Pertobatan Mak Lampir | Cerpen Yuditeha

-

Sudah menjadi kesepakatan, hari itu Kumba dan Champa bertemu di Kafe Mainmain yang beralamat di Jalan Sukun Raya, Banguntapan. Sebuah kafe yang tempatnya dekat persawahan. Tak lama setelah mereka bertemu, dengan perkataannya, Champa membuat kaget Kumba. Tentu saja Kumba tidak percaya ketika Champa, gadis yang dicintainya itu tiba-tiba mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah Siti Lampir Maimunah.

“Itu nama asliku sebelum berubah menjadi Mak Lampir,” tambah Champa.

“Ngaco kamu,” sahut Kumba sembari mrenges.

“Kenapa?”

Misteri Gunung Merapi, memang cerita yang sangat populer saat aku kecil.”

“Terkhusus yang menyangkut diriku, itu sungguhan. Cerita yang kamu sebut adalah kisahku setelah pergi dari Gunung Marapi di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.”

“Kalau ingin nge-prank yang lebih logis, dong. Biar aku bisa mlongo.”

“Tapi jika kamu tidak percaya, kamu bisa mengabaikannya.”

Perbincangan mereka sebentar terhenti ketika dua cangkir Kopi Senncoin Gayo Honey pesanan mereka datang. Setelahnya, Kumba sengaja mengalihkan topik perbincangan sampai waktunya berpisah.

Pada saat Kumba sendiri, meski dia tak pernah membayangkan apa yang Champa katakan benar tetapi hal itu rupanya timbul tenggelam dalam benaknya. Pada saat dia kepikiran, beberapa kali dia sengaja mencari informasi di internet perihal Mak Lampir melalui ponselnya.

Ketika Kumba membaca cerita Mak Lampir, ternyata sesuai dengan apa yang Champa kisahkan. Karenanya, Kumba menjadi tahu bahwa sesungguhnya Mak Lampir dulunya putri yang cantik. Dia mencintai seorang lelaki yang sebenarnya juga mencintainya. Sayang, cinta mereka tidak kesampaian karena orangtua lelaki tidak merestui. Hal itu membuat Mak Lampir pergi ke hutan untuk menyepi dan berguru, hingga akhirnya menjadi sakti.

Sampailah pada saat Mak Lampir bertemu lagi dengan lelaki yang dicintainya dalam sebuah pertempuran, tapi lelaki itu mati terbunuh. Mak Lampir yang sakti berusaha menghidupkan lelaki itu. Ironisnya, ketika lelaki itu hidup lagi, justru tidak bersedia menerima cinta Mak Lampir. Kekecewaan itulah yang akhirnya membuatnya menjadi jahat dan pergi berkelana ke Gunung Merapi di Jawa.

Meski cerita itu sama dengan apa yang dikisahkan Champa tapi di dalam hati Kumba tidak lantas memercayai pengakuan Champa yang mengatakan bahwa dirinya adalah Mak Lampir. Kumba menganggap apa yang Champa lakukan sebagai guyonan yang gagal.

Meski begitu, tampaknya setiap mereka bertemu, Champa tidak menyerah. Dia terus meyakinkan kepada Kumba bahwa dirinya benar-benar Mak Lampir. Bahkan terkadang Champa terkesan memaksakan diri agar Kumba percaya atas apa yang dia katakan. Seperti yang terjadi di pertemuan berikutnya, yang kali itu bertempat di Kafe Basabasi Sorowajan.

“Apa yang membuatmu tidak percaya?” tanya Champa.

Berita Terkait :  Kisah Kemurungan Dunia | Puisi: Faisal Kamandobat

“Satu-satunya alasan yang kuat, karena Mak Lampir hanya legenda, yang tidak pernah benar-benar ada,” jawab Kumba berusaha serius.

Berita Terkait :  Perempuan Tua di Jembatan Sungai Ōta | Cerpen: Ade Ubaidil

“Kamu yakin itu hanya cerita bohong?”

Kumba terdiam agak lama, bahkan selanjutnya dia berusaha lagi untuk mengalihkan tema perbincangan. Tapi sebelum mereka menyudahi pertemuan itu Champa kembali mengatakan sesuatu terkait Mak Lampir.

“Ada satu informasi penting.”

“Apa itu?”

“Mak Lampir tidak bisa mati,” jawab Champa sebelum mereka berpisah.

Setelah itu, setiap kali ada kesempatan mereka tetap janjian bertemu, dan setiap kali mereka sudah bersama, Champa selalu bicara perihal Mak Lampir. Karenanya, lambat laun Kumba seperti mulai terpengaruh. Meski begitu Kumba tidak lantas percaya dengan pengakuan Champa, namun terkadang Kumba memang terpancing untuk bertanya-tanya perihal Mak Lampir. Bagi Kumba setidaknya hal itu bisa menjadi penuntas rasa penasaran terhadap kelanjutan kisah nenek yang terkenal dengan tawa yang mengerikan itu.

“Jadi bagaimana ceritanya Mak Lampir berubah menjadi seperti kamu sekarang, dan mulai kapan hal itu terjadi?” tanya Kumba.

“Semua itu bermula dari penyesalanku,” jawab Champa.

“Mak Lampir menyesal?”

“Seperti yang orang-orang tahu, Mak Lampir menjadi sosok jahat dan ditakuti. Semakin lama semakin sedikit yang sudi berteman, bahkan akhirnya tidak ada yang berkenan. Pada titik tertentu, muncul keinginan dalam diriku untuk bertobat.”

Lalu Champa meneruskan ceritanya. Katanya, puncak dari keinginan tobat terjadi pada tahun 2006, pada saat Gunung Merapi mengalami erupsi. Champa mengatakan bahwa letusan Merapi pada saat itu sempat memuntahkan material yang cukup banyak, dan dia memperkirakan jarak luncur awan panas sampai ke daerah pemukiman terdekat.

“Gempa per hari saat itu mencapai puluhan kali.” Usai Champa mengatakan itu,  sempat menghela napas panjang. “Dan pada saat itulah aku memutuskan bertapa. Meminta ampun kepada Sang Kuasa,” lanjutnya.

“Lalu kapan kamu mulai masuk Kota Yogya ini?” tanya Kumba seperti lupa dengan keyakinannya.

“Masih lama. Tapaku sempat terjeda erupsi Merapi yang terjadi pada tahun 2010.”

“Lama sekali.”

“Itu belum seberapa. Mungkin karena kejahatanku bukan main-main hingga pertobatanku tak kunjung dikabulkan. Aku masih ingat, erupsi Merapi tahun 2010 ternyata lebih dahsyat, dengan memuntahkan banyak material, dengan jarak luncur awan panas sampai ke daerah perkotaan. Bahkan gempa yang terjadi per harinya mencapai ratusan kali. Hal itulah yang membuat tapaku sempat terganggu.”

“Kamu melanjutkannya?”

“Benar, dan itulah tapaku yang terlama, setelah ratusan tahun tidak melakukannya.”

Setelah itu Champa mengatakan bahwa tapa itu dia sudahi pada tahun 2018, bertepatan dengan Merapi yang kembali mengalami erupsi. Letusan pada saat itu menurutnya memang tidak sebesar letusan-letusan sebelumnya.

Berita Terkait :  Di Keramaian yang Sial | Cerpen Endri Maeda

“Kamu sudahi tapamu? Apa yang terjadi?”

“Benar, karena aku merasa pertobatanku sudah terkabul.”

“Tahu dari mana?”

Champa bilang, ketika sejenak terjaga dari tapa, dia mendapati dirinya berubah seperti yang sekarang. Lalu dia menambahkan penjelasan bahwa wujud yang sekarang adalah wujud aslinya dulu. Jika dalam cerita disebutkan wajah Siti Lampir Maimunah sangat cantik, begitupun yang saat itu Kumba lihat. Perempuan yang sedang bersamanya memang benar-benar cantik. Hal itu pula salah satu yang membuat dia terpikat.

Berita Terkait :  Monster dan Burung-Burung Nasar

“Lalu kapan kamu mulai masuk kota ini?” Kumba mengulangi pertanyaan yang sudah ditanyakan sebelumnya.

“Tepatnya tanggal 21 Juni kemarin. Usai Merapi mengalami erupsi. Aku masih ingat, hari itu Merapi mengalami erupsi dua kali, yang pertama pukul 09.13, dan kedua pukul 09.27.”

“Sampai hafal begitu?”

“Karena itu kuanggap hari istimewaku,” jawab Champa

Sebelum mereka menyudahi pertemuannya, Champa menyampaikan sesuatu mengenai dirinya. Kata Champa, perubahan yang terjadi pada dirinya ternyata bukan hanya fisik tetapi juga pengertian yang ada di dalam pikirannya. Dia menjelma perempuan cerdas yang langsung bisa memahami kemodernitasan saat ini, termasuk dalam bahasa dan pemikiran. Oleh karena itu dia bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi di Gunung Merapi dengan telaah Ilmu Geografi.

Setelah itu Kumba mulai bingung dengan pendiriannya. Pikirnya, jika tetap tidak percaya dengan Champa, dia merasa apa yang Champa katakan seperti memang benar-benar terjadi. Tapi jika dia percaya, pemikiran tentang kelogikaanlah yang tidak sedikit pun bisa menerima. Namun, karena Kumba tidak mau dibuat pusing, dia memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Setiap mereka bertemu, yang Kumba pikirkan hanya tentang pribadi. Pikirnya, Champa memang nyata di hadapannya. Bahkan yang lebih banyak berkecamuk dalam benaknya, terkait kecantikan Champa yang menurutnya sudah pasti menjadi perhatian banyak orang. Setidaknya ada tanya dalam hatinya, sudah pernahkah Champa dicintai oleh lelaki sebelum dirinya. Karena itu, ketika mereka bertemu lagi di Kafe Mainmain, Kumba memberanikan diri bertanya perihal tersebut.

“Sebelumnya aku tidak tahu, jika pertobatan itu akan mengembalikan kepada wujud asliku, termasuk aku tidak tahu bagaimana jalan hidupku selanjutnya,” jawab Champa.

“Aku tidak mengerti,” sahut Kumba.

 “Sejak Juni hingga sebelum bertemu kamu, ada beberapa lelaki yang mendekatiku, bahkan akhirnya mengungkapkan cintanya.”

“Terus?”

“Bermula dari keinginanku agar mereka tidak kecewa, lantas aku menceritakan siapa jati diriku sebenarnya, sama halnya yang kuceritakan kepadamu. Sebagian besar dari lelaki itu langsung menjahuiku dengan berbagai alasan, bahkan ada yang bilang aku tidak waras. Kepada lelaki yang masih bertahan, aku mengatakan bahwa dalam tubuhku sebenarnya memang bersemayam penyakit.”

Berita Terkait :  Hari Ulang Tahun Dalvosa | Cerpen: Erwin Setia

“Apakah dari mereka ada yang kamu cintai?”

Champa langsung menggeleng. “Tapi entah mengapa, kepadamu perasaanku lain. Aku merasa kamu lelaki yang baik,” kata Champa kemudian.

“Apakah itu artinya kamu menerima cintaku?” tanya Kumba sembari tersenyum.

“Aku belum tahu,” jawab Champa sembari pandangannya lurus ke depan, melihat hamparan sawah yang ditumpuhi padi, dengan daunnya yang mulai menguning.

“Maksudmu?’

“Karena aku belum tahu perasaanmu setelah kamu mengetahui bahwa aku sebenarnya memang sakit. Sesungguhnya aku hanya ingin kamu tidak kecewa.”

 “Bagiku tidak masalah.”

Berita Terkait :  Catatan Seorang Anak

Champa tersenyum manis.

“Jadi, apakah sekarang kamu menerima cintaku?”

“Kamu tidak akan menyesal dengan keputusanmu?”

“Aku akan menanggung segala risikonya.”

“Baiklah.”

“Kok baiklah?”

“Aku menerima cintamu, terlebih karena aku juga mencintaimu.”

Dua hari setelah mereka menjadi sepasang kekasih, Champa ternyata benar-benar jatuh sakit. Tubuhnya terbaring lemas, dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Kumba mendengar kabar itu gegas menjenguknya.

“Apa yang terjadi?” tanya Kumba dengan perasaan yang tak menentu.

“Aku ingin minta maaf padamu,” sahut Champa.

“Tak ada yang perlu dimaafkan.”

“Tidak, tidak,” ucap Champa sembari menggeleng-geleng.

“Ada apa sebenarnya?”

“Aku tidak yakin, tapi mungkin bisa jadi ini konsekuensinya.”

“Aku tidak mengerti.”

Dengan ucapan yang terbata-bata, Champa berusaha menjelaskan, setelah dia kembali ke wujud aslinya, ternyata laku pertobatannya belum selesai. Champa bilang, hal itu memang tidak diceritakan kepada siapa pun, termasuk kepada Kumba, Karenanya, Champa meminta maaf. Champa menjelaskan, hal itu memang tidak boleh diceritakan sebelum mereka menjadi sepasang kekasih.

“Mengapa?” tanya Kumba.

Menurut penjelasan Champa, pertobatannya akan sempurna jika ada seorang lelaki yang benar-benar tulus mencintainya. Jika dia sudah yakin dengan ketulusan cinta lelaki itu dia harus menerimanya untuk menyempurnakan laku tobat.

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Kumba lagi.

“Setelah aku sadar dengan perubahanku, ada suara yang menggema dalam alam gaib yang mengatakan hal itu.”

Kumba bergeming.

Champa menerangkan lagi, jika sebelumnya dia tidak bisa mati, dengan cinta tulus Kumba dia benar-benar berhasil kembali menjadi manusia. “Dan saat ini mungkin waktu kematianku,” lanjutnya.

“Tidak Champa, tidak!”

“Maafkan aku.”

Perasaan Kumba semakin tidak keruan, saking bingungnya dia sampai mengatakan bahwa dia tidak mencintai Champa. Dia hanya pura-pura mencintainya. “Hiduplah Champa. Hiduplah. Aku tidak mau kehilangan kamu!” lanjutnya.


Yuditeha merupakan seorang pegiat Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 17 buku. Buku terbarunya Sejarah Nyeri (Marjin Kiri, 2020), dan Tanah Letung (Nomina, 2020)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU