Pemerintah Singapura Setujui Sistem Tes Nafas Uji COVID-19

-

Berita Baru, Inovasi – Pemerintah Singapura dikabarkan telah menyetujui penggunaan sistem tes nafas yang dikembangkan oleh Breathonix, yang merupakan perusahaan startup lokal negara tersebut sebagai salah satu cara pengujian COVID-19.

Kebanyakan dari kita mungkin tahu, bahwa metode yang paling umum digunakan untuk melakukan tes COVID-19 pada seseorang saat ini adalah sistem pengujian cepat antigen atau PCR. Kedua metode tersebut berjenis invasif yaitu dengan menyeka jauh ke dalam hidung dan tenggorokan yang menurut beberapa orang mengakibatkan rasa tidak nyaman.  Oleh karena itu, mungkin tes nafas ke depannya akan menjadi solusi yang patut dipertimbangkan.

Dilansir dari Ubergizmo, metode pengujian nafas mirip dengan cara kerja breathalyzer di mana pengguna hanya perlu menghirup tabung. Kemudian dengan penggunaan software machine learning, senyawa-senyawa yang ditemukan dalam nafas seseorang akan dianalisis dan dibandingkan dengan sampel nafas seseorang yang telah dinyatakan positif COVID-19.

Berita Terkait :  Pemprov Banten Izinkan KBM Tatap Muka Khusus Sekolah di Daerah Pelosok
Berita Terkait :  Darurat Covid-19, India Umumkan Seruan Gawat Darurat

Metode ini juga menawarkan hasil pengujian jauh lebih cepat yaitu hanya dalam waktu sekitar satu menit. Selain itu tidak terlalu invasif jika dibandingkan dengan metode pengujian yang banyak digunakan saat ini.

“Pengujian COVID-19 melalui nafas ini juga diharapkan akan dapat menjadi solusi yang dapat membantu membuka kembali perjalanan,” ungkap kementerian itu, dikutip Berita Baru, Selasa (25/5/21).

Mewajibkan orang untuk melakukan karantina selama 10-14 hari ketika mereka tiba di negara baru itu jelas merepotkan dan tidak diragukan lagi akan menghalangi orang untuk bepergian, jadi metode pengujian ini berpotensi membuat segalanya lebih mudah dan lebih efisien.

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pengujian ini akan menghilangkan metode pengujian lain saat ini.

Berita Terkait :  Turki Menarik Diri dari Kesepakatan Internasional Tentang Perlindungan Perempuan
Berita Terkait :  Turki Menarik Diri dari Kesepakatan Internasional Tentang Perlindungan Perempuan

“Mereka yang dites positif melalui mesin ini kemudian akan diberikan tes PCR untuk konfirmasi tambahan. Menurut uji coba mereka sejauh ini, mesin itu ditemukan memiliki sensitivitas 93% dan spesifisitas 95%. Sistem ini akan diujicobakan untuk menyaring wisatawan yang datang dari Malaysia sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas.”

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Berita Terkait :  Sakit Radang Usus, Perdana Menteri Jepang Mengundurkan Diri

TERBARU

Facebook Comments