Puisi-Puisi Novan Leany: Pulang Kampung ke Kenohan

Novan Leany

Pulang Kampung ke Kenohan

Berangkat membelah tubuh Semayang
kucari surga di telapak kakimu antara 
kampung-kampung sunyi 
dan bangkai ikan mati

Di atas ubunku, usai hujan kabut di pundak biru
sulungmu ini, tersesat di padang gulma
gapai tanganku, kapal ini karam 
dan akan tenggelam

Sungai pun surut puan, doa engkau kah?
Keriuhan ibu kota seperti merempa mimpi-mimpi
nelayan dan petani, lautan dan padi seperti tanah lapang
aku ke hilir tak ingin menakik luka

Sesampai Kenohan dan banyu pasang di betis Melintang
teriakan namaku dengan lantang, kemudian lekas 
antarkan aku ke ceruk rindu dalam 
kepalamu yang meradang 
perihal berita derita 
Kutai Kartanegara

2020/2021

Taktik Kuda Troya Sanga-Sanga
: bersama Endry Sulistyo

Taktik kuda troya makin meringkik
menyentak gendang telinga dan Sanga-Sanga
bak singgah ke dalam kesedihan
yang tak pernah tuntas

Monumen Batu, Penjara Kayu atau Tugu Pembantaian
mendamba peninggalan lama bagai menikmati 
museum luka para pahlawan dan sisa air mata
yang jauh dari keramaian kota

Bukalah mata, maka nampak di ujung sana
truk lalu lalang serupa kapal Fregat Zeearend 
atau Zaza sembari mengibarkan bendera,
merah putih kah? Atau kabar gembira
yang berulang-ulang mendustai kita

“Atap-atap rumah menumpuk debu
pohon rindang gelap di mata dan 
gesek dedaunan samar di telinga; 
langit hitam bukan sebab malam,” kata ibu menggendong bayi
sembari mencuci sandalnya yang belicak lumpur

Sanga-Sanga, 
letupan-letupan amarah di kepalaku mencekau
sebab tanah basah yang kupijak ini adalah
darah dari juang moyangku sendiri

2020/2021

Hudoq
: kepada Fernando Yonathan

Pagi, 
pada musim padi
Oktober dan November bagai bulan rindu
lekas pulang berpangku nak, tumpahkan
air mata ke ine

Mantraku bagai perahu di arus deras 
sungai Bahau, menghantam rintang dan batu tua 
harap yang tak pernah usai, sampai 
para dewa dan nenek moyang
berkali-kali mendengar keluh kami

Hudoq penghibur lara
tangan menari lambai dan hentakan kaki
antarkan ceria kami dari irama sapeq
suburlah jiwa ke ladang padi
pergilah kera dan babi

Hudoq pengantar rindu
ketuk pintu gerbang kampung
dalam diri ine, tentang warta
subur huma, pohon rindang,  
dan punah banjir lumpur

2019/2020

Kematian Qu Yuan

Kucari jenazahmu Qu Yuan
sepanjang dasawarsa, nyata balas budi
perkataan di bibirmu isyarat mata angin

Tanggal lima bulan ke lima
tidak ada raja seperti kehilangan musim
apa kau mencium aroma darahku?
kabarkan Raja Huai, Zinnia ini berbau amis
walau ia tidak percaya

Sungai ini kutabur bacang
karena tubuhmu bukan umpan
umpama purnama merabunkan bayang di banyu
baiknya kau tidak ditemukan lagi
atau Qin Xiang dan Zi Lian
akan menendang bokongmu dua kali

Semenjak kau bunuh diri, Wilhelmina gembira 
Belanda kibar bendera sampai melindung kampung
dan melanda rasa takut sepanjang malam
aku tak mampu menangkal
dan pantas mencium tangan musuh

Kucari jenazahmu Qu Yuan
aku bidak-bidak yang diperbudak
jika melawan, mengumpat atau ceburkan diri di Miluo
anak dan istri merengek kelaparan
demi sungai ini, datangkan perahu naga
atau jelaskan cara pingit luka

2020


Novan Leany asal Samarinda, Kalimantan Timur. Pegiat seni dan pencinta kopi. Telah menerbitkan buku pertamanya “Eufolina” pada tahun 2019. Sekarang menetap di Yogyakarta melanjutkan pendidikan studi S2 psikologi

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini