Publik Marah, Pemerintahan Lebanon Membubarkan Diri

Foto: Liputan6

Berita Baru, Internasional — Dikabarkan bahwa Perdana Menteri (PM) Lebanon Hassan Diab mengumumkan pengunduran diri pemerintahannya pada hari Senin (10/8) kemarin waktu setempat.

Dalam pidatonya, Diab menegatakan bahwa ledakan besar yang menghancurkan Beirut itu telah memunculkan kemarahan publik kerena akibat korupsi yang sudah merajalela.

Ledakan yang terjadi di pelabuhan itu menyimpang lebih dari 2.000 ton amonium nitrat pada 4 Agustus kemarin menewaskan 163 orang, dan melukai lebih dari 6.000 orang serta menghancurkan kawasan ibu kota Beirut di Mediterania.

Publik internasional melihat, ledakan itu seakan menjadi puncak penderitaan dari beberapa bulan krisis politik dan ekonomi yang terjadi di negara tersebut.

Dalam pidatonya yang disiarkan oleh televisi, PM Diab menegaskan bahwa pihaknya mendukung seruan rakyat Lebanon untuk bertanggung jawab dan harus diadili.

“Diab mengumumkan pengunduran diri pemerintahannya usai rapat kabinet pada Senin (10/8) dengan banyak menteri ingin mundur,” dikutip dari sumber kementerian dan politisi.

Selain itu, Diab meminta pemilu parlemen dipercepat, mengingat unjuk rasa pecah di Beirut. Dan beberapa demonstran melemparkan batu ke arah aparat keamanan yang berjaga di jalan menuju gedung parlemen.

Berita Terkait :  Update Covid-19 Global : 472.026 Kasus dan 21.297 Meninggal

“Seluruh rezim perlu berubah. Ini tidak akan ada perbedaan jika di sana ada pemerintahan. Kita perlu pemilu cepat,” kata Joe Haddad yang merupakan teknisi di Beirut.

Bagi penduduk Lebanon, ledakan itu semakin menambah penderitaan rakyat yang sudah mengalami krisis ekonomi, korupsi dan pemerintahan yang disfungsi, serta terlalu banyak korupsi.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan