Puan Maharani Hadiri Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI

-

Berita Baru, Jakarta – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) Puan Maharani menghadiri Rapat Pleno ke-50 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabu (19/2).

Dalam keterangan tertulisnya di akun Instagram pribadinya, Puan Maharani menyampaikan bahwa saat berada di lingkungan alim ulama dan cendekiawan Islam, ia merasa tidak asig lagi pasalnya latar belakang keluarganya juga berasal dari keluarga Muslim yang aktif dalam organisasi kemasyarakatan Islam.

“Kakek saya Bung Karno selain dikenal luas sebagai tokoh nasionalis bangsa Indonesia, beliau juga seorang tokoh pembaharu dan pemikir serta pejuang Islam. Tercatat dalam sejarah bahwa Bung Karno pernah menjadi santrinya Haji Oemar Sahid Tjokroaminoto, seorang tokoh dan pejuang Syarikat Islam,” tuturnya.

Berita Terkait :  Kemenag Tolitoli, Kukuhkan & Mendeklaraikan Pengurus Baru Forkopela
Berita Terkait :  Kemenag Tolitoli, Kukuhkan & Mendeklaraikan Pengurus Baru Forkopela

Puan menambahkan bahwa Bung Karno adalah aktivis organisasi Islam Muhammadiyah dan pernah memimpin Majelis Pengajaran Muhammadiyah di Bengkulu.

“Begitu juga dengan nenek saya, Ibu Fatmawati, yang berasal dari keluarga Muhammadiyah dan pernah memimpin organisasi perempuan Muhammadiyah yakni Aisyiyah,” ujarnya.

Menurut Puan, nilai keislaman dan kebangsaan Bung Karno itulah yang menjadi semangat perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri. Puan juga menyampaikan bahwa ayahnya juga berasal dari keluarga tokoh Masyumi.

“Dari Pak Taufiq dan Ibu Megawati, saya banyak belajar tentang bagaimana antara Islam dan Nasionalisme bisa berjalan beriringan, saling bersinergi dan memberikan penguatan untuk kepentingan dan kemaslahatan umat Islam dan bangsa Indonesia,” kata Puan.

Berita Terkait :  KPK Temukan Dugaan Korupsi Program Bioflok KKP
Berita Terkait :  Polisi Berpeluang Tetapkan Tersangka Lain Terkait Kasus Bentrok FPI

Legislator PDI Perjuangan tersebut berharap kedahirannya dapat meningkatkan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan kebangsaan) dan Ukhuwah Basariah (persaudaraan kemanusiaan).

“Terutama menjalin hubungan baik antara lembaga DPR RI dengan Majelis Ulama Indonesia,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Berita Terkait :  Presiden Pelajari Pengelolaan Ibu Kota di Canberra

TERBARU