Poster Penyebab Stress Menjelang Pilkada

Poster Pilkada
Wahyu Eka Setyawan

Wahyu Eka S

Walhi Jawa Timur


Akhir-akhir ini saya agak mengalami guncangan secara psikis, bukan karena kehilangan pekerjaan akibat pandemi, ya itu salah satu faktor. Tapi ada faktor-faktor lain yang menjadi stimulus kondisi psikis saya, hingga mengalami kemunduran. Guncangan itu lebih parah dari patah hati yang sering saya alami, lebih hebat dari ketidakmampuan menerima jika mantan telah menemukan tambatan hati dan bahagia.

Usut punya usut, saya mencoba menelaah pelan-pelan, mengapa kok saya mengalami situasi demikian. Setelah merenung, sholat malam rajin dan meminta petunjuk dari-Nya, sebenarnya tak kunjung dapat pencerahan. Namun, tiba-tiba ada sepintas cahaya, semacam dokumenter yang muncul. Akhirnya saya pun mengetahui penyebab mengapa psikis saya terganggu beberapa hari ini.

Saya mulai runut satu persatu, dari mimpi buruk beberapa hari ini dan mimpi itu merepresentasikan hal apa. Setelah saya ingat-ingat, ternyata guncangan itu diakibatkan oleh poster calonnya calon bupati. Di setiap jalan di desa, kecamatan dan kota kabupaten di Tuban, kampung halaman saya. Ada salah satu calonnya calon bupati, memajang posternya di setiap tempat di Kabupaten Tuban. Mukanya menjadi familiar, padahal ya tidak kenal itu siapa. Tapi gara-gara poster itu saya terngiang-ngiang, terbawa saat tertidur dan menjadi mimpi buruk.

Bayangkan poster yang biasanya di dominasi oleh produk sabun, motor dan rokok, tiba-tiba kini didominasi oleh orang asing. Selain itu tentu ada pinjaman lunak, kredit motor hingga perguruan tinggi. Tak mau kalah poster orang asing itu pun tumpang tindih dengan iklan tersebut. Mereka bersaing untuk mencemari mata dan pikiran setiap orang yang melihatnya.

Berita Terkait :  Pilkada 2020 Telan Biaya Rp9,9 Triliun

Entah setan apa yang merasuki mereka hingga menjadi mimpi buruk bagi saya dan mungkin warga lainnya. Saya pun mencoba cuek, tapi kok setiap saat saya terngiang-ngiang, hingga meracuni imajinasi baik yang seharusnya muncul kala santai. Bayangkan saja, saat saya memikirkan masa depan akibat kehilangan pekerjaan saat pendemi, di mana ada bayangan indah akan melakukan kegiatan ini dan itu, tiba-tiba muncul kata “loss gak rewel” dan “masyuk Pak Eko” dengan wajah datar dari sang empu.

Bagi saya yang bukan pakar komunikasi, memang itu menjadi semacam tagline sakti yang mudah diingat, tapi esensinya apa coba. Tidak ada yang berkaitan dengan nilai yang akan diusung dan hanya sebatas tagline. Kalau mau jujur antara tagline dan foto itu tidak nyambung. Belum lagi sosok muda berjaket kuning, “lanjutkan!!!” tiba-tiba benak saya, ehm apa yang mau dilanjutkan?

Ada lagi yang pakai tagline poros perubahan dan aneka perubahan yang jargonistik. Di mana mereka yang mendaku poros perubahan, kala petani kehilangan lahannya akibat mega proyek nasional ekstraktif, semacam kilang minyak dan pertambangan. Tidak muncul batang hidung mereka sebagai social justice warrior, lipstik tetaplah lipstik yang menutupi bibir pecah-pecah akibat sariawan.

Berita Terkait :  KPU Usulkan Materi Perppu Pilkada ke Presiden

Pun ketika saya ingat tambang yang ngeri-ngeri sedap di Tuban, sepintas saya  ingat calon yang senyumnya paling menakutkan di antara calonnya calon  lainnya, seolah-olah senyumnya mengisyaratkan, “hem tambang, tambang, tambang, sila memilih wilayah mana yang nau ditambang.”

Belum lagi foto seorang calonnya calon yang pada tiap wilayah ada, yang mengaku relawan ini dan itu, seingat saya ia mendaku relawan tani, nelayan, guru, kyai kampung dan lainnya, super sekali beliau ini. Ya mungkin beliau adalah relawannya-relawan. Mukanya datar, senyumnya menggelegar, bak model professional. Tapi poster itu hantu, ia terus saja menganggu tidur saya. Hidup saya menjadi terngiang-ngiang olehnya. Bukan lagi terngiang oleh ia yang jelita, tapi olehnya yang bak hantu.

Tentu satu persatu poster itu menunjukan wujud sebuah hasrat ingin berkuasa, strategi itu pun menjadi pilihan agar kelak diingat-ingat dan dipilih rakyat. Tapi ayolah, ya enggak begitu juga. Ada proses demokratis yang perlu dilalui, idealnya pemimpin itu diajukan oleh rakyat, bukan dirinya sendiri. Entah fenomena apa ini? apakah ini yang namanya narsistik.

Karena saya pernah ingat sebuah buku yang menyebutkan jika politik, kekuasaan dan narsisme itu memiliki relasi. Di dalam Narcissm and Politics karya Jerrold Post, narsisme itu memiliki kaitan dengan ‘behavior’ atau perilaku sebagai politikus, di mana ada hasrat berkuasa yang ditampilkan, di dalam setiap apa yang ia tampakan.Tak terkecuali wujud poster hingga tagline yang gegap gempita menghiasi jalanan, tentu menjadi penyebab mimpi buruk saya selama berhari-hari ini.

Berita Terkait :  Bawaslu Rilis Indeks Kerawanan Pemilu 2020

Bagaimana tak narsis, itu mereka buat sendiri, pajang sendiri dan demi kepentingannya sendiri. Ini belum resmi kampanye, tapi jauh-jauh hari sudah ada dan tentu menganggu pemandangan. Ada yang dipaku di pohon, ada yang dipasang ngawur. Barangkali belum menjadi pimpinan saja sudah begini, lalu bagaimana kalau jadi?

Bukan hak saya menghakimi, ini sekedar pandanhan betapa proses demokrasi telah disimplifikasi atau disederhanakan dengan sekedar pamer foto dan tagline. Tapi pertanyaannya siapa akar rumput yang mengajukan mereka? representasi dari mana mereka? tidak ada yang bisa menjawab, kecuali alasan-alasan yang digunakan untuk membenarkan tindakan mereka.

Barangkali ini sudah menunjukan fenomena politik elektoral yang terpisah dari rakyat, bukan lagi rakyat mayoritas yang ribet menentukan calonnya, tapi segelitir rakyat yang punya kuasa, hak istimewa dan kekayaan saja, yang berhak maju dan berpartisipasi dalam kontes politik elektoral.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan