Peradilan Keluarga Amor

Amor

Legasi Amor

Kerontang panah itu begitu berahi
Ingin melesat lampaui busurnya
Dalam bidik haus tak terperihkan
Hunjam sedalam kasih mati

Dengarlah, ini warisan tiada hitungnya
Panah amor kelebat tanpa puak
Tiada peduli moyang kenyang dan lapar
Bebas menghaus darah cinta, peneguk kepayang

Saatnya bentangkan dada-dada merdeka
Menjadi martir-martir tanpa upacara
Selaksa samsara dan takwa
Bergulung bersama desirnya

Mau dosa atau pahala
Sama saja jika mencinta
Tiada rupa yang membenda
Lihatlah, Darah juang membagi nyawa
Tak sadarkan diri tentang siapa
Hanya kuasa-kuasa tiada tuannya

Membabi buta menjilati haus padas
Tak pelak di kubah cintanya
Hanya dia Tuhan yang bercinta



Amor Omnibus Idem

Kau katakan amoral
Ketika ini tulus
Kau bilang terseret setan
Ketika rentan
Namun inilah adanya
Agama, akidah, dogma, status sosialita
Sudah tiada guna

Yang terlihat hanya cinta
Asmara yang menuhankan
Gelora yang merupa
Amor yang amoral
Nyatanya kekal
Tanpa batal

Sejutanya tiada terasa lama
Waktu sekelebatan saja
Dunia milik para pecinta
Akhirat terlihat indah saja
Neraka tiada guna membakar
Surga tiada guna menghibur

Hanya suah dengan-Mu
Memandangi Wajah-Mu
Yang katanya ini cita yang amoral
Akan kutanyakan selancip mungkin
Menembusmu hingga dalam
Apakah kau cinta aku

Wahai yang meracuniku
Dengan kepayang tiada diundang
Dendangnya begitu riuh redah ini
Seakan tak menapak bumi
Tak ditolak pintu-pintu-Mu
Berapa tinta lagi yang Kau Ingini
Untuk menulis pintu-Mu

Hai, pintu Baabus Sholat
Hai, pintu Baabur Rayyan
Hai, pintu Baabul Jihad
Menarik-narik cinta amoral ini

Berita Terkait :  Menunggu Hujan dengan Vira dan (Sebuah) Doa

Hai, pintu Baabus Shadaqah
Hai, pintu Baabul Aiman
Hai, pintu Baabul Ghaida wal Afina
Hai, pintu Baabul Ridha
Hai, pintu Baabuz Zikir
Berpintah-pinta cinta amoral ini

Tiada habis pintu terbuka
Tiada habis tinta dituliskan
Untuk memberi nama pintu-Nya
Berapa lagi Kalam-Mu lagi ter-Firman
Untuk melukis cinta-Mu
Untuk mengundang para pecinta
Cinta untuk semua


Amor vincit omnia

Seruak segala porak yang melabrak
Ijinkan untuk mengalahkan segala
Gertak menyalak segala tabrak
Ijinkan untuk mejejak tapak

Inilah persembahan cinta untuk semua
Para Sadah yang mengajarinya
Datuk-datuk yang bersembah
Inilah cinta sepenuh
Dari cawan-cawan yang penuh

Berlimpah ruah menjarah
Bagi hati yang terbuka
Mengiring matahari yang terbit
Mengawal bulan berperaduan
Pada bintang-Mu yang tak redup
Gunung berpandir, sungai berkelok
Ngarai yang menjuntai

Selaksanya adalah hamba
Renik-renik yang masih menjasad
Diksi puitis, Shakespeare, para dramawan
Seindahnya adalah cerminan
Romantisme unjuk cinta

Sastra ungu mengulik cinta
Cinta untuk semua
Persetan nonliterer bombastis dan klise
Mana cintamu, unjukkan tinggi-tinggi
Putih saja pernah terkumpul

Dari ribuan warna ketika berputar
Seperti untain tasbih, rosario atau berbijian
Sajadah terhampar, liturgi tergelar

Dan segala puja-puji hamba-Nya
Lalu mati dan mati untuk kesekian
Hidup dan mati retorika pertemuan

Berita Terkait :  Semiotika Resistensi Puisi Dareen Tatour

PuisiYudho Sasongko

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan