Potret Toleransi, Umat Lintas Agama di Gresik Berbagi Ketupat di Gereja

-

Berita Baru, Gresik – Potret toleransi antar umat beragama terjalin sangat baik di Kabupaten Gresik. Potret itu tergambar dalam kegiatan kupatan yang dilaksanakan oleh GusDurian dan Forum Masyarakat Gresik Cinta Keberagaman (Formagam) Gresik bekerjasama dengan pengelola Gereja Kristiani Jawi Wetan (GJKW) Jalan Panglima Sudirman Gresik.

Suasana hangat kebersamaan dan kebahagiaan begitu terasa dalam acara yang dihadiri Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah dan sejumlah perwakilan tokoh lintas agama di Kabupaten Gresik itu. Acara juga diisi dengan membagikan ketupat kepada para peserta yang hadir.

Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah dalam sambutannya memberikan apresiasi kegiatan dalam rangka menyemarakkan hari raya Idul Fitri 1442 Hijriyah tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wujud toleransi dan kerukunan umat beragama di Kabupaten Gresik.

Berita Terkait :  Berpamitan, Gus Yani Kembalikan Fasilitas Dinas

“Saya sangat apresiasi terhadap kegiatan ini, karena kegiatan lebaran ketupat di gereja ini menjadi bentuk toleransi dan kerukunan umat lintas agama di Kabupaten Gresik,” ujar Wabup Bu Min.

Wakil Bupati perempuan pertama di Gresik ini berharap, jalinan silaturrahim antar umat beragama di Kabupaten Gresik terus-menerus dijalin, sehingga kerukunan dan persaudaraan semakin kuat.

Berita Terkait :  Menolak Relokasi, Pedagang Pasar Balongpanggang Minta Pasar Kembali Beroperasi

Dengan begitu, diharapkan bisa mewujudkan kebersamaan menuju Gresik baru yang lebih baik. “Ini yang kesekian kalinya saya bertemu dalam acara kebersamaan bersama tokoh lintas agama, mudah-mudahan jalinan silaturrahim terus menerus dirajut, sehingga bisa bersama-sama membawa Gresik lebih baik,” paparnya.

Koordinator GusDurian Gresik, Khoirul Anwar menuturkan, kegiatan ini menjadi bentuk toleransi dan ruang sinergi umat lintas agama di Gresik untuk terus merawat keberagaman bangsa.

Berita Terkait :  ICMI Jayapura: Menjaga Papua Demi Kutuhan NKRI

“Segala perbedaan berbagai suku ras dan golongan harus saling bersaudara dan saling menyayangi, dan ini terbukti terjalin baik di Kabupaten Gresik,” kata Gus Irul sapaan akrab Khoirul Anwar.

Gus Irul menyebutkan, tradisi kupatan di hari raya Idul Fitri sudah ratusan tahun dilakukan oleh umat islam. Makanan khas yang disajikan yakni ketupat memiliki makna tersediri.

“Kupat artinya simbol tradisi orang jawa, artinya ketupat adalah ngaku lepat (mengakui kesalahan) untuk saling memaafkan, kemudian ketupat mempunyai makna laku papat, Lebaran (berakhir), Leburan (melimpah ruah), Leburan (melebur dosa-dosa), Laburan (bersih hati dan fikiran) dan menjaga kesucian,” terangnya.

Berita Terkait :  Demi Warganya, Kades di Gresik Jual Mobil Pribadi untuk Beli Beras

Sementara itu, Ketua Formagam Gresik Djoko Pratomo memaparkan, nuansa kegiatan ini menghadirkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Gus Dur. Sebab, cerminan toleransi dan kasih sayang sesama umat beragama terpancar dalam forum ini.

Berita Terkait :  Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Edi Tabur Bibit Ikan Di Sungai Kapuas

“Kami tidak pernah merasa tidak pernah berbeda, karena kami bersaudara dan selama ini kerukunan umat beragama di Gresik terjalin dengan baik, dan kami merasa bersama-sama, hal itu dibuktikan dengan selama 5 tahun kami berdiri bisa mengadakan kegiatan dimanapun,” ucap Djoko.

Wujud toleransi, lanjut Djoko, dibuktikan dengan semangat gotong royong warga sekitar gereja membuat hidangan ketupat dan opor ayam untuk disajikan kepada para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.

“Semua hidangan ini dibuat oleh warga sekitar gereja dengan penuh sukarela, ini menandakan bahwa kerukunan sangat terjalin disini,” tutupnya.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments