Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Perang Twit Fahri Hamzah dan Lukman Hakim soal Wadas

Perang Twit Fahri Hamzah dan Lukman Hakim soal Wadas

Berita Baru, Jakarta – Desa Wadas, Bener, Purworejo, Jawa Tengah menjadi sorotan nasional dan ramai di media sosial usai pasukan polisi bersenjata lengkap diterjunkan ke desa itu pada Selasa (8/2) untuk mengawal pengukuran lahan tambang batu andesit proyek Bendungan Bener.

Namun, anggota kepolisian tak hanya mengawal tim BPN, berdasar informasi yang beredar, mereka juga melakukan tindakan kekerasan dan menangkap warga Wadas yang dianggap memprovokasi penolakan penambangan tersebut.

Tak ketinggalan, Waketum Partai Gelora, Fahri Hamzah turut memberikan komentar terkait peristiwa Wadas. Melalui akun Twitter pribadinya, ia mempertanyakan keberadaan Anggota DPR RI dapil setempat.

“Anggota @DPR_RI dapil WADAS mana ndasmu?” tulis Fahri, Kamis (10/2) pagi.

Sontak, kata-kata Fahri yang cukup kasar itu mendapat respons langsung dari legislator Partai PKB Dapil Jawa Tengah VI yang meliputi pemilihan Purworejo, Luqman Hakim.

“Dasar politisi jenggot! Nangkring di atas tak berakar ke bawah. Kau kira represi aparat ke warga Wadas baru terjadi kemarin?,” geram Luqman, membalas cuitan Fahri.

Lebih lanjut ia menegaskan kepada Fahri, represi aparat terhadap warga Wadas juga pernah terjadi pada April 2021. Luqman menyebut sudah sejak lama pihaknya bersikap membela hak warga Wadas.

“Ri, April 2021 warga sdh alami represi aparat. Kagetmu kok baru sekarang? Telat banget! Sudah sejak lama kami bersikap membela hak warga Desa Wadas,” tegas Luqman.

Sebagai tambahan informasi, hari ini Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa) melapor bahwa sepuluh truk polisi berisi personil polisi bersenjata kembali masuk ke Desa Wadas, Bener, Kabupaten Purworejo.

Tak hanya itu, Gempadewa menyebut bahwa aparat kepolisian kembali mendatangi rumah warga dan memaksa warga untuk menandatangani surat persetujuan.

“Kondisi terkini Wadas, pagi ini datang lagi 10 truk polisi yang membawa serta personil aparat kepolisian. Sampai saat ini Wadas masih dikepung aparat polisi dan preman-preman. Kondisi sangat mencekam,” tulis akun Twitter resmi Gempadewa (@wadas_nelawan), Kamis pagi (10/2).

Gempadewa juga mengungkapkan bahwa aparat kepolisian mendatangi rumah warga yang kontra terhadap penambangan quarry untuk Bendungan Bener.

“Hari ini warga Wadas kembali menerima intimidasi. Aparat dan petugas mendatangi rumah-rumah warga kontra tambang dan memaksa warga menandatangani persetujuan tambang,” ujarnya.

Lebih lanjut Gempadewa menuturkan, kedatangan 10 personil ke rumah-rumah warga disebut memperparah trauma dan ketakutan warga.

“Kejadian itu di luar perkiraan warga dan tim LBH. Mereka mengerahkan kurang lebih 10 personel aparat dan beberapa petugas di setiap rumah. Hal ini semakin memperparah trauma dan ketakutan warga,” lanjutnya.

Dikutip dari CNN Indonesia, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Iqbal Alqudussy mengklaim pernyataan kedatangan 10 truk polisi tersebut bohong atau kabar hoax.

“Yang benar hari ini ada pengukuran terakhir BPN, kunjungan komisi 3, dan bakti sosial dari Polri dan instansi terkait,” ujar Iqbal saat dikonfirmasi.