Pulihkan Ekonomi ‘Hijau’, Korea Selatan Anggarkan 95 miliar Dolar dalam Green New Deal

Green New Deal
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in berbicara selama upacara Peringatan Hari di pemakaman nasional di Daejeon, Korea Selatan, 6 Juni 2020. Lee Jin-man/Pool. REUTERS/File Photo

Berita Baru, Internasional – Selasa (14/7), Korea Selatan menjabarkan rencana belanja dana 114,1 triliun won (US$ 94,6 miliar) dalam rangka menciptakan lapangan kerja dan membantu memulihkan ekonomi dari krisis akibat pandemi virus korona.

Rencana anggaran selama enam tahun itu disebut sebagai “Green New Deal” karena sebagian besar dana digunakan untuk investasi ‘hijau’ dalam kendaraan listrik dan mobil hidrogen.

Aspek “Green” telah menarik perhatian karena Korea Selatan, sebagai negara dengan tingakat ekonomi terbesar keempat di Asia, ingin mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Selain itu, anggaran tersebut diharapkan juga bisa dapat membangun infrastruktur digital dan jaring pengaman yang lebih kuat bagi pencari kerja. Diharapkan anggaran itu akan menciptakan sekitar sekitar 1,9 juta pekerjaan hingga tahun 2025.

“Pandemi virus korona sekali lagi menegaskan kembali urgensi tanggapan terhadap perubahan iklim,” kata Presiden Moon Jae-in dalam sebuah pidato.

Mengutip Reuters, rencana “Green New Deal” merupakan investasi dalam sistem smart grid untuk mengelola penggunaan listrik secara lebih efisien, promosi layanan medis jarak jauh, kerja dari rumah untuk bisnis dan sekolah daring berdasarkan jaringan nirkabel generasi kelima (5G), dan keringanan pajak untuk penyedia telekomunikasi.

Berita Terkait :  Masyarakat Sipil Ragukan Investasi Hijau di Papua

Rencana itu pertama kali diusulkan oleh Partai Demokrat Korea selatan yang mendukung Presiden Moon menjelang pemilihan parlemen pada bulan April.

Rencana itu menetapkan tujuan ambisius dari target net-zero emssio tahun 2050, mengakhiri pendanaan pabrik batubara di luar negeri, dan pengenalan pajak karbon.

Menurut Presiden Moon Jae-In, Korea Selatan memiliki target untuk bisa memiliki 1,13 juta kendaraan listrik (EV) dan 200.000 mobil hidrogen di jalan pada tahun 2025. Selain itu pemerintah Korea Selatan akan menambah lebih banyak stasiun pengisian energi kendaraan.

Pemimpin Hyundai Motor Group, Euisun Chung mengatakan andalan Hyundai Motor dan Kia Motors mempunyai target untuk bisa menjual 1 juta EV pada tahun 2025 dan menargetkan lebih dari sepersepuluh pangsa pasar global.

Lebih lanjut, Chung juga mengatakan Hyundai Motor juga berencana untuk meluncurkan kendaraan listrik generasi berikutnya dengan jangkauan 450 kilometer (280 mil) dalam satu kali pengisian daya selama sekitar 20 menit.

Sementara itu, pekan lalu pemerintah Korea selatan menetapkan batas waktu 2035 untuk menghentikan pendaftaran kendaraan dengan mesin pembakaran biasa.

Berita Terkait :  Anugerah PROPER, Wapres Dorong Prinsip Ekonomi Hijau

Pemerintah juga berjanji untuk mengkonversi 4.000 dari 7.396 armada bus di ibukota Seoul menjadi tenaga listrik atau hidrogen pada tahun 2025, dan menjanjikan lebih banyak insentif konversi untuk taksi baru.

Namun, Greenpeace Korea mengkritik rencana itu sebagai langkah ‘kecil’ untuk pengendalian emisi di Korea Selatan.

“Rencana ini adalah kesepakatan setengah matang yang tidak memiliki tujuan membatasi emisi karbon hingga net-zero emission pada 2050 dan tidak memiliki peta jalan untuk mencapai itu,” kata Greenpeace Korea dalam sebuah pernyataan.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan