Berita

 Network

 Partner

Racun Tambang Berlian di Angola Bocor, 12 Orang Meninggal dan Ribuan Sakit
(Foto: Reuters)

Racun Tambang Berlian di Angola Bocor, 12 Orang Meninggal dan Ribuan Sakit

Berita Baru, Internasional – Kebocoran racun tambang berlian di Angola telah menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan 4.500 orang sakit, kata seorang menteri di negara tetangga Republik Demokratik Kongo.

Seperti dilansir dari BBC, kebocoran itu telah mencemari anak sungai Sungai Kongo hingga merubah warna air menjadi merah dan membunuh sejumlah besar ikan yang kemudian dimakan beberapa orang, kata Menteri Lingkungan Eve Bazaiba.

Bazaiba mengatakan bahwa DR Kongo akan meminta ganti rugi tetapi tidak merinci berapa banyak nominalnya. Sejauh ini belum ada tanggapan publik dari pemilik tambang Catoca.

Menurut kantor berita Reuters, tambang tersebut menghasilkan sekitar 75% berlian Angola.

Setelah reservoir yang mengandung produk sampingan beracun dari tambang bocor pada akhir Juli, sungai Tshikapa di seberang perbatasan di DR Kongo berubah warna menjadi merah membunuh kuda nil, ikan, dan hewan lainnya.

Berita Terkait :  Normalisasi Hubungan Diplomatik Israel-UEA, Peluang Besar Penjualan Senjata AS ke Negara Teluk

Ms Bazaiba mengatakan: “Ada beberapa ton ikan yang ditemukan mati mengambang di sungai … dan kemudian refleks pertama yang dilakukan masyarakat adalah mengambilnya”.

Pejabat di provinsi Kasai melarang orang minum air dan makan ikan dari sungai tetapi sekitar satu juta orang terkena dampaknya.

Sementara itu, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai menderita diare dan gangguan kesehatan lainnya.

Ms Bazaiba mengatakan, baik pemerintah Angola dan pemilik tambang mengakui apa yang telah terjadi. Namun dia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang permintaan ganti rugi DR Kongo yang menurutnya sesuai dengan prinsip “pencemar membayar”.

Catoca, yang dimiliki bersama oleh perusahaan berlian negara Angola Endiama dan Alrosa Rusia, mengatakan telah membangun dua tanggul untuk menyaring sedimen dari air dan kebocoran telah ditutup, lapor Reuters.

Berita Terkait :  FreeEnergy, Baterai Isi Ulang Bertenaga Surya