Polemik Laut Cina Selatan, Malaysia Pilih Bertempur Sendirian

    Malaysia

    Berita Baru, Internasional – Operasi Migas di Laut Cina Selatan mengalami kuldesak selama berbulan-bulan yang melibatkan tiga kubu: Malaysia, Cina, dan sejumlah kecil kapal Vietnam. Meskipun ketiga kubu itu bergerak diam-diam dan menghindari pandangan publik, namun operasi mereka tetap terekspos oleh publik.

    Yang menjadi masalah dari operasi tersebut adalah dua ladang migas di daerah yang diklaim oleh dua pihak: Kuala Lumpur (Malaysia) dan Hanoi (Vietnam). Ladang-ladang Migas itu berada di wilayah eksplorasi Petronas (terdaftar dimiliki oleh Malaysia) dan di dalam blok Malaysia, yakni ND1 dan ND2.

    Cina menanggapi dengan kampanye intimidasi seperti operasi yang mereka lakukan di sekitaran tambang migas Malaysia dan Vietnam tahun lalu. Operasi-operasi itu telah merebak mengganggu penambangan migas Malaysia. Bahkan kini cakupan operasi tersebut mulai mendekati daerah pantai.

    AMTI telah melacak kuldesak operasi itu dengan memanfaatkan gabuangan dari sinyal automatic identification system atau sinyal AIS Kapal (sistem identifikasi otomatis kapal) dan citra satelit komersial. Data dari pelacakan itu menunjukkan permainan kejar-kejaran yang berbahaya dan berkelanjutan hingga melibatkan kapal penegak hukum, kapal milisi, dan kapal sipil.

    Data itu tentu saja bukan merupakan gambar yang lengkap. Data itu hanya menangkap kapal-kapal yang mempunyai sinyal AIS Kapal atau yang kebetulan berada di daerah yang tertangkap gambar satelit. Sangat mungkin bahwa kapal laut, kapal udara, kapal penegak hukum, dan kapal milisi tambahan dari semua kubu telah terlibat selama dua bulan terakhir.

    Namun dari data yang diperoleh, menunjukkan citra kapal-kapal yang paling banyak terlibat dalam operasi, terutama kapal Cina Coast Guard (CCG) Haijing 5203 dan 5305. Keterlibatan itu menegaskan status baru di Laut Cina Selatan: bahwa pengembangan energi yang dilakukan oleh negara-negara Asia Tenggara di mana saja, di dalam sembilan titik imaginer Cina, akan banyak mengalami intimidasi berisiko tinggi dan gigih dari kapal penegak hukum dan kapal paramiliter Cina.

    Peta Peredaran Kapal

    West Capella, sebuah kapal pengeboran yang dioperasikan oleh Seadrill, dikelola London dan dikontrak Petronas, adalah jantung dari kuldesak. Pada Oktober 2019, West Capella mulai beroperasi di blok migas ND4 di lepas pantai Negara Bagian Sabah Malaysia.

    Dari tanggal 6 sampai 9 Desember, dua kapal CCG — Haijing 5202 dan 5403 — berpatroli di sekitar West Capella. Patroli itu mungkin sekedar bagian dari liburan mereka ketika melakukan pengawalan armada penangkap ikan. Namun patroli itu kemudian memancing keributan dengan Indonesia.

    Dengan berat hampir 5.000 ton, kapal Zhaolai 5403 adalah salah satu kapal paling menakutkan terutama dalam hal persenjataan CCG. Sementara kelas kapal Zhaojun 5202 memang lebih kecil, dengan berat 2.700 ton, tetapi kapal itu telah diberi persenjataan yang lebih baik, yakni menggunakan meriam 76-mm.

    Berita Terkait :  Amerika Gandeng Cina dalam Koalisi Pengawalan Kapal di Teluk Persia

    Pada 21 Desember, kapal pengeboran West Capella pindah ke blok ND2 untuk menjelajahi ladang migas yang disebut Lala-1. West Capella beroperasi di luar Zona Ekonomi Eksklusif 200 mil dari garis dasar pantai laut wilayah yang diklaim Malaysia dan Vietnam sebagai bagian dari landas kontinen mereka yang luas.

    Ketika kedua negara mengajukan klaim tersebut kepada Komisi PBB tentang Batas Landas Kontinen pada tahun 2009, mereka mengakui bahwa “Defined Area” mereka memang tumpang tindih dan sedang diperdebatkan. Lalu mereka setuju bahwa mereka mengajukan klaim tanpa mengurangi batas akhirnya.

    Petronas tampaknya mengabaikan perjanjian itu. Area ini juga berada dalam sembilan titik imaginer Cina (China’s Nine dash line).

    CCG segera merespons. Pada 21 Desember, kapal 5202 kembali berbelok dari tugasnya mengawal kapal-kapal penangkap ikan Tiongkok menjadi berpatroli di sekitar West Capella.

    Pada 22 Desember, Cina mengirim kapal Haijing 5203 dari Hainan ke Luconia Shoals. Luconia Shoals sendiri merupakan tempat bagi Cina mempertahankan keberadaannya yang hampir konstan di lepas pantai Negara Bagian Sarawak Malaysia.

    Selama dua bulan berikutnya, kelas kapal Zhaojun 5203 secara bergantian mengintimidiasi West Capella dan mengintimidasi operasi migas yang lebih dekat dengan Luconia Shoals.

    Sebelum berangkat untuk mulai mengganggu West Capella pada 3 Januari, kapal 5203 selama tanggal 26-27 Desember berpatroli di sekitaran blok migas SK408 yang dioperasikan oleh Sapura Energy dengan investasi dari Petronas dan Sarawak Shell.

    Kapal CCG lainnya, yang baru-baru ini dinamai Haijing 5305 (sebelumnya 46303), membuat jalan memutar untuk melecehkan West Capella pada tanggal 6 Januari. Sebelumnya kapal Haijing 5305 saat itu sedang dalam perjalanan untuk memperkuat armada nelayan Cina yang beroperasi di perairan Indonesia.

    Citra satelit juga bisa memperlihatkan mana yang tampak sebagai kapal penangkap ikan Vietnam yang dikerahkan di waktu itu untuk memantau operasi Malaysia di “Defined Area.”

    Sebagai respon, Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (Royal Malaysian Navy) mengirim KD Jebat untuk menjaga West Capella dan kapal-kapal pasokan lepas pantai yang melayaninya. KD Jebat merupakan merupakan sebuah kapal 2.270 ton penghalau rudal. KD Jebat berpatroli di daerah itu dari tanggal 5 sampai 9 Januari.

    Pada tanggal 7 Januari, data AIS menunjukkan kapal 5203 yang berpatroli di sekitar West Capella dan kapal pemasok lepas pantai, Executive Balance, mendekati dalam jarak 0,3 mil laut. Kapal CCG kemudian mundur, tampaknya sebagai respon dari munculnya KD Jebat yang berpatroli sejauh 3,4 mil laut.

    Berita Terkait :  Pesan Migrant Care Jelang Lawatan Presiden Jokowi Ke Malaysia dan Singapura

    Citra satelit yang dikumpulkan pada hari itu menunjukkan hasil dari pertemuan ini: Kapal 5203 kembali ke Luconia Shoals. Citra itu juga menujukkan dua kapal nelayan sepanjang 40 meter, yang tidak menyiarkan AIS, berkeliaran sekitar 7 mil laut di barat kapal pengeboran. Mereka tampaknya orang Vietnam, kemungkinan bagian dari milisi laut Vietnam.

    Pada 12 Januari, West Capella pindah ke timur sejauh 6,6 mil laut menuju lokasi pengeboran baru. Lokasi itu masih dalam blok ND2, namun tidak lagi di dalam wilayah “Defined Area” yang tumpang tindih dengan Vietnam.

    Pada hari berikutnya, Kapal Zhaoduan 5305 yang mengangkut lebih dari 4.000 ton melewati dekat lokasi itu. Sebelumnya, operasi armada laut penjaga kapal penangkapan ikan Cina di dekat Indonesia telah selesai. Dengan demikian, kapal 5305 memiliki misi baru.

    Kedatangan kapal 5305 itu meringankan beban kapal 5203 untuk sementara setelah sebelumnya kapal 5203 bertugas memasok Fiery Cross Reef di Spratlys selama tiga hari, lalu kembali mengintimidasi lagi operasi pengeboran West Capella pada 15 Januari.

    Tanggal 20 Januari, West Capella bergerak sekali lagi. Kali ini bergerak ke barat laut sejauh 31,7 mil laut menuju lapangan di blok ND1 yang disebut Arapaima. Arapaima merupakan lokasi yang berada di dalam wilayah “Defined Area” yang mana merupakan wilayah bersama Vietnam-Malaysia. Kapal 5203 mengikuti dengan patroli lain pada hari berikutnya.

    Pada tanggal 26 Januari, kapal 5305 mulai membagi waktunya antara mengintimidasi West Capella dan berpatroli di perairan dekat Vanguard Bank, yang diklaim oleh Vietnam.

    Sementara kapal 5305 mengambil alih intiminasi terhadap West Capella, kapal 5203 dari tanggal 28 Januari berfokus pada patroli di dekat operasi migas Malaysia lebih dekat ke Luconia Shoals. Kapal membuat beberapa lintasan dekat kapal Jackup Rig (rig jack-up) dan platform produksi di blok SK308 dan SK408.

    Pada saat yang sama, Angkatan Laut Kerajaan Malaysia mengerahkan kapal lain, yakni  kapal patroli kelas Kedah KD Kelantan untuk melindungi West Capella. KD Kelantan menyiarkan sinyal AIS sebentar-sebentar dari dalam blok ND1 antara tanggal 26 dan 30 Januari. Sinyal AIS menunjukkan kapal KD Kelantan meninggalkan daerah itu pada 3 Februari untuk kembali menuju Sabah.

    Pada 2 Februari, setelah perjalanan ke Fiery Cross Reef, kapal 5203 kembali ke Luconia Shoals dan terus berpatroli di dekat operasi migas Shell dan Sapura. Pada 6 Februari, Badan Penegakan Maritim Malaysia (Malaysian Maritime Enforcement Agency) mengerahkan kapal patroli sepanjang 45 meter, KM Bagan Datuk, ke daerah itu.

    Berita Terkait :  AS Kembalikan 2,8 Triliun Hasil Korupsi 1MDB ke Malaysia

    KM Bagan Datuk bertahan hingga 10 Februari, dan setidaknya pada satu kesempatan KM Bagan Datuk berhadap-hadapan dengan kapal 5203. KM Bagan Datuk kembali patroli pada 16 Februari. Pada hari yang sama, kapal 5203 akhirnya meninggalkan Luconia Shoals; Kapal 5203 itu kemudian digantikan oleh kapal Haijing 5204 kelas kapal Zhaojun yang dipersenjatai dengan baik.

    Sementara itu, kapal 5305 tampaknya mematikan sinyal AIS-nya pada tanggal 7 Februari. Namun gambar satelit pada tanggal 15 Februari menunjukkan bahwa kapal 5305 masih berpatroli di sekitar West Capella. Kapal itu diposisikan kurang dari 1 mil laut dari kapal pasokan Executive Benevolence.

    Milisi laut Vietnam juga tampaknya tetap berada di wilayah itu, dengan dua kapal sepanjang 40 meter yang beroperasi di sekitarag kapal CCG dan West Capella.

    Sebuah kapal penangkap ikan Cina bernama Lurongyuyun 50018 meninggalkan Hainan pada 15 Februari. Lalu kapal itu tiba di ND1 keesokan harinya.

    Data sinyal AIS dari tanggal 17 Februari menunjukkan Lurongyuyun 50018, yang tampaknya merupakan anggota milisi laut Cina, mendekati West Capella dan beberapa kapal pasokan lepas pantai yang mengawalnya.

    Kapal nelayan juga tampaknya telah berinteraksi dengan kapal 5305. Kapal 5303 kemudian menuju ke Fiery Cross Reef untuk memasok. Sementara itu, kapal 5302 sedang dalam perjalanan dari Luconia Shoals ke Hainan.

    Pada saat tulisan ini dipublikasikan, Sabtu (22/02), kuldesak di Laut Cina Selatan masih berlangsung. West Capella dan kapal pasokan lepas pantainya terus beroperasi di blok ND1.

    Kapal-kapal milisi Vietnam tetap berada di stasiun pemantauan dan kemungkinan menuntut untuk menghentikan pekerjaannya.

    Milisi Cina dan kapal-kapal penegak hukum (CCG) terus melakukan pendekatan berbahaya dekat dengan kapal Jackup Rig dan terus menambah pasokan kapal.

    Tindakan itu menciptakan risiko tabrakan seperti yang terjadi selama operasi migas lainnya selama setahun terakhir.

    Sejauh ini, pemerintah Malaysia tampaknya bertekad untuk melanjutkan eksplorasi. Tetapi Cina merespon dengan mengirim pesan bahwa produksi aktual migas di blok ND1 dan ND2 akan berisiko berisiko tinggi bagi aktor komersial, termasuk Petronas. Motivasi Cina dan Vietnam tampak jelas.

    Pertanyaan terbesar adalah mengapa pemerintah Malaysia memilih untuk mengabaikan semangat berkoalisi dengan Vietnam seperti tahun 2009. Sehingga mengesankan adanya solidaritas yang lemah dari negara-negara Asia Tenggara dalam hal perselisihan migas di Laut Cina Selatan dengan Cina.


    PenerjemahIpung
    SumberCSIS

    Tinggalkan Balasan