Berita

 Network

 Partner

PSP2M UB dan Balitbang Kemenag Semarang Gelar FGD Riset Wacana Dakwah di Media Sosial
Dari kiri ke kanan Agus Iswanto, Ach. Dhofir Zuhry, dan Mohamad Anas

PSP2M UB dan Balitbang Kemenag Semarang Gelar FGD Riset Wacana Dakwah di Media Sosial

Berita Baru, Malang – Pusat Studi Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Brawijaya (PSP2M UB) melakukan serangkaian kegiatan riset berkolaborasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Agama Kota Semarang tentang konten dakwah di media sosial selama seminggu sejak Senin (14/6) lalu.

Riset yang dilakukan di wilayah Kota Malang tersebut bertujuan untuk memetakan wacana dakwah moderat yang tersebar di media sosial. Riset tersebut merupakan bagian dari upaya Balitbang Kemenag Kota Semarang dan PSP2M UB untuk menangkal gerakan radikalisme dan ekstremisme beragama.

Salah satu kegiatan dari rangkaian riset tersebut adalah Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan Gus Dhofier sebagai narasumber utama. Bertempat di Gedung Layanan Bersama Universitas Brawijaya, Agus selaku ketua tim peneliti dan moderator mengawali diskusi dengan penjelasan tentang urgensi dari riset ini.

“Wacana tentang moderasi Islam moderat banyak diproduksi oleh pemikir-pegiat dakwah Islam kelompok kita. Hanya saja tidak semua bisa terekspose dan dibicarakan di kalangan pengguna media sosial. Sehingga penelitian tentang pemetaan pegiat dakwah wacana moderasi di media sosial menjadi penting,” terang Agus.

Berita Terkait :  GP Ansor Sebut Program Kartu Prakerja Menyalahi Asas Keadilan Sosial

Senada dengan Agus, PSP2M Universitas Brawijaya juga memandang bahwa riset ini penting untuk dikembangkan lebih lanjut. Media sosial saat ini menjadi arena perang wacana antara paham moderat dengan ektrem. “Kami di PSP2M UB juga konsen dengan isu ini. Beberapa kegiatan riset kami tahun 2018-2019 lalu juga mengangkat tema moderasi beragama di media sosial. Kami memanfatkan riset berbasis big data untuk memetakan, memahami dan membuat counter wacana di media sosial. Kami juga membentuk komunitas dakwah bernama dai muda digital yang berisikan kumpulan dai muda moderat di wilayah Jawa Timur,” terang direktur PSP2M UB, Mohamad Anas. 

Pada sesi FGD, Gus Dhofir selaku narasumber utama menyinggung tentang minimnya minat pengguna media sosial dalam mengikuti diskusi atau pengajian yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis. Mayoritas, dakwah di media sosial yang laku keras adalah dakwah dengan materi seputar fikih sebagai produk pengetahuan. Kelompok salafi-wahabi memahami bahwa minat masyarakat sangat besar di bidang itu. Sehingga konten mereka berputar dalam membahas masalah tersebut. Selain itu, pengguna media sosial juga lebih menyukai konten-konten yang membahas isu politis dan sedang viral, seperti dana haji.

Berita Terkait :  Hadiri Halalbihalal IKA UB, Ma’ruf Amin Ajak Kembangkan Ekonomi Syariah

Beliau juga menyampaikan bahwa gerakan yang patut diwaspadai saat ini adalah 4T. 4T itu adalah singkatan dari takfiri, tasyriki, tabdi’i dan tasyki. Kelompok takfiri merupakan kelompok yang suka mengkafirkan kelompok lain yang dianggap memiliki perbedaan pandangan dalam hal beragama. Kelompok tasyriki adalah kelompok yang suka mengatakan kelompok lain diluar kelompoknya adalah musyrik. Sedangkan, tabdi’i adalah kelompok yang gemar membid’ahkan ritual keagamaan kelompokmlain. Kelompok tasyki adalah kelompok yang suka membuat orang lain merasa ragu, mamang (bahasa jawa). Kelompok ini memiliki misi untuk menyebarkan propaganda di masyarakat dengan menebar narasi isu-isu komunisme, islam sedang ditindas oleh pemerintah dan kelompok kafir.

Kelompok-kelompok di atas juga seringkali mengangkat Isu pancasila versus agama. “Kita sudah sering mendengar dalil tentang kewajiban umat islam untuk taat kepada Allah, Rasul dan ulil amri. Ini yang seringkali dipakai untuk membenturkan agama dengan negara (pancasila). Dalil ini menjadi verses of thing mereka,” sambung Gus Dhofier.

Berita Terkait :  Dyah Roro Esti Minta Bawean Masuk Prioritas Pasar Pesawat N-219

Di sesi akhir sesi diskusi, Gus dhofir memberikan pesan mendalam kepada para peserta diskusi bahwa tantangan dakwah di media sosial bukan hanya melawan paham ektremisme dari kelompok transnasional, tetapi juga upaya penyesuain dengan algoritma media sosial saat ini. Oleh karenanya, menyebarkan paham agama yang moderat juga memerlukan kelihaian dalam memahami perkembangan sosial media.

“Bayangkan, kita yang sudah ngaji bertahun-tahun di pondok pesantren, harus dituntut untuk bisa mengemas pengajian kita dalam bentuk vidio durasi satu menit saja,” tutup Gus Dhofier saat memberikan closing statement (17/6).