Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Radhar Panca Dahana

Radhar Panca Dahana Sampaikan Visi Budaya demi Pembangunan yang Berkemanusiaan

Berita Baru, Jakarta – Memasuki Pilkada serentak yang jatuh bersamaan dengan Hari Anti Korupsi Sedunia (HAKORDIA), Beritabaru.co menghadirkan Budayawan Radhar Panca Dahana sebagai narasumber BERCERITA ke-25 bertemakan ‘Kepemimpinan dan Kekuasaan dalam Budaya Bangsa Kita’, pada Selasa (08/12) malam.

Dalam acara yang dipandu Sarah Monica itu, Radhar memulai obrolan dengan ketidaksetujuan dan keprihatinannya mengenai penyelenggaraan Pilkada serentak di tengah pandemi sebagai sebuah gambaran nafsu politik yang tak tertahankan.

Radhar membeberkan, masih banyak kekeliruan atau ketidakpahaman masyarakat, terutama para perancang kebijakan dan penyelenggara pemerintahan, terhadap aspek budaya yang seharusnya menjadi fondasi pola pembangunan di Indonesia.

Baginya, ada 5 unsur utama dalam apa yang disebut sebagai budaya di antaranya nilai, norma, moral, artistik, dan estetik. Kelima ini harus dielaborasi lebih lanjut terkait konteks dan ranah di mana budaya tersebut perlu dijadikan landasan implementasi.

“Ketidakpahaman sebagian besar dari kita misalnya, apakah batik itu kebudayaan, apakah Borobudur itu kebudayaan? Itu semua hanya produk kebudayaan,” terang Radhar.

“Banyak yang berpikir bahwa kebudayaan itu hanya bersifat materil, padahal bukan. Justru yang imateril menjadi kunci, karena itu esensi dari manusia,” sambungnya.

Radhar menjelaskan, elit politik maupun pemimpin di Indonesia masih mengabaikan kebudayaan. Padahal, menurutnya budaya sangatlah penting sebagai landasan berdiri dan penyelenggaraan suatu negara.

“Cara berpikir, bersikap dan berperilaku para elit itu yang sebenarnya menghancurkan fondasi-fondasi budaya itu dan banyak yang tidak mengerti dengan baik yang dimaksud dengan fondasi budaya itu seperti apa, yah minimal kita harus memahami bahwa fondasi budaya itulah yang menegakkan negara atau negeri ini,” papar pendiri Federasi Teater Indonesia itu.

Lebih dalam, dirinya mengungkapkan, fenomena kekuasaan dan kepemimpinan di negeri ini semakin mengalami kehancuran hingga di titik nadir. Mengerikannya lagi, Radhar menyebut generasi muda sebagai korban dari budaya tersebut.

“Negeri ini ada itu karena kebudayaan, jadi kalau kebudayaan itu hancur atau luntur begitu yang tersingkirkan itu ya negeri itu, eksistensinya, masa depannya. Artinya, kalau itu hancur, negeri ini juga dipertaruhkan, nah itu resiko yang sangat tinggi,” ungkapnya.

“Korbannya besar, korbannya banyak, yang paling sering itu korbannya di kalangan anak muda, menumpulkan kecerdasan anak muda, membatasi imajinasi anak muda, kesempatan-kesempatan anak muda itu dihancurkan oleh mereka yang punya ambisi-ambisi politik praktis itu,” tambah Radhar.

Bahkan, karena ulah elit politik dan pemimpin yang mengalami kebobrokan kekuasaan dalam aspek budaya itu, dikatakan Radhar seperti membunuh potensi kreativitas generasi muda.

“Nah, mereka enggak pernah sadar itu bahwa pada saat yang bersamaan, ketika dia berambisi kepentingan pribadi yang begitu besarnya, mereka seperti membunuh kreativitas beda generasi atau mungkin regenerasi,” kata Radhar.

Menurut Radhar, hal yang dilakukan elit atau pemimpin merupakan contoh yang akan dianut kaum muda. Jadi, jika elit tersebut tak dapat meneladankan hal yang baik maka, akan berdampak pada kebobrokan moral generasi muda.

“Kita lihat banyak sekali masalah intelektual-intelektual atau cendekiawan-cendekiawan yang memang cerdas dalam kata-kata saja, tetapi tidak cerdas memberikan gagasan dan solusi apalagi dalam politik yang di dalamnya cuma pragmatisme, oportunisme, nah kita tidak bisa melihat hal-hal yang ideal di situ, yah yang paling rusak ya ekonomi dan poltik itu,” jelasnya.

Di akhir perbincangan, Radhar menutup dengan sebuah refleksi mendalam untuk anak muda bahwa semangat idealisme itu harus diseimbangkan dengan pertimbangan realistis. Di titik itu, proses belajar merupakan kemampuan manusia dalam menghadai dan menyelesaikan berbagai kendala ataupun benturan yang ia hadapi.

“Menjadi manusia pada akhirnya adalah menjadi bermanfaat demi mencapai ridho Ilahi,” renung Radhar Panca Dahana.