Berita

 Network

 Partner

Perdamaian Bisa Diwujudkan dari Gawaimu
sumber: Istimewa

Perdamaian Bisa Diwujudkan dari Gawaimu

Moh. Yajid Fauzi


Di tengah revolusi industri keempat, yang digadang gadang sebagai era siber atau digital, sehingga arus informasi berkembang begitu cepat. Setiap detik pun kita menyumbang byte demi byte data internet. Dari yang hanya sekedar upload gambar makanan, artikel hingga jurnal, atau bahkan mengunduhnya. Sudah berapa byte data  internet setiap hari, setiap orang, setiap kampung, desa, kecamatan, kabupaten, negara hingga dunia, yang kita setorkan melalui Jaringan Besar menuju Data Besar?

Klaus Schwab, Executive Chairman World Economic Forum dalam artikel ilmiahnya memiliki hipotesa bahwa saat ini miliaran orang telah terhubung dengan perangkat mobile, penemuan kecepatan pemrosesan byte demi byte data internet, perkembangan besaran kapasitas penyimpanan hard drive data telah meningkatkan kapasitas pengetahuan manusia melebihi sistem konvensional yang didapatkan anak anak di bangku sekolah, bagaimana akses terhadap ilmu pengetahuan begitu terbuka secara nyata, tidak terbatas dan belum pernah terjadi sebelumnya. Semua ini bukan lagi mimpi, tetapi telah menjadi terobosan teknologi baru di bidang robotika, Internet of Things, kendaraan otonom, percetakan berbasis 3-D, nanoteknologi, bioteknologi, ilmu material, penyimpanan energi, dan komputasi kuantum. (Ristekdikti)

Artinya, kita telah memasuki rimba digit demi digit, byte demi byte, data demi data. Data data yang melayang di layar gawai inilah yang merubah pola pikir dan pola hidup kita semua. Sehingga, besar prosentasenya untuk memengaruhi kesehatan jiwa dan raga. 

Berita Terkait :  Hastag #UninstallTokopedia Jadi Tranding Twitter, Ini Penyebabnya

Apalagi, ditambahkan dengan konten konten yang kurang bermutu, sebut saja radikalisme. Radikalisme telah meramaikan peredaran internet kita. Mudah sekali kita mendapatkan informasi, berita atau konten yang berbau radikal. 

Sebelum melangkah lebih lanjut. Perlulah kita pahami bersama makna radikalisme dalam konteks ini. Radikalisme di sini bermuara pada berpikir, bertindak dan berhati keras yang mengandung unsur kekerasan yang menghujam dari ujung kepala, kaki dan rempela. Kekerasan yang menghujam dan membabi buta ini memicu adanya kekacauan atau teror di sekitar kita sehingga mengganggu keamanan berbangsa dan bernegara. Hal ini menurut para ahli bahasa disebut radikal-ekstrimis-terorisme. Singkat saja radikalisme.

Radikalisme secara nyata bisa kita lihat seperti halnya kasus teror bom Gereja di Surabaya tahun lalu. Akan tetapi, secara visual itu tidak kalah berkembang, contohnya adalah konten kebencian, hoaks dan sara di dunia maya atau media sosial kita. Mengapa radikalisme itu juga berkembang di media sosial kita? 

Saya kira itu politis, ada tiga kemungkinan. Pertama, bagian dari strategi teroris untuk mendapat perhatian dan menyebarluaskan paham terorisme. Kedua, ketidakbecusan negara dalam menyikapi perkembangan teknologi yang ada. Ketiga, kepentingan oligarki untuk membangun kekuatan politik dengan jaringan luar negeri.

Perkiraan itu bisa kalian telusuri sendiri, banyak jurnal, buku dan sumber yang menjelaskan. Di antaranya kalian bisa nonton film Jihad Selfie, buku Para Perancang Jihad (Gading) atau Pengakuan Pejuang Khilafah (Gading). Atau kalian bisa baca sejarah kelam pemberontakan DI/TII dan Permesta di Indonesia. 

Berita Terkait :  Keamanan Nasional dan Hantu Radikalisme

Radikalisme menjadi persoalan yang kompleks. Apalagi saat ini didukung dengan perkembangan teknologi dan media sosial. Di sana puing puing radikalisme tumbuh dan berkembang secara masif dan terstruktur. Konten ujaran kebencian dan sara bertebaran. Kita perlu bergandeng tangan memeranginya. 

Kita bisa memerangi terorisme visual melalui banyak hal dan cara. Selemah-lemahnya iman adalah tidak menyebar kebencian, hoaks atau sara di media sosial, serta jangan mudah percaya dengan berita yang ada. Sekuat-kuat iman adalah ia yang turut andil mengisi konten kreatif nan positif di media sosial.

Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang lemah imannya dalam memerangi radikalisme di media sosial? Pertama, jangan mudah percaya. Kedua, jangan asal sebar, coba verifikasi ke media besar terlebih dahulu, seperti Kompas, Media Indonesia, Tempo atau Jawa Pos. Ketiga, jika ada berita yang mengandung radikalisme, langsung saja laporkan ke situs ictwatch.id atau kabarkan.org. Keempat, membacalah!

Selanjutnya, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang imannya kuat untuk memerangi radikalisme? Pertama, buat akun media sosial atau situs web yang berisikan konten positif. Kedua, buat konten tulisan, gambar atau video untuk mengkonter narasi kebencian. Ketiga, lakukan dengan berjamaah, agar bisa bekerja dengan maksimal. Keempat, jika ada konten radikalisme, laporkan ke situs ictwatch.id atau kabarkan.org. Kelima, lakukan secara konsisten. 

Berita Terkait :  Melacak Akar Sejarah Radikalisme dalam Islam

Selanjutnya, konten positif seperti apa yang bisa dibuat? Banyak sekali. Anda bisa buat konten bertajuk agama atau Islam yang ramah. Selain itu, dikarenakan Indonesia adalah negara yang majemuk, kalian bisa buat konten keberagaman suku, ras dan budaya Indonesia. Jika kalian masih bingung, kalian bisa buat konten keindonesiaan, menjabarkan konsep atau nilai kebangsaan secara sederhana, seperti gotong royong, tenggang rasa dan toleransi.

Banyak hal yang bisa kita lakukan. Jangan pernah pesimis. Puluhan perusahan pembuat konten kebencian, hoaks dan sara, akan mudah dikalahkan dengan ratusan juta bangsa Indonesia yang memiliki iman yang kuat untuk memerangi radikalisme media sosial. Dengan membuat jutaan bahkan milyaran konten perdamaian melalui keberagaman agama, suku, ras, budaya dan kepercayaan di Indonesia. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. 

So, good peoples di mana pun kalian berada, hadirkan keberagaman Indonesia ini dalam lantunan gawaimu. Sejukkan gawaimu dengan konten damai penuh kasih. Karena, gawaimu adalah rumahmu. “Gawaimu adalah Sorgamu”.


Moh. Yajid Fauzi: Pegiat Literasi Hukum, Lulusan UNISMA asal Banyuwangi.