PMII Gresik Aksi Galang Dana Bantu Korban Banjir Bandang di NTT dan NTB

    Berita Baru, Gresik – Musibah melanda Flores Timur, Nusa Tenggara Timur dan Bima, Nusa Tenggara Barat. Banjir bandang dan longsor menerjang beberapa wilayah di provinsi tersebut.

    Prihatin dengan kondisi itu, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Gresik tergerak membantu para korban dengan menggalang dana di lampu merah perempatan dekat pintu Tol KLBM (Krian-Legundi-Kebomas-Mojokerto) Kebomas, Gresik, Selasa (6/4).

    Ketua Cabang PC PMII Gresik, M Sholihul Hadi mengatakan, bencana tersebut memantik perhatian dan kepedulian apalagi telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Dampak yang lain pun cukup besar dan meluas.

    “Dengan penggalangan donasi untuk Rakyat NTT ini, setidaknya mampu meringankan beban korban yang terkena bencana, serta mampu untuk mengabarkan kepada rakyat bahwa bencana terjadi bukan alamiah saja, tetapi ada perubahan yang di dasari atas ulah tangan manusia serta eksploitasi alam yang berlebihan,” katanya.

    Ia menilai, bencana yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia bukanlah murni faktor curah hujan tinggi saja, melainkan ada ketidakseimbangan alam disebabkan eksploitasi besar-besaran untuk tambang dan lain sebagainya.

    “Seperti bencana-bencana sebelumnya, pemerintah selalu mengatakan bahwa bencana alam yang terjadi adalah ujian dari Tuhan, faktor curah hujan tinggi, dan berbagai alasan khas pemerintah yang lain untuk menutupi fakta kongkrit yang sebenarnya, yaitu ketidakseimbangan alam, yang disebabkan eksploitasi alam besar-besaran, seperti kerusakan alam akibat ulah tuan tanah besar untuk perkebunan besar dan tambang ini,” paparnya.

    Hadi mengungkapkan, selama 20 tahun terakhir setidaknya kerusakan hutan di Nusa Tenggara Timur mencapai 15,163,65 hektar, dari luas hutan dan lahan seluas 2.109.496.76 hektar. Sedangkan, hingga awal 2018, wilayah NTT masih dikepung 309 masala izin tambang yang tersebar di 17 kabupaten, termasuk kabupaten Flores.

    “Padahal, sebagai negara dengan kondisi geografis yang memang rawan akan bencana alam, pemerintah seharusnya melindungi alam yang berfungsi sebagai penangkal alami dari berbagai bencana yang mengancam kehidupan, dan melakukan berbagai penelitian ilmiah, melalui kampus-kampus, yang bertujuan untuk mendeteksi bencana yang sewaktu-waktu mengancam,” tandasnya.

    Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menurut update data pada Senin (5/4/2021) kemarin, tercatat korban meninggal dunia akibat bencana ini sebanyak 44 orang. Bencana tersebut juga membuat 256 jiwa mengungsi di Balai Desa Nelemawangi dan sejumlah warga lain mengungsi di Balai Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng Kabupaten Flores Timur, NTT.

    Sementara bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Bima, NTB. Hingga Minggu (4/4), Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bima mencatat ada dua orang yang tewas akibat bencana di wilayah provinsi itu.

    Facebook Comments
    - Advertisement -

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini