Puisi-Puisi Sengat Ibrahim: Ketika Jatuh Ke Dalam Cinta

-

Ketika Jatuh Ke Dalam Cinta

Ketika
jatuh ke dalam
cinta
aku menjadi sehat
dan
seluruh perkataan
menjadi memabukkan
tidak
peduli negara
sedang terbakar
jauh
hari langit sudah
memasang matahari
di kulit kita.

Ketika
jatuh ke dalam
cinta
aku menjadi sehat
dan
seluruh perasaan
dipenuhi kemesraan
tidak
peduli negara
menjadi neraka
jauh
hari bumi sudah
merangkul magma
dalam tubuhnya.

Ketika
jatuh ke dalam
cinta
aku menjadi sehat
dan
seluruh tatapan
dipenuhi bebungaan
tidak
peduli negara
sedang sakit
jauh
hari semesta sudah
memesan kehancuran
terhadap manusia.

2020

Sekarang

Umurku
duapuluhtiga,
masa
kanak-kanak
makin akrab
dengan pengetahuan,

ketakutan makin
mirip dengan tuhan,
mataku tidak mampu
membedakan keduanya,
pikiran tidak bisa
kugunakan selain
bertengkar
bertengkar
dan
bertengkar lagi,
seseorang yang
mendiami perasaanku
menolak jadi pelukan,
dari sebuah
telpon genggam
aku melihat
songkok
sorban
sekaligus gamis
sedang serius
merawat agama
mereka pikir
agama sedang sakit,
beruntung
aku tidak tertarik
menjadi manusia,
saat melihatnya
aku sekadar
tetumbuhan
yang masih belajar
bagaimana caranya
berbuat jahat
terhadap manusia.

2020

Setiap

setiap langit
berhasil
mengusir air ke tanah
nyaris segala
yang kumiliki
jadi basah,
halaman sekaligus lantai depan
dari sebuah toko yang dibangun
keluargaku
untuk menjual
semua kebutuhan(mu)
selain kematian
jadi basah,
sawah
harta warisan paling mewah
dari ayah
yang sejak duabulanlalu
kutanami pisang
jadi basah,
kumis
yang kurawat selama
dua tahun lebih
harus kurelakan
jadi basah

sebab
aku tak tega
membiarkan mata tetanggaku
yang sedang
memanggang tembakau
di bawah matahari
musim ini
ikut-ikutan
jadi basah,
aku harus bergerak
secepat angin
meneduhkan tembakau
yang belum kering.

2020

Rumah Sakit

sedari kecil sekali
aku begitu benci rumah sakit
rumah sakit tidak mampu
memperpanjang napas bapak
rumah sakit tidak bisa mencegah
ibuku mencangkul di sawah:

untuk penuhi biaya listrik,
biaya telepon genggam,
biaya pendidikan,
biaya makanan,
biaya kesehatan,
biaya pakaian,
biaya kedengkian,
biaya kenakalan,

biaya kasih sayang,
biaya keimanan,
biaya percintaan,
biaya mengenakan jalan,
biaya ngerokok,
biaya korek api,
biaya minum kopi,

dan,
biaya lain-lain
dan lain-lain
dan lain-lain
dan lain-lain

yang kurasa
masih harus
kutulis sekali lagi
biaya lain-lain,
dan lain-lain
dan lain-lain
dan lain-lain
yang harus dipenuhi
ibu sebelum aku bisa memenuhi
kebutuhan sendiri,
duri dalam diri.

satu jam sebelum
aku menulis puisi ini.
aku masih anak kecil
yang membenci rumah sakit.
sekarang sudah tidak lagi benci,
setelah selesai
berbicara dengan seseorang
yang membuat perasaanku sakit
aku menulis puisi.
lalu dari puisi
aku tahu bagaimana rasanya
menjadi rumah sakit:

tempat jemput segala yang indah
tempat lepas segala yang singgah.

benar.
puisi
menjadikan
aku sebagai
rumah sakit.
lukaku,
luka kau,

luka mereka
terus berdatangan
ke dalam diri
dan memintaku jadi puisi.
barangkali puisi

adalah obat yang kita cari-cari
selama ini
untuk mengobati
beragam penyakit
termasuk  negara
yang makin hari
makin rajin menyakiti
tubuhnya sendiri.

2020

Lalu

lalu,
aku menjadi lelaki
yang begitu susah mendapatkan
tidur  padasaat matahari tidak mungkin
ditangkap penglihatan.

lalu,
pikiran berisi hal-hal
menyenangkan, kamu salah satunya.
dan aku sedang berada
di kuburan sepupuku yang meninggal
dua hari lalu.

lalu,
kematian begitu dekat
dengan kulitku. aku berusaha
membayangkan kematian
adalah makhluk semacam kamu.
aku menutup mata
dan segalanya dipenuhi
sesuatu yang mengerikan.

lalu,
tidur semakin
menjauh dari mataku
dingin membungkus seluruh kulit.
kudengar sebuah suara
yang tidak terbuat dari bahasa indonesia
suara yang membanjiri
perasaanku ketakutan.

lalu,
aku biarkan
tanganku membuat pekerjaan.
pekerjaan memeluk tubuh sendiri,
tubuh yang dibiarkan hidup
dengan cara kekurangan gizi
dan kembali
aku temukan jalan menuju puisi.

2020

Buah

Di
hadapanku
kau orang baik
semoga
di
hadapan apel merah
yang kau gigit
yang separuh
tubuhnya
masuk
ke dalam perut(mu)
tidak membuat
kau berubah
menjadi jahat.
jika tidak
semoga
kau tetap pintar
berbuat jahat
di
hadapan buah
buah itu saja
tidak sampai
di
hadapan (se)buah manusia.

2020


Sengat Ibrahim, pemilik buku Bertuhan pada Bahasa, (Basabasi, 2018) & Asmaragama, (LiterIsi, 2018)  Bisa disapa melalui akun Twitter: @dialogbolong. Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Merapi, Solo Pos, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra, Lombok Post, Medan Ekspres, Harian Sumbar, Majalah Simalaba, dan Malangvoice, Litera.Co, LiniFiksi.Com, PoCer.co, Ideide.id, Basabasi.com.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments