Berita

 Network

 Partner

Puluhan Warga Sipil Tewas dalam Pembantaian di Ethiopia
(Foto: The Guardian)

Puluhan Warga Sipil Tewas dalam Pembantaian di Ethiopia

Berita Baru, Internasional – Puluhan orang tewas dalam aksi pembantaian di Tigray, wilayah utara Ethiopia, tempat pergolakan antara pasukan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) dan militer nasional.

Seperti dilansir dari The Guardian, mengutip laporan Amnesty Internasional, Jumat (13/11), para korban ditikam dan dibacok hingga tewas menggunakan pisau dan parang di kota Mai Kadra empat hari lalu.

Saksi melaporkan bahwa pasukan TPLF, yang berkuasa di provinsi tersebut telah melakukan pembunuhan setelah mereka kalah dari pasukan EDF federal.

 “Kami telah memastikan pembantaian sejumlah besar warga sipil, yang tampaknya adalah buruh harian yang sama sekali tidak terlibat dalam serangan militer yang sedang berlangsung. Ini adalah tragedi mengerikan yang hanya waktu yang akan menjawabnya karena komunikasi di Tigray ditutup,” kata Deprose Muchena, direktur Amnesty International untuk Afrika timur dan selatan.

The Guardian telah melihat bukti foto, yang menguatkan laporan tersebut, yang menunjukkan belasan mayat terbaring.

Laporan tersebut akan memicu konflik yang semakin panas, memicu ketegangan etnis dan lainnya di seluruh Ethiopia, negara terpadat kedua di Afrika.

Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, melancarkan operasi militer di Tigray setelah tuduhannya kepada pemerintah daerah atas serangan kamp militer di wilayah tersebut dan mencoba untuk menjarah aset militer. Namun, TPLF membantah dan menuduh perdana menteri mengarang cerita untuk melakukan pembenaran.

Berita Terkait :  PBB: Perang Tigray Ethiopia ‘Akan Memburuk secara Dramatis'

Serangan udara dan pertempuran darat antara pasukan pemerintah dan TPLF telah menewaskan ratusan orang, menggiring pengungsian ke Sudan dan meningkatkan keprihatinan internasional atas kesediaan Abiy.

Dalam sebuah surat yang dikirim kepada Guardian, 39 akademisi yang berbasis di Inggris dan berspesialisasi di Ethiopia mengungkapkan keprihatinan mereka pada konfrontasi militer yang sedang berlangsung. Mereka menyerukan London untuk tidak diam dengan menggunakan semua sarana diplomatik untuk mendukung segera diakhirinya permusuhan dan menemukan cara untuk menyelesaikan konflik yang mendasarinya.

“Selama dua tahun terakhir, kami telah menyaksikan Ethiopia terombang-ambing antara optimisme dan konflik yang mematikan, dan perkembangan terbaru ini mewakili peningkatan kekerasan yang serius, yang mengancam Ethiopia ke dalam perang saudara dengan konsekuensi yang menghancurkan bagi rakyatnya, ekonominya dan stabilitas regional,” bunyi surat itu.

Amnesty mengutip kesaksian dari tiga orang yang mengatakan bahwa mereka telah diberitahu oleh para penyintas pembantaian bahwa para penyerang adalah anggota Pasukan Khusus Polisi Tigray dan anggota TPLF lainnya yang memasuki kota tersebut setelah bentrokan dengan pasukan nasional dan milisi dari provinsi tetangga Amhara.

Berita Terkait :  Ahed Tamimi, Tokoh Perlawanan Palestina yang Kritik Standar Ganda Barat Soal HAM

“Amnesty International belum dapat memastikan siapa yang bertanggung jawab dalam insiden ini. Tetapi telah berbicara dengan para saksi yang mengatakan pasukan TPLF bertanggung jawab atas pembunuhan massal, setelah mereka kalah dari pasukan EDF federal,” katanya.

Pemimpin Tigray Debretsion Gebremichael, yang memimpin TPLF, menyangkal pasukannya terlibat dalam pembunuhan tersebut.

“Ini sulit dipercaya … ini harus diselidiki,” kata Debretsion dalam pesan teks kepada Reuters, ia menuduh Abiy menciptakan fakta di lapangan.

Kedua belah pihak memiliki akses senjata berat, baju besi, dan stok amunisi yang cukup banyak, dan pengamat telah memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan mungkin terjadi.

Lebih dari 11.000 pengungsi Ethiopia telah menyeberang ke Sudan sejak pertempuran dimulai dan organisasi kemanusiaan mengatakan situasi di Tigray semakin memburuk. Bahkan sebelum konflik, 600.000 orang di sana bergantung pada bantuan pangan.

Sekitar 7.000 dari mereka yang menyeberang telah tiba di Hamdayat di negara bagian Kassala, Sudan, dengan 4.000 lainnya tiba di Luqdi di negara bagian al-Qadarif. Kebanyakan dari mereka adalah Tigrayan dan sekitar 45% adalah perempuan, kata PBB.

Berita Terkait :  Mesir, Sudan dan Ethiopia Sepakat Melanjutkan Negosiasi Pembangunan Bendungan Nil

Pada hari Jumat, parlemen Ethiopia menunjuk kepala baru wilayah Tigray, sehari setelah parlemen Ethiopia mencabut beberapa anggota TPLF, termasuk Gebremichael, dari tuntutan hukum.

Ethiopia telah lama dipandang sebagai landasan kepentingan strategis AS di kawasan Tanduk Afrika.

Pada hari Kamis, Senator Republik untuk Idaho, Jim Risch, ketua komite hubungan luar negeri Senat, memperingatkan bahwa risiko konflik di Ethiopia yang mengarah ke perang saudara meruakan bahaya yang nyata, hadir, dan langsung bagi stabilitas regional, kepentingan keamanan nasional AS, dan yang paling penting, keselamatan dan kesejahteraan rakyat Ethiopia dan transisi demokrasi Ethiopia.

“Amerika Serikat dan komunitas internasional harus terus terlibat langsung untuk memastikan semua pihak berkomitmen pada gencatan senjata segera, melindungi semua warga sipil, menyediakan akses kemanusiaan yang cepat, memulihkan akses internet dan telepon, dan mengejar resolusi damai melalui dialog,” kata Risch.