Perkuat Narasi Damai di Dunia Digital, Wahid Foundation Gelar Content Creator Workshop

-

Berita Baru, Jakarta – Dalam rangka kompetensi dan kontribusi para ulama, sarjana, dan pendakwah Islam dalam menciptakan narasi perdamaian dan pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan, Wahid Foundation kembali menyelenggarakan kegiatan Content Creator Workshop virtual via google meeting Jumat, 11 Juni 2021. Kegiatan ini diselenggarakan oleh  Wahid Foundation dengan dukungan dari United Nations Development Programme (UNDP), Uni Eropa (UE), dan Google.

Acara Content Creator Workshop ini dibuka oleh  Manajer Kebijakan Publik Google Indonesia Danny Ardianto. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa sebagai sebuah platform terbuka, YouTube menjadi sarana untuk setiap orang mengekspresikan apa yang menjadi aspirasi dan pandangannya.

“YouTube sendiri sebagai sebuah platform yang terbuka, kemudian memang diciptakan untuk memberikan ruang bagi  setiap orang, siapa saja, untuk menyuarakan apa yang menjadi aspirasinya dan apa yang menjadi pandangnya, sehingga mereka bisa terhubung dengan siapa pun di seluruh dunia,” ucap Danny.

Danny juga menjelaskan bahwa meskipun YouTube didesain sebagai platform yang terbuka untuk semua orang, tetapi pada saat yang sama muncul kesempatan dan tantangan sekaligus. Kesempatan misalnya keterbukaan yang luas dan kemudahan menyampaikan aspirasi, tetapi pada saat yang sama punya tantangan terhadap hal-hal negatif. Dari youtube sendiri memiliki pedoman komunitas terkait konten apa saja yang diizinkan youtube atau tidak.

Berita Terkait :  Wahid Foundation Gelar Training Pencegahan Ekstremisme Kekerasan dan Literasi Hukum

Danny mengatakan, “Dari situlah (keterbukaan youtube) muncul kesempatan dan juga tantangan. Kesempatan misalnya, kita bisa terbuka sekali, kita bisa mudah menyampaikan aspirasi kita, tetapi pada saat yang sama, sebagaimana kita ketahui mempunyai tantangan terhadap hal-hal negatif. Ini ada banyak, dari youtube kita punya apa yang disebut sebagai pedoman komunitas, kalau dalam bahasa Inggris youtube works, untuk memahami apa saja yang konten yang diizinkan youtube dan juga kebijakan-kebijakan youtube.”

Berita Terkait :  Promosikan UU Cipta Kerja di APEC, Jokowi Undang Investor ke Indonesia

Danny menjelaskan bahwa ujaran kebencian dan terorisme adalah dua hal yang juga menjadi fokus youtube untuk ditanggulangi. Ada dua hal terkait hal ini yang dilakukan youtube. Pertama, meningkatkan sistem untuk mendeteksi konten yang mungkin melanggar kebijakan youtube (misalnya, terorisme, ujaran kebencian, penipuan, pornografi, dsb). Kedua mengimbangi dengan konten positif, khususnya dalam hal terorisme.

Sementara itu, Direktur Operasional Wahid Foundation Mujtaba Hamdi yang juga sebagai pembicara di sesi radikalisasi di Indonesia dan kekuatan kontra narasi mengungkapkan kekhawatirannya terkait banyak sekali pesan-pesan kebencian dan kekerasan itu disebarkan di berbagai platform yang tertutup, di mana platformnya sendiri tidak bisa melakukan sensor atasnya.

Berita Terkait :  Promosikan UU Cipta Kerja di APEC, Jokowi Undang Investor ke Indonesia

“Kita temukan cukup banyak pesan-pesan (kebencian dan kekerasan) di berbagai platform digital, baik yang terbuka, berbasis web, web yang bisa diakses oleh siapa pun,  berbasis media sosial, artinya tidak dikunci di sana, orang yang ada di media sosial bisa lihat.  Juga beredar di berbagai platform yang terbatas,  seperti whatsapp groups dan telegram groups, atau yang lain yang tidak bisa disensor oleh platformnya. Ini cukup meresahkan, setidaknya bagi saya,” ujar Mujtaba Hamdi.

Berita Terkait :  Jateng Edufest 2021, Upaya Wahid Foundation Cegah Intoleransi di Sekolah

Mujtaba juga menjelaskan bahwa meski di platform-platform terbuka konten-konten kebencian dan kekerasan seperti kekejaman ISIS sudah hampir tidak ditemukan karena kebijakan yang ada di google atau youtube, tetapi masih ditemukan pesan-pesan intoleran yang beredar di platform tersebut yang mempengaruhi banyak orang untuk bersikap intoleran, khususnya platform yang sifatnya tertutup. Maka peran orang-orang yang moderat menjadi penting untuk memberikan warna di ruang digital yang berbeda.

Message-message yang kita sebut ekslusionis (tertutup), intoleran, eksklusionis tidak serta merta bisa dibaned. Maka itu, teman-teman ini penting sekali, yang terlibat di sini (acara), untuk memberi warna yang berbeda. Pesan-pesan di ruang digital yang berbeda, yang inklusif, yang toleran, yang kontekstual dalam beragama, yang kontekstual dalam berkebangsaan,” jelas Mujtaba.

Berita Terkait :  Indonesia Akan Luncurkan Satelit Satria I pada Maret 2023

Pembicara selanjutnya,  dari National Project Manager of Protect Project UNDP Iwan Misthohizzaman memaparkan bahwa dunia yang dibanjiri dengan informasi, seseorang harus memiliki pikiran yang kritis untuk menyaring informasi.

“Dengan banjirnya arus informasi ini, kita harus, mau tidak mau harus meningkatkan daya berpikir kritis kita. Ini bukan tanggung jawab google, youtube, facebook saja. Manusialah yang (bisa) menyortir dan memilih mana berita yang layak kita terima, kita sebar luaskan, kita yakini, dan kita amalkan,” ujar Iwan.

Berita Terkait :  Indonesia Desak Malaysia Sepakati MoU Perlindungan TKI

Acara ini diikuti oleh 48 peserta  dari berbagai elemen seperti pegiat media keislaman, pemerhati media sosial, dan tokoh agama yang selama ini aktif mengkampanyekan isu-isu perdamaian dan anti ekstremisme berbasis kekerasan di dunia digital. Sebagian peserta merupakan peserta pada kegiatan Webinar Salam Forum sebelumnya.

Acara yang dibagi ke dalam tiga sesi ini juga melibatkan mentor-mentor yang kompeten di bidangnya untuk memberikan pelatihan kepada peserta. Seperti Ririn Oscarin dari YouTube Asia Pacific,   Amanda Valani dari Head of Signature Content Narasi TV , dan Evan dari Hobby Makan Channel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU