Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Protes di Sri Lanka: 1 Orang Tewas dan 11 Lainnya Terluka oleh Tembakan Polisi

Protes di Sri Lanka: 1 Orang Tewas dan 11 Lainnya Terluka oleh Tembakan Polisi

Berita Baru, Internasional – Protes massa yang menuntut krisis ekonomi dan kekurangan bahan bakar di Sri Lanka berujung pada penembakan oleh polisi yang menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya.

Protes terjadi sejak awal April, dengan peluru tajam polisi untuk pertama kalinya terhunus dan memakan korban.

Seperti dilansir dari BBC, puluhan ribu demonstran turun ke jalan sejak Sri Lanka akibat situasi ekonomi yang mencapai titik krisis. Massa aksi menginginkan Presiden Gotabaya Rajapaksa mengundurkan diri tetapi dia menolak untuk mundur.

Pengangkatannya atas kabinet baru pada hari Senin membuat marah banyak orang Sri Lanka.

Pada hari Selasa, protes terjadi di sejumlah daerah setelah pengecer bahan bakar utama Sri Lanka menaikkan harga hampir 65%.

“Polisi harus menembak untuk mengendalikan para pengunjuk rasa. Mereka juga membakar beberapa ban, jadi polisi harus menembak untuk membubarkan mereka,” kata juru bicara polisi Nihal Talduwa kepada BBC.

Pihak berwenang mengatakan massa melemparkan batu dan benda lain ke arah polisi, melukai beberapa dari mereka.

Dua dari pengunjuk rasa yang terluka dilaporkan dalam kondisi kritis. Pria yang meninggal kemungkinan ditembak, kata Mihiri Priyangani, direktur Rumah Sakit Pendidikan Kegalle, kepada kantor berita Reuters.

“Kami menduga ada luka tembak, tapi perlu pemeriksaan post-mortem untuk memastikan penyebab pasti kematiannya.”

Ribuan pengendara dan pengemudi bus yang marah membakar ban dan memblokir jalan raya terdekat yang menghubungkan ibu kota Kolombo dengan kota Kandy.

Sri Lanka, sedang bergulat dengan krisis ekonomi terburuknya sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948.

Hal ini sebagian disebabkan oleh kurangnya mata uang asing, yang berarti bahwa Sri Lanka tidak mampu membayar impor makanan pokok dan bahan bakar, yang menyebabkan kelangkaan akut dan harga yang sangat tinggi.

Dengan pemadaman listrik yang berlangsung setengah hari atau lebih, kemarahan publik meningkat.