani ke-89 al-Ittisal dan ke-90 al-Infishal, menyebut hakikat keterpisahan adalah menjadi terhubung.

Menurutnya, al-Ittisal atau keterhubungan kita dengan Tuhan akan semakin terasa ketika kita sudah berani untuk al-Infishal. Istilah yang terakhir ini merujuk pada bagaimana kita sebisa mungkin meminggirkan, menjadi terpisah, dari apa saja selain Allah.

Al-Ittisal mengandaikan tidak adanya sekat antara hamba dan Tuhan. Mereka yang masih bergantung selain pada Tuhan berarti masih memiliki sekat dalam kalbunya, sehingga tidak bisa tersambung secara optimal dengan Allah.

“Jadi, jika kita ingin terhubung dengan Allah, maka kita harus menjadi terpisah. Terpisah dari apa pun di luar-Nya,” kata Oman pada Sabtu (8/5).

Berita Terkait :  Ramadan ke-13: antara #TanggaRuhani al-Qasd dan al-‘Azam

Persinggahan paripurna, Manzilah al-Nihayah

Pada hari yang sama, Oman telah sampai pada persinggahan terakhir, yaitu Manzilah a-Nihayah. Seperti lainnya, dalam persinggahan ini, Oman akan mengulas 10 Tangga Rohani yang akan mengakhiri seluruh sesi selama ramadan tahun 2021.

Berita Terkait :  Ekonomi Sufisme | Catatan Ramadan: Ahmad Erani Yustika

Tangga Rohani pertama darinya adalah yang ke-91 al-Ma’rifah (mengenali). Oman memahami al-Ma’rifah sebagai pengetahuan terdalam seorang hamba pada Tuhannya.

Maksud dari pengetahuan yang mendalam adalah pengetahuan yang meliputi segalanya dan apa adanya. Mereka dengan al-Ma’rifah tentu usai mengenali Tuhannya, sifat-sifat-Nya, dan keagungan-keagungan-Nya, sehingga bisa begitu dekat dengan-Nya.

Seseorang dengan kemampuan al-Ma’rifah tentu sudah terbiasa dengan 4 #TanggaRuhani lainnya mencakup yang ke-92 al-Fana’, ke-93 al-Baqa’ (kekal), ke-94 al-Tahqiq (memastikan), dan ke-95 al-Talbis (penyembunyian diri).

Berita Terkait :  Afirmasi

Al-Fana’ boleh kita sebut sebagai semacam kesadaran. Kesadaran bahwa semua di luar Tuhan adalah nihil, akan sirna, sehingga seberlimpah apa pun kita, kita akan hilang jua, kembali pada Yang Maha Punya.

Penerimaan di tahap al-Fana’ akan membawa seseorang pada tahap selanjutnya, al-Baqa, yakni meyakini bahwa ketika segalanya sirna di situlah Tuhan akan tetap ada. Karenanya, agar bisa bersama dengan yang al-Baqa’, maka ia harus lenyap terlebih dulu.

Berita Terkait :  Ramadan ke-14: dari #TanggaRuhani al-Iradah hingga al-Dzikr

“Tahapannya, jadi kita harus al-Fana’ dulu baru kemudian bisa lahir lagi sebagai bagian dari al-Baqa’,” ungkap Oman.

Adapun al-Tahqiq lebih pada betapa penting kita memastikan diri kita sendiri, apakah kita sudah benar-benar tidak meminta perlindungan dari apa dan siapa pun selain-Nya.

Berita Terkait :  Ramadan ke-24: Antara Pertemuan dan Perjumpaan

Al-Tahqiq ini penting untuk menunjang terjadinya al-Talbis dalam diri kita, yakni betapa segala kebajikan yang kita lakukan bukanlah murni dari kita.

Namun, itu semua dimungkinkan agar kita melakukannya dan hanya satu yang memegang kendali soal kemungkinan tersebut, Allah.

Pendeknya, segala sikap efektif yang kita lakukan di dunia ini adalah dari Tuhan. Mereka dengan sikap al-Talbis akan selalu terhindar dari perilaku pongah, bahkan berpikiran pun tidak.

“Dan itulah kenapa ketika Ibrahim ditanya terkait penghancuran berhala-berhala, ia menjawab: bukan aku yang melakukannya, tapi Tuhan,” pungkas Oman.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments