Postpartum | Puisi-Puisi Lailatul Kiptiyah

Photo by Steve Johnson on Unsplash

Berita Duka

tanah rapat memeluk akar
akar teguh menopang batang
batang menjulur tinggi meretas
garis pandang

di bawah langit terang, kita yang
kecil melangkah
jatuh melewati pundak, daun-daun
kering menuju ke tempat rebah

sedang di tanah lapang,

tangan-tangan kembang terulur
merangkum
yang berpulang

Ampenan, Februari 2021

Caladium

yang tergambar dari berlembar-lembar caladium
adalah bercak merah dan putih
serupa paras doa: sabar dan bersih

selepas mati suri, umbi kembali membiak diri
bertunas menegarkan batang
daun-daun belajar melebar, bermusim menopang
peluh-peluh embun

yang tiba dini hari
sebelum akhirnya menitis ke sepasang
matamu yang rabun

hening, dingin dan perih

seperti ciuman kekasih
yang tak tertolak, datang dan pergi
berkali-kali

Ampenan, 2020-2021

Memisahkan Anak Aglonema

seperti kanak yang menatap
keluar jendela
kukenalkan ia pada tanah lain
sebuah dunia paling ramah menyapanya

kutabur ke atas kakinya
humus yang kaya:

cangkang telur, kulit bawang, ampas teh
daun-daun kering dan sisa sayuran terakhir

agar tiga lembar daun tubuhnya yang bercorak
tergerak menanjak

dalam pot tanah liat di bawah jendela kayu
yang dengan kerentaan tanganku
ia coba bangunkan sebuah lanskap baru

Ampenan, 2020-2021

Memandang Awan dari Teras Depan

awan berarak serupa waktu
detik membawa sedih bergerak
meninggalkanmu

di selanya kau cari seekor burung
yang terbang
menjatuhkan lagu lewat paruhnya
lagu dari seberang

rumah ibu di tepian ladang

Ampenan, Ramadhan 1441 H

Tangan Subuh

yang memelukku dengan berat
setelah ibu
adalah tangan subuh
subuh yang tak pernah terlambat
mendatangiku dari dusun jauh

Ampenan, Ramadhan 1441 H

Tali Jemuran

yang berkibaran dari
tali jemuran adalah
hidup; sedih yang mengerti
seperti debu-debu
terus dibersihkan
dari tiap lembar
yang kau kenakan

Ampenan, 2020

Postpartum

sebuah jendela membuka
cahaya memasuki jalannya

berhenti di sudut tergelap
duka sunyi paling lengkap

di langit awan merentang
barisan benih-benih hujan
di tubuhmu bilur memanjang
rahim yang melepas kepergian

ia, sepasang mata yang baru
sekejap kau cecap

beningya


namun kau, ibu

di kedalaman sakit itu
kau ciptakan taman surga

tempat ia tumbuh, bermain
menunggumu
tiba di musim- haribaan itu

Pagesangan, 2017 – 2020

Di September

di september angin melayangkan
daun-daun kering
memberi selimut pada bekas kolam
di halaman samping

rembang bertamu ke beranda rumah limas
ke sehampar bale bambu lawas

terharu pada suguhan karib
hangat wedang jahe dalam bening gelas

terseduh tangan lentur milik ibu
yang tak mampu kususut

kerut letihnya itu


Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur.  Buku puisi pertamanya “Perginya Seekor Burung” (April, 2020) masuk dalam 5 buku terpilih Anugerah Hari Puisi Indonesia 2020. Bermukim di Ampenan, Mataram dan turut menjadi keluarga di komunitas Akarpohon Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini