Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Ilham Rabbani
Ilustrasi lukisan karya Firdaus Mustafa.

Puisi-puisi Ilham Rabbani: Menatap Seruni, Mengingat Sandubaya

Affaire de Coeur
: Hangganararas

Percakapan kita
dirawat senyap,
juga sayup musik penghangat.

Gerak matamu
seakan mengeja bahasa jendela:
hujan hampir reda,
bulu-bulu sayap malaikat
yang bening dan makin runcing
di ruang terbuka, ditinggalkan
pemiliknya.

“Engkau membayangkan
tubuhmu telah berada
di tempat berbeda.”

Setelah itu hanya senyap,
dan kita saling menatap:
kata-kataku
telah jadi hujan yang liyan,
hujan di cakrawala
yang luput diberi nama.

Yogya, Desember 2020

Adempauze
: Cupak

1.
Sebelum lelah, sebelum kalah,
izinkan aku menyiapkan bekal:
rotan yang tegak,
kulit sapi mengering,
ikat kepala yang menjerat penat.

Aku malu
sebab labirin hidup
mungkin tetap menolak
memberi ruang pijak
bagi diri.

2.
Biarkan aku menggali liang,
menyiapkan kematian
tanpa upacara, pemungkas cerita
yang menerbitkan senyum.

Degup jantung orang-orang
bakal berangsur stabil:
kita dilatih bahagia
di atas tangis manusia
yang mengaribi sepi
paripurna.

3.
Dalam pertaruhan dan pertarungan,
pertolongan adalah mitos
yang kerap diwariskan–
sampai sesiapa menolak berjejal
dengan pegal, dengan linu–
sepanjang denyut waktu:
halus telapak tangan
jadi semacam rencana
jangka panjang.

“Diri pun bersikukuh
saleh pada yang salah,
sementara nasib kerap kali
memutarbalikkan situasi.”

4.
Waktu pun bergerak,
sebelum sempat ada
yang dijejakkan kata-kata
bagi kepergianku.

Ungga, 2019—2020

Menatap Seruni,
Mengingat Sandubaya

Di dada tropikamu
aku tertahan—sehelai kemban
seperti mengikat
dan mengimpit
tubuhku pada maut
yang lembut.

Sebentar lagi, Seruni
sebentar lagi: segenap bakal selesai,
juga kesetiaan, juga cinta,
riwayat yang tamat
pada pangkal pohon maja.

Aku tahu,
nafsu yang memanas
di antara dua
pangkal paha
cumalah api yang membakari
diri sekering jerami.

Dari dada tropikamu pula
tubuhku tergelincir
ke lembah licin.

Hujan akan turun
dari langit perjanjian,
dari langit yang merangkum
jerit dan sayup suara derit.

“Sandubaya, Sandubaya!”

Maka apabila
tubuhku dihunjam tombak
balasan sederas hujan:
apakah yang kita namai impas
adalah napas tuntas, tubuh
yang sama-sama tumpas?

Praya–Yogya, 2020

Tempat-tempat
yang Terpaut Geger Lajut

: Mat Peker, 1974

Ungga
Kupanggil namamu
dalam debar dan gesa,
lalu pintu-pintu
di rumah itu
melepaskan suara
ketakutan.

Di kejauhan,
kentungan
telah berayun
dan kehilangan
jeda ketukan.

Praya
Matahari
tertidur di mata
kami: kata-kata
menggantikan cahaya.

Sebuah kabar
bergerak melintasi
genting Kota
Praya.

“Parang itu, Mat,
menggurat tenang
di jantung
dan lambung
kami.”

Lajut
Dalam kalut,
ia lukis luka
riwayatnya
sendiri.

Kesumat jatuh,
seperti biji
timun suri:
tumbuh-menjalar
dari Praya ke Lajut
ke sudut-sudut
terpaut.

Namanya:
gerak cahaya
dalam kabar.

Tubuhnya:
bayang terhadang
sehelai daun
ketapang.

Tubuh Orang-orang
Namamu terjatuh
ke dalam pusar
tiap tafsiran.

Kupanggil namamu
dalam cemas dan wasangka,
tetapi pintu
di tubuh mereka
telah dijejali bayang
nyalang mata parang—
ketakutan tanpa
penghabisan.

Pada tubuh,
juga kedalaman
orang-orang itu:
kentungan—
rupanya—masih berayun
dan kehilangan
jeda ketukan.

Ungga, Oktober 2020

Nisan

Suara-suara
dari masa silam,
dari masa depan,
berbenturan
pada nisan.

Ungga, Januari 2020

Kastrasi

Akhirnya,
pada fajar itu
kulepas pegangan
dari ranting jantungmu.
Kita berpisah, dan kelahiran
mewariskan benda terkutuk:
sebuah cermin
tanpa retakan.

Lalu kupanggil
terus namamu.
Tubuhku rekah-terpecah
dan kujumpai serpih-serpih
yang liyan: serpihan hilang;
kekurangan yang membingungkan;
bahasa penggiring
ke kelindan maya
tanpa pangkal,
tanpa ujung,
tanpa kepastian.

Mencintaimu,
mencintai yang tidak
(dan selalu gagal)
terkatakan: sesuatu
terbenam di kedalaman
tubuhmu, seperti sinar fajar
tetapi tanpa matahari,
seberkas cahaya
Tuhan yang tidak
terbahasakan.

Ajari aku
lepas dari jebakan,
labirin yang mengitari
ruang semayammu:
wajahmu jendela,
tetapi pintu terkunci mati
dan gagang sengaja
ditanggalkan.

Aku bersikeras
meng-Ada-kanmu,
bertahan dirongrong hasrat
digempai debar, bergembira di atas
sebidang dada
yang kumuh ilusi
dan tipudaya.

Masa lalu: kehidupan
dalam setarik-lepas napas
telah menanm jejak
pada ingatan
yang disebaki kabut.

Aku mengikutinya,
tetapi bahasa
telah jauh menjebakku:
perjalanan kepadamu
adalah perjalanan bertuju
yang tidak pernah sampai
kepada tuju.

Yogya, 2020

Rahasia

Engkau tempatkan aku
pada ruang paling malam
di hatimu,
tertimbun bagai pusara
tanpa nisan:
engkau dapat menggalinya
kapan saja, semaumu.

Aku buntang dan hilang,
tatkala terwakili kata-kata:
keheninganku, melebihi telaga
tanpa riak, tetapi bergejolak
jikalau engkau menyangsikan
perihalku.

Kita terpenjara
dimensi berbeda. Aku hadir
lantaran gerak jemari,
kehendak tubuhmu
pada sesuatu:
aku, molekul kata-kata
yang terpendam
segenap sebab diam.

Akulah sudut sunyi
pada sukma, meronta
tanpa suara, menjelma gulana
dalam mimpi.

Maka,
pada perbincangan
yang bertautan denganku,
lepaskan aku bagai air
mengalir: terpancur
lewat kata-kata
paling jujur.

Yogya, 2016–2020

Jalan-jalan

1.
Gemeretak sendi
pada jari-jari:
permainan
dari lempung
dinding jantung.

2.
Petualangan: sidik jari
yang lekat dan lekas lenyap
pada sebidang layar:
perpindahan panorama
terjadi dalam genggam.
Jejak sepatu
lesap ke masa lalu.

3.
Nalar yang ringkih:
“Aku konsumtif,
maka aku ada.”

4.
Lalu warna tubuhmu, berubah
pada tiap pergantian jam.
Malaikat meringkuk
di bawah
tulang ekor.

5.
Penjual cermin
kelaparan di bahu jalan:
mereka tak diperlukan lagi
di dunia ini.

Yogya, 2020


Puisi-puisi Ilham Rabbani: Menatap Seruni, Mengingat Sandubaya

Ilham Rabbani, lahir di Lombok Tengah, 9 September 1996. Menulis puisi dan resensi. Aktif di Komunitas Ngasas dan kelompok belajar sastra Jejak Imaji, Yogyakarta. Tahun 2016, terpilih mengikuti program Sekolah Menulis yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa D.I. Yogyakarta (BBY). Tulisan-tulisannya pernah terbit di beberapa media, baik cetak maupun daring.. Kini studi di Magister Sastra, FIB, Universitas Gadjah Mada