Berita

 Network

 Partner

Presiden Jokowi Minta Kabinetnya Bekerja Lebih Keras
Foto: Humas Kemensetneg

Presiden Jokowi Minta Kabinetnya Bekerja Lebih Keras

Berita Baru, Jakarta — Presiden Joko Widodo meminta Kabinetnya untuk memiliki sense of crisis yang sama dan bekerja lebih keras lagi. Hal tersebut disampaikan saat presiden mengingatkan jajarannya ditengah kondisi dunia yang sedang mengalami krisis, terutama di bidang kesehatan dan ekonomi.

“Pada kondisi krisis, kita harusnya kerja lebih keras lagi. Jangan kerja biasa-biasa saja. Kerja lebih keras dan kerja lebih cepat. Itu yang saya inginkan pada kondisi sekarang ini. Membuat Permen (Peraturan Menteri) yang biasanya mungkin 2 minggu ya sehari selesai, membuat PP (Peraturan Pemerintah) yang biasanya sebulan ya 2 hari selesai, itu loh yang saya inginkan,” kata Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/7).

Presiden juga mendorong supaya Kabinet Indonesia Maju tidak hanya bekerja dengan menggunakan cara-cara yang biasa, tetapi dengan membuat terobosan dalam melaksanakan prosedur, misalnya dengan menerapkan smart shortcut.

“Kita harus ganti channel dari ordinary pindah channel ke extraordinary. Dari cara-cara yang sebelumnya rumit, ganti channel ke cara-cara cepat dan cara-cara yang sederhana. Dari cara yang SOP (standar operasional prosedur) normal, kita harus ganti channel ke SOP yang smart shortcut. Gimana caranya? Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara lebih tahu dari saya, menyelesaikan ini. Kembali lagi, jangan biasa-biasa saja,” ungkapnya.

Adapun di bidang ekonomi, Presiden Jokowi menyebut bahwa prediksi ekonomi dunia kurang menggembirakan. Hal tersebut berdasar informasi yang Presiden terima dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), kontraksi ekonomi global diprediksi mencapai minus 6 hingga 7,6 persen.

Berita Terkait :  PSBB Total Diterapkan, Taman Wisata Ancol Umumkan Tutup

“Kalau kita ini tidak ngeri dan menganggap ini biasa-biasa saja, waduh, bahaya banget. Belanja juga biasa-biasa saja, spending kita biasa-biasa saja, enggak ada percepatan,” ujar presiden.

Diketahui, Indonesia sudah mengalami kontraksi ekonomi di kuartal pertama, yaitu di mana ekonomi Indonesia berada di angka 2,97 persen, turun dari yang biasanya 5 persen.

Meski angka di kuartal kedua belum keluar, Jokowi tetap mengingatkan supaya tetap berhati-hati mengingat terdapat penurunan permintaan, penawaran, dan produksi.

“Dari demand, supply, production, semuanya, terganggu dan rusak. Ini kita juga harus paham dan sadar mengenai ini. Karena apa? Ya mobilitasnya kita batasi. Mobilitas dibatasi, pariwisata anjlok. Mobilitas dibatasi, hotel dan restoran langsung anjlok, terganggu. Mal ditutup, lifestyle anjlok, terganggu,” ungkap Jokowi.

Berita Terkait :  Presiden Jokowi Ancam Reshuffle, BMI: Tidak Layak Disampaikan di Publik