Berita

 Network

 Partner

Kampus Hong Kong

Polisi Hong Kong Serbu Kampus Basis Demonstran

Berita Baru, Internasional – Kepolisian Hong Kong memutuskan menyerbu gedung kampus Universitas Politeknik Hong Kong yang diduduki para demonstran, sejak akhir pekan lalu. Mereka mengepung kampus setelah sebelumnya diikuti menembak gas air mata dan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa.

Associated Press melaporkan, polisi anti huru-hara menerobos salah satu pintu masuk di tengah kobaran api di bagian dalam dan luar kampus ketika masih subuh–meski tidak sampai masuk lebih dalam ke wilayah kampus.

Demonstran merespons kedatangan beberapa polisi tersebut dengan serangan bom molotov. Tidak lama, polisi dilaporkan menahan beberapa demonstran di dalam kampus, setelah memberi peringatan bahwa semua orang yang berada di dalam wilayah kampus dapat dijerat dengan tuduhan membuat kerusuhan.

Berita Terkait :  Balita yang Hobi Bermain Gawai Memiliki Rentang Perhatian yang Pendek

Saat pagi hari, para demonstran masih menguasai sebagian besar wilayah kampus dengan beberapa demonstran membuat bom molotov selagi lainnya masih tertidur dengan mengenakan topeng gas. Dua orang lain yang berjaga membawa busur dan beberapa anak panah dan lainnya mengikuti perkembangan melalui ponsel mereka.

Rektor Jin-Guang Teng menyatakan polisi sebelumnya telah setuju untuk mengurangi penggunaan kekerasan terhadap para demonstran di dalam kampus.

Teng juga menambahkan polisi telah mengizinkan para demonstran untuk pulang, dan ia akan mendampingi para demonstran yang telah ditahan untuk memastikan kasus mereka ditangani secara adil.

“Saya harap Anda dapat menerima usulan penangguhan sementara upaya dari kepolisian dan dapat meninggalkan kampus dengan sikap damai,” kata dia, Senin (18/11).

Berita Terkait :  Dubes Rusia: Polisi Amerika Serikat Tidak Etis

Pada pukul 08.15 waktu setempat, ratusan demonstran berhamburan keluar dari dalam kampus karena berusaha melarikan diri. Akan tetapi upaya itu dihalangi dengan tembakan gas air mata dari polisi.

Akhirnya beberapa demonstran yang mengenakan topeng gas harus mengambil tabung gas tersebut dan memasukkannya dalam sebuah tas khusus. Namun akhirnya para demonstran memutuskan untuk mundur ketika melihat barisan anggota polisi dari seberang jalan.

Beberapa hari terakhir, Universitas Politeknik Hong Kong telah menjadi tempat berlindung bagi para demonstran setelah membangun halang rintang di wilayah itu.

Kepolisian kemudian mengepung wilayah kampus dan mulai bergerak setelah memberikan peringatan kepada masyarakat, yang memakai jas hujan dan membawa payung untuk pertahanan diri, agar meninggalkan wilayah tersebut pada Minggu (17/11) malam.

Demonstrasi yang semula menuntut pembatalan RUU Ekstradisi, yang kini telah dicabut, masih berlangsung di tengah upaya menekan pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, yang menolak tuntutan lain yang diinginkan para demonstran.

Berita Terkait :  Pedemo Hong Kong Beri Dukungan untuk Demonstran Indonesia

Aksi unjuk rasa tersebut semula berjalan dengan damai pada Juni lalu, tetapi semakin tegang setelah RUU sudah dicabut karena tuntutan demonstran telah meluas menjadi upaya gerakan menentang pemerintah Hong Kong dan China.

Para aktivis berpendapat RUU Ekstradisi itu merupakan contoh upaya China mengurangi praktik demokrasi dan otonomi Hong Kong, sejak wilayah khusus tersebut diserahkan dari pemerintah Inggris pada 1997.

Sumber : CNN